Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Wanita Idaman Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 ENDTHE END

Wanita Idaman Part 12

Start Wanita Idaman Part 12 | Wanita Idaman Part 12 Start

ART XII

PEMAIN PENGGANTI YANG SEMPURNA​

Aku bangun dengan kondisi tubuh yang masih terikat. Badanku rasanya sudah tak bisa diungkapkan lagi. Pegal dan ngilu karena tertidur dengan kondisi seperti ini. Mbak Rani juga sudah tidak berada di atasku lagi. Ia nampak lelap di ranjang sebelah dengan kondisi yang masih sama. Rasanya ingin mandi dan membersihkan badan tapi apa daya, aku tak bisa membuka ikatan ini sendiri. Tentu, aku hanya bisa merenung dan menerawang. Menunggu Mbak Rani bangun dari lelapnya.

Beberapa menit kemudian, Ia nampak menggeliat, membuka mata dan menatapku. Ia tersenyum, bangkit. Ia tak langsung melepas ikatanku, tapi diciuminya dulu bibirku.

“Makasih ya, Wang. Tadi malam pengalaman yang luar biasa,” Ia memelukku.

“Sama-sama, Mbak. Tapi boleh minta tolong lepasin dulu nggak?” aku tersenyum

“Oh iya. Maafin aku sayaang,” ia lekas melepaskan ikatanku.

Ah lega juga aku bisa menggerakkan tubuh semauku. Sambil berjalan menuju kamar mandi, aku meliuk-liuk, melemaskan otot yang sedari tadi kaku karena terikat. Mbak Rani hanya tertawa melihat tingkahku. Tak lama kemudian, ia menyusulku ke kamar mandi.

Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 kulihat. Karena lokasi hotel ini dekat dengan tempat acara kami dilaksanakan, meski kami hadir di acara berbeda. Kegiatan pun baru dimulai jam 8.30. Jadi masih ada waktu cukup panjang. Di kamar mandi, aku langsung memulai kegiatan. Tubuhku lengket semua. Campuran antara keringat, air liur, hingga cairan kewanitaan Mbak Rani menenpel di sana. Mbak Rani mendekat, menemaniku menikmati guyuran air. Ia tersenyum. Kami berciuman sebentar. Mengambil sabun, Ia mulai melakukan kegiatan yang sudah bisa kalian tebak. Tak mau kalah, aku juga harus mengambil peran.

Kami saling menelusuri tubuh masing-masing. Shower kami matikan. Kami fokus pada sabun dan bagian tubuh kami berdua. Tak mungkin tidak, nafsu jelas mengikuti. Niatku untuk mandi dan membersihkan badan buyar. Ia malah mulai menunjukkan keganasannya lagi. Mbak Rani memainkan Si Johny, bibirnya dengan cepat mencari bibirku. Setelah semalam, gerakan tangannya dalam memainkan penisku sudah lebih baik. Variasi antara urut, kocok lambat dan cepat juga terasa mantap. Wanita ini cepat sekali belajar.

Tiba-tiba, Mbak Rani menghidupkan shower. Sabun di tubuh kami pelan-pelan hilang. Di tengah guyuran air, Ia jongkok, dan bisa di tebak, mulutnya langsung bekerja tanpa diminta. Wanita ini memiliki sisi lain yang sangat binal. Aku jadi berpikir, sikapnya yang kalem dan cenderung malu-malu rasanya hanya untuk menutupi semua ini. Di ranjang, ia adalah lain orang. Dan rasanya aku harus berbangga karena bersamaku ia menunjukkan kebinalannya. Tenang Mbak Rani, kita akan coba hal-hal lain demi memenuhi hasratmu.

Aku dibuat merem melek dengan tingkahnya. Ini sudah lebih baik ketimbang tadi malam. Penisku tenggalam di mulutnya. Disapu oleh lidah dan ujungnya dimainkan oleh bibirnya. Ah. Geli campur ngilu. Kupegangi kepalanya, kumainkaj rambut panjang yang biasanya hanya dapat kulihat muncul sedikit saat Ia membenahi jilbabnya. Tak seperti tadi malam, kini tanganku bebas bergerak.

Mbak Rani tiba-tiba berdiri. Ia nampak tak sabaran. Ia menarik kepalaku ke bawah. Ternyata Ia ingin vaginanya dikerjai. Baiklah, mari kita mulai. Aku ingin menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya. Tadi malam, jelas gerakanku terbatas. Aku memulai dengan memainkan jari tengahku di sekitar bibir vaginanya, sambil mencari posisi klitoris. Melihat bagaimana Ia tadi malam, nampaknya tubuhnya merespon dengan cepat. Ia mulai menggeliat. Aku menemukan klitorisnya, dan kuhajar seketika itu juga.

“Aaaawwwww” Mbak Rani menjerit.

Tangannya menjambak rambutku. Tak kuhiraukan, aku fokus pada pekerjaanku. Kumainkan klitoris dan bibir vaginanya sebelum melangkah ke bagian lain. Ia mulai meliuk-liuk.

“Waaang Ohhhhh”

“Aduuuh ohhhhh terussss”

“Awaaang aaasshhhhh”

“Ohhhh ohhhhh ohhhhh”

Bibirnya meracau. Tubuhnya seperti ular. Aku kesulitan karena posisi tubuhnya tak mau dia. Kuhajar saja vaginanya terus, kubantu dengan bibirdan lidahku. Ia makin menjerit.

“Adduuuuuhhhh Ohhhhhh”

“Aaaahhhh sshhhhh”

Tak kukendurkan sama sekali, justru makin cepat. Kocok. Jilat. Dua jari, jempol juga ikut menari. Kocok lagi. Jilat lagi. Sedot. Kocok. Jilat. Kocok. Sedoot.

“AMPUUUUUUNNNN OOHHHSSSS”

Mbak Rani merasakannya juga. Seperti Dokter Ara dan Tiwi. Tubuhnya mengejang. Wajahku basah. Kali ini bukan air shower. Tapi vaginanya. Ia squirt. Dan aku belum puas mengerjai. Tanpa jeda, kuulangi terus menerus. Ia squirtlagi. Kuulangi lagi. Begitu terus sampai 5 kali.

“Awaaang ampuuuun ohhhh udaaah”

Ia memohon. Wajahnya campuran antara puas dan lemas. Aku bangkit, tersenyum. Ia mencubit perutku. Badannya yang lemas memelukku. Aku tak tahu tubuhnya basah oleh air atau keringat.

“Gimana, Mbak? Masih mau lanjut?” aku menawarinya sambil tersenyum nakal.

“Kamu ini gila. Kok bisa aku kayak gitu tadi? Itu tadi apa?” Ia heran dengan reaksi tubuhnya sendiri, sepertinya Ia memang belum pernah.

“Baru pertama kali ya?” Mbak Rani mengangguk

Aku memeluknya. Erat sekali. Kunyalakan shower, kami mandi lagi.

“Tapi aku masih pengen ini,” Ia memegang Si Johny, mulai membelainya.

“Kalau Mbak Rani masih sanggup sih ayok,” aku berbalik menantangnya.

Ia berbalik. Tangannya memegangi pintu.

“Ayo, waktu kita nggak banyak sayang,” Ia siap, aku jelas lebih siap.

Si Johny yang masih tegang sempurna mulai mendarat. Kugesek vaginanya dengan lembut.

“Uhhhh Waaang,” Ia menatapku dengan mata sayu. Nafsunya tak pernah kendur sepertinya.

Masih dengan gerakan yang sama, aku membelai bokongnya yang cukup besar. Penisku yang tak terlalu panjang rasanya tertelan tak tersisa. Bokong ini amat mempengaruhi. Aku tak yakin akan bertahan cukup lama.

“AAAWWWWWW,” ia sedikit teriak saat kuhujamkan penisku masuk.

Sambil memegangi bokong besarnya, kugenjot vagina Mbak Rani dengan tempo pelan. Ukuran bokong seperti ini sulit kukendalikan.

“Sudah berapa wanita yang ngerasain kontolmu Wang? Ohhhh” bisa-bisanya ia mengajakku berbincang di saat seperti ini. Tapi boleh juga, ini dapat mengalihkan perhatianku dari kenikmatan vagina dan bokongnya.

“Kamu yang keempat sih, Mbak,” kunaikkan tempo sedikit, lalu kuturunkan lagi.

“Ooohhhhh banyak juga yaaa, shhhhh,” Mbak Rani merem melek sambil satu tangannya memainkan payudara.

“Semua kamu bikin kayak gini? Ooowwww,” Ia mendelik, kuhentakkan penisku sedikit lebih keras

“Rata-rata selalu minta lagi sih,” sedikit kusombongkan diriku.

“Aaahh yaa gimana ohhhhh nggak minta lagi sshhhhhh,” ia berhenti sebentar, “aku sampeehh ihhhh banjir uuuuhhh,” kalimatnya makin tak terkontrol.

Tempo mulai kupercepat. Aku ingin pertempuran ini segera berakhir. Penisku sudah geli. Rasanya mau muntah saja ia. Mbak Rani menangkap gelagatku. Ia ikut memainkan tubuhnya. Tempo bertambah cepat. Sodok. Tiga tusukan dangkal satu tusukan dalam. Begitu terus. Satu tangannya terus memainkan putingnya. Mbak Rani binal sekali. Aku fokus pada gerakanku yang makin tak terkontrol.

“Waaaanng ayo cepet sayaaang ohhhh aku mau ohhhhh,” Ia nampaknya juga tak kuat.

“Mbak ooohhh memekmu kok enak ohhhh,” aku mulai meracau, ini waktunya.

Gerakan kami liar. Tubuh kami beradu cepat. Suara yang ditimbulkan juga tak jelas lagi. Sodokanku makin kacau. Tubuhnya juga kacau. Sodok. Genjot. Goyang. Putar. Maju. Sodok. Maju. Goyang.

“OOOHHHH AWAAAANG AAAAAHHHH,”

“MBAK RAAAAN AAAAUUUH”

Kami berteriak. Aku tak peduli di luar sana. Biar saja. Biar mereka berpikir macam-macam. Aku lagi enak. Kami sedang mencapai puncak.

Tubuhku ambruk. Tubuhnya rubuh. Kami terduduk di lantai. Ngos-ngosan. Nafas kami sudah senin-kamis. Mata kami terpejam. Keenakan.

Setelah membersihkan tubuh yang sebenar-benarnya, kami mulai bersiap. Dengan tubuh yang sedikit lemas, kami berusaha membuat semuanya kembali normal. Belum ada percakapan. Kami fokus mengembalikan kondisi masing-masing. Mbak Rani terlihat sibuk dengan dandanannya. Aku mulai sudah rapi. Jam sudah menunjukkan pukul 08.05.

“Berangkat sendiri-sendiri saja ya, Mbak. Nanti mencurigakan,” aku memulai pembicaraan.

“Kamu sudah ahli ya, Wang?” Ia tersenyum meledek.

“Lumayan sih. Kan khawatir juga. Lawannya pemula,” kuserang balik Ia.

Ia memajukan bibirnya. Bantal mendarat di wajahku. Aku tertawa.

“Sudah yakin mau diulangi? Aku nggak maksa sih,” aku mulai melancarkan serangan berikutnya.

“Bisa gila aku kalau ini tak diulangi. Tapi, aku takut juga sih, Wang,” Ia benar-benar ketagihan.

“Nanti kita pikirkan caranya, Mbak. Yang penting jangan sampai ganggu waktu sama suamimu, biar tidak ada yang curiga,” aku menegaskan di awal, kalau memang Ia tak siap, semua belum terlalu jauh.

“Kalau urusan itu aku serahkan padamu. Kamu lebih pengalaman kayaknya,” ia tersenyum lagi.

Kami sudah siap. Kami putuskan ia berangkat lebih dulu. Aku telat tak masalah. Masih ada satu malam lagi. Besok kami kembali ke kehidupan masing-masing. Satu yang penting, Ia terlihat tak menyesal dan tentunya ketagihan. Tambah lagi wanitaku. Selama Dokter Ara dengan suaminya dan waktu yang susah diatur bersama Tiwi, Mbak Rani bisa mengisi kekosongan. Siapa tahu juga ada yang binal-binal lagi di depan sana.

Bersambung

END – Wanita Idaman Part 12 | Wanita Idaman Part 12 – END

(Wanita Idaman Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Wanita Idaman Part 13)