Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Wanita Idaman Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 ENDTHE END

Wanita Idaman Part 11

Start Wanita Idaman Part 11 | Wanita Idaman Part 11 Start

PART XI

MENEMUKAN KUDA BINAL​

Saya percaya, tiap wanita tak akan pernah sama dalam bercinta. Menghadapi Mbak Rani, wanita yang baru pertama kali selingkuh tentu berbeda dengan Dokter Ara misalnya yang memang seorang petualang. Maka dari itu semua harus pelan-pelan, proses lebih penting ketimbang hasil. Bisa saja ia terpuaskan dengan metode yang seperti biasanya, tapi kemungkinan besar ia akan menyesal dan tak ingin mengulangi. Meski tak berharap banyak, aku ingin meninggalkan kesan. Syukur-syukur, karena lokasi kerja kami dekat, kapan saja bisa kunikmati lagi tubuhnya.

Kami berpelukan, lucunya Mbak Rani tetap tak melepas jilbabnya yang sudag awut-awutan. Tetap dengan bra yang masih menempel, kami saling mendekap. Meraba tiap tubuh masing-masing. Pelukannya menenangkan.

“Wang, aku boleh cerita nggak?” ini dia yang beda, tujuannya bukan hanya kenikmatan, tapi kenyamanan.

“Boleh, Mbak. Aku siap mendengarkan,” aku harus menjadi laki-laki sejati di sini.

“Aku takut kamu anggap aku wanita gampangan, pakaian aja islami tapi selingkuh sama cowok lain,” Mbak Rani mulai memainkan penyesalannya.

“Setiap wanita selalu punya sisi lain, Mbak. Kalo menurutku, yang penting jangan menyesal. Dinikmati saja,” aku menatapnya, senyum kulemparkan.

“Aku bukannya nggak puas sama suamiku. Kalo urusan ranjang dia hebat. Tapi monoton. Gitu-gitu aja,” dia mulai membuka permasalahan ranjangnya.

“Monoton gimana?” Rasa penasaranku kian tinggi.

“Ya monoton,” ia memainkan putingku,”Ciuman, pegang-pegang, masukkan, selesai. Meskipun durasinya lumayan sih” ia makin terbuka.

“Mbak Rani punya fantasi gimana?” aku membuka diri, aku ingin mewujudkan fantasinya.

“Hmm. Gimana ya? Nanti kamu ketawa trus mikir yang nggak-nggak?” ia memancing reaksiku sepertinya.

“Siapa tahu aku bisa mewujudkan fantasimu yang selama ini kamu pendam, Mbak. Aku nggak terlalu hebat sih, tapi cukup terbuka,” kulempar senyum lagi, kupandang matanya lekat-lekat.

Mbak Rani diam. Ia mungkin sedang berhitung atau mengumpulkan keberanian. Orang yang tak lama dikenalnya kini menawarkan sesuatu yang tak pernah ia duga.

“Bentar ya,” ia bangkit, mengambil ponsel dan nampak mencari sesuatu di sana.

Ia kembali menjatuhkan tubuhnya di sebelahku. Disorongkan ponselnya padaku. Ia menunjukkan sebuah video. Jelas ini video porno. Ah Gila! Fantasi Mbak Rani benar-benar tak terduga. Aku berpikir keras, aku belum pernah melakukan ini dengan siapapun. Ini benar-benar baru dan dengan orang baru. Jangan-jangan ia sebenarnya telah melakukan ini dengan beberapa laki-laki. Dan ia menjebakku dalam kondisi ini. Atau memang ini adalah fantasi terpendamnya. Dan belum pernah ia lakukan sama sekali. Pikiranku kacau. Aku shock. Tapi bagaimana mendapatkan konfirmasi dari Mbak Rani? Jangan sampai juga aku kehilangan momentum. Apalagi di depan sudah kusampaikan bahwa aku orang yang terbuka. Gila. Ini gila.

Aku tersenyum. Mbak Rani membalasnya dengan lebih manis. Kami berciuman. Semua pasti ada yang pertama, dan apa salahnya dicoba. Kulepaskan ciumannya.

“Ayo kita coba, Mbak. Aku juga belum pernah,” kukatakan dengan jujur, “tapi jilbabmu jangan dibuka ya,” aku hanya memberinya satu syarat, ia mengangguk.

Guna memenuhi fantasi Mbak Rani, kami butuh alat bantu. Melihat ke sekitar, kami mencari-cari apa yang bisa menggantikannya.

“Pakai ikat pinggangmu saja, Wang. Gimana?” Aku setuju.

Kulepas ikat pinggangku, kuserahkan padanya. Ia ternyata juga punya. Diambil ikat pinggang dari tas miliknya. Ranjangnya tak mendukung sebenarnya.

Akhirnya kami memakai cara lain. Mbak Rani menelanjangiku lebih dulu. Ia memosisikan tanganku ketas, diikatnya kedua tanganku menjadi satu menggunakan ikat pinggang. Kaki? Ia mengikat kakiku, entah bagaimana caranya, terikat di ujung ranjang. Nampaknya ia nafsu sekali. Berbagai ide ia temukan seketika. Dengan kondisi terikat. Mataku menerawang ke atas. Ini benar-benar petualangan seks yang tak terduga, dan menegangkan. Inilah fantasi yang kulihat di video yang ditunjukkan oleh Mbak Rani. Bondage. Tapi dengan posisi wanita yang mendominasi. Aku tak menduga wanita sekalem dia memiliki fantasi yang liar begini. Apa boleh buat, mari kita coba.

Dengan posisi terikat, aku menyerahkan semuanya pada Mbak Rani. Sekaligus menguji seberapa jauh kehebatan ia dalam bercinta. Tindakan pertama yang ia lakukan adalah menari. Meski terkesan kaku, aku tahu ia sangat berusaha. Kepalang tanggung mungkin, ia tunjukkan saja sisi terliarnya. Ia meliuk-liuk sambil membuka celana panjang longgarnya. Masih memenuhi permintaanku, ia tak menjamah jilbabnya sedikitpun. Setelah celana terlepas, ia menjatuhkan tubuhnya. Menjilati wajahku.

Aku memilih diam, tak merespon apapun. Dengan memilih gaya seperti ini, aku berkesimpulan ia ingin menguasai permainan sepenuhnya. Disusuri kening, lalu mata, hidung, pipi, telinga, dagu, dan berakhir di mulut. Ah, wajahku penuh dengan air liurnya. Birahiku mulai naik. Sepertinya Si Johny juga merespon dengan baik. Pelan-pelan, ia mulai menunjukkan ketertarikan pada permainan model baru ini. Kami berciuman, aku merespon sedikit-sedikit, ia tetap lembut meski lebih agresif. Tangannya membelai tengkuk dan leherku. Merinding. Bulu kudukku berdiri. Ia lembut sekali.

Permainan berlanjut saat lidahnya mulai turun. Kini lidah yang lembut itu mendarat di leherku. Ditelusurinya leher dan tengkuk. Sepertinya stok air liurnya tidak terbatas, aku yang dibuat kebasahan. Ia terus turun ke dadaku, putingku jadi sasaran. Dilumuri, dijilat, digigit, dan dijelajahi seluruhnya. Geli. Ngilu. Tubuhku tak bisa merespon dengan baik. Biasanya, dengan sensasi seperti ini, tanganku akan bermain untuk menetralisir. Tapi kali ini lain. Ini sensasi yang luar biasa. Aku hanya bisa meliuk-liuk, seperti cacing keenakan. Perjalanan Mbak Rani sampai juga di selangkangan. Dibukanya celana boxerku pelan.

Terbuka sudah, ia nampak siap sekali. Si Johny juga sudah tegang. Pengalaman baru membuatnya tak butuh waktu lama untuk siap tempur. Tangan halus Mbak Rani mulai membelai Si Johny. Pelan, lembut, tapi terlihat kaku. Sepertinya ia memang jarang bermain oral. Tiba-tiba, ia meludahi penisku sampai 4 kali, setelah dirasa cukup basah, ia mulai mengocoknya. Lembut, kecepatannya juga naik dengan konstan. Nafasnya terdengar memburu, nampak ia nafsu sekali. Sementara tangannya tak berhenti bermain di penisku.

“Ahhhh Mbaakkk shhh” aku hanya bisa mendesah keenakan.

Tak lama, ia mulai memainkan lidahnya. Ditelusuri tiap bagian, berhenti di kantung kemih. Ia telan semuanya. Ngilu juga. Tersadar, dilepaskannya kantung kemihku, ia turun menjilati batas antara anus dan kantung kemihku. Ini sensasi luar biasa.

“Ouuuuuuh,” aku menjerit, Mbak Rani makin asyik.

Ia benar-benar sedang mewujudkan fantasinya. Tak kuduga, ia sampai di lubang anusku. Anjing. Wanita ini liar. Cukup lama ia bermain di sana, sambil tangannya terus mengerjai Si Johny. Gila. Aku harus bilang Ia gila.

Sebenarnya posisi ini membuat pantatku pegal. Tapi kenikmatannya mengalahkan semua. Aku harus mengangkat pantatku sedikit karena kondisi tangan dan kakiku terikat. Untung saja sensasinya membawaku melupakannya. Mbak Rani tiba-tiba beranjak dari lubang anusku. Ia naik lagi, lega juga aku bisa merebahkan pantatku setara dengan ranjang. Namun tak berhenti lama, bibirnya sudah di depan Si Johny. Dijilati lagi penisku, mulai dari ujung, dibasahinya dengan air liur yang rasanya sudah menempel di seluruh bagian tubuhku. Ia asyik sekali. Seakan tak menghiraukan bagaimana aku menahan nikmat sekaligus pegal. Tiba-tiba, penisku terasa hangat. Ah, ia mulai memasukkan Si Johny ke mulutnya. Hesshhhhh. Hangat sekali.

Tangannya kini tak ikut ambil peran. Ia memasrahkan penuh tugas ini pada mulutnya, digawangi bibir dan lidahnya. Selalu ada yang kurang memang. Kalau mau dibandingkan, kulumannya tak ada apa-apanya ketimbang Dokter Ara, apalagi Tiwi. Tapi tak masalah, aku menerima segala keunikan tiap wanita yang bercinta denganku. Hal ini menunjukkan bahwa ia memang benar-benar memiliki seks yang monoton. Sedari tadi, permainan lidahnya, kecuali saat berciuman, cukup kaku. Namun kekakuan itu benar-benar tak mengurungkan semangatnya menikmati Si Johny. Aku dibuat kelojotan, antara ngilu dan nikmat.

“Mbaaak shhhhh,” ini erangan ngilu dan nikmat memang

Mbak Rani tak peduli dengan eranganku. Ia fokus pada tugasnya mengerjai Si Johny.

“Ouhhhkkm hhhakkkk,” Ia tersedak, nampaknya semangatnya tak terbendung lagi.

Ia tersenyum. Sempat-sempatnya di tengah nafsu birahi begini aku diberikan senyum manis itu. Bagaimana tidak rela diapa-apakan. La wong di hadapanku ada wanita manis dengan fantasi yang amat liar. Aku pasrah padamu, Mbak. Asalkan aku bisa dapat lagi. Aku pasang senyum juga. Kami bertatapan. Dalam sekali.

Dengan keringat yang mulai nampak, ia membawa tubuhnya naik. Di tubuhnya hanya menyisakan jilbab dan bra yang sudah tak karuan bentuknya. Inilah saatnya. Aku yang masih dalam kondisi tak berdaya tentu hanya bisa pasrah. Ia mengarahkan Si Johny ke vaginanya. Uhh. Digesekkannya penisku ke vagina tembem yang sudah sangat basah itu. Hangat sekali.

“Uhhhh hmmmm,” Mbak Rani merem melek keenakan.

Ia masih menikmati permainan sebelum tiba-tiba, ia tekan vaginanya.

“Ohhhhhh” kami teriak bersamaan.

Si Johny hilang ditelan vagina Mbak Rani. Ia masih diam. Tak bergerak, menyesuaikan diri. Matanya masih tertutup. Terasa aneh memang, biasanya tanganku sudah bergerak kesana kemari. Tapi kali ini tidak. Aku harus menyesuaikan diri.

“Gimana Wang rasanya?” ia bertanya padaku sambil mulai bergerak naik turun.

“Sensasinya luar biasa mbak uhhh,” aku jujur, ini memang pengalaman baru.

Kecepatan pompaannya dinaikkan. Tangannya memegangi dadaku. Tiap detik terasa lebih cepat.

“Oohhhhh Waaaang uhhh,”ia mulai meracau.

Dugaanku salah, ia berisik juga kalau sudah begini.

“Ohhhh kenapa shhh kamu yang hmmm mewujudkan ini wang ohhh,” tak mempedulikanku, ia terus saja ngoceh.

“Shhhhh diem, diem, diem. Kamu milikku, diem!,” dibentaknya aku saat coba memainkan Si Johny dari bawah.

Ia memang benar-benar ingin menguasai permainan. Wanita ini punya sisi lain yang luar biasa liar.

Dengan posisi seperti ini sebenarnya aku khawatir akan orgasme lebih dulu. Karena aku tak bisa mengalihkan pikiranku dengan bermain-main menggunakan organ tubuh lain. Aku terpaksa harus fokus. Mudah-mudahan saja Mbak Rani yang orgasme lebih dulu.

Gerakannya mulai tak karuan. Naik, turun, maju, mundur, memutar, tak karuan. Gerakan-gerakan ini ia lakukan dengan sangat cepat.

“Oohhhhh enakk ohhh enaak ohhh,” ia meracau terus meracau

“Waang ampun ohhhh kenapa enak aaahhhh”

“Pokoknya aku mau lagiiiiii aaaaahh”

“Aku mau jadi selingkuhanmu ohhhhh waaanggg”

“Aku mau jadi istrimu aaaaahhhh”

“Kamu budak seksku waaaang ohhhh”

“AWAAAANGGG AAAAAHHHHH”

Mbak Rani ambruk. Tubuhnya seperti kehilangan kekuatan. Lemas. Kepalanya sandar di dadaku. Si Johny masih belum berkutik di bawah sana. Ia mencapai orgasme yang dahsyat sepertinya. Penisku terasa dibanjiri cairan yang banyak sekali. Aku tak bisa apa-apa selain mengatur napas.

Sebenarnya aku sebentar lagi orgasme. Tapi seperti biasa, kesan pertama harus selalu menggoda. Dari keterangannya, ia puas-puas saja bercinta dengan suaminya. Hanya perlu variasi lain. Dan disitulah Awang ada untuk Mbak Rani.

Mungkin sekitar 5 menit tubuhnya tak bergerak di atas tubuhku. Sebenarnya berat juga karena tubuh Mbak Rani tak seperti Tiwi. Hampir setipe dengan Dokter Ara. Tapi dengan kondisi seperti ini aku juga tak bisa apa-apa. Entah proses orgasme itu sudah tuntas atau sadar aku mulai tak kuat, ia bangkit. Tanpa tedeng aling-aling, bibirku disosornya. Aku gelagapan karena tak siap. Ia bangkit lagi, tersenyum.

“Kamu luar biasa Wang!” wajahnya sumringah, seperti anak-anak yang mendapatkan mainan baru.

Aku hanya tersenyum meski sebenarnya lelah juga rasanya. Apalagi aku belum orgasme. Nanggung bos. Dan nampaknya ia paham. Tanpa babibu, ia mulai menjilati lagi Si Johny. Ia belum mau melepaskan ikatanku. Dengan kondisi yang masih sama, ia membalik tubuhnya, dan memasukkan Si Johny kembali ke vaginanya. Sudah bisa menebak adegan berikutnya? Yap. Ia bergoyang penuh birahi. Bagai joki dalam lomba berkuda. Dipelintirnya penisku dengan goyangan yang mungkin baru kali ini ia keluarkan. Aku jadi ingat bagaimana Inul Daratista kalau bergoyang jika sedang bernyanyi. Mbak Rani mempraktekannya dengan lugas.

“Ohhhh mbakkkk, ampuuun,” saking enaknya, kata-kata itu keluar begitu saja.

Ia berhenti sejenak, menoleh ke arahku, tersenyum, lalu goyang lagi. Sialan wanita ini. Sambil memegangi lututku, Mbak Rani terus mencari titik nikmat di vaginanya. Cepat sekali ia on kembali. Aku yang sebenarnya sudah tak kuat menciba bertahan sebisa mungkin. Aku terpaksa menggigit sprei semampunya demi mengalihkan perhatan.

“Ohhhb Waaang kontolmu enaaak” sialan, mulutnya liar juga.

“Aahhhh sshhhhh memekku bisa jebol iniihhh ohhhhhh awaaaang,”

“Kamu pake apa sihh shhhheehhhh,”

Ia terus meracau. Mengeluarkan apa, yang ada di otaknya. Goyangannya juga makin kacau. Terus naik turun, ia sedikit mendorong tubuhnya ke belakang. Kedua tangannya bertumpu pada ranjang, lalu beraksi. Ia memilin penisku, naik-turun, lalu memutar. Mbak Rani, kamu gila!

“Waaang ayo dong keluaaar, kamu kok kuaat ohhhh,”

“Aawaaang ohhhhh shhhhh”

Tiba-tiba ia berdiri. Ia mendaratkan vaginanya di wajahku. Sialan. Bukannya menuntaskan birahiku, malah begini dia. Kuladeni, kujilati vaginanya. Nafsuku sudah di ubun-ubun. Dibekapnya mulutku dengan vaginanya. Kujilat, kugigit, kujilat lagi, kusedot.

“Aaaaahhhh anjiiiing,” ia teriak, benar-benar teriak.

Lalu tiba-tiba menyembur cairan di wajahku. Sialan. Sialan. Sialan. Nafasnya memburu. Tak ada jeda, ia berbalik, dicarinya Si Johny, buru-buru ia masukkan ke vaginanya.

“Ayo saaayaaang aku pengen ngerasain pejuhmu,” ia goyang lagi, lebih liar.

Aku benar-benar tak percaya. Rasanya seperti mimpi. Mbak Rani, kamu ternyata binal sekali. Nafasku sudah ngos-ngosan. Jangan ditanya bagaimana kondisi mbak Rani. Wajahnya diturunkan, sembari pantat tetap bergoyang menikmati penisku, bibir jadi sasaran berikutnya. Ia makin liar, gerakannya juga sudah tak beraturan.

“Waaaang ayooo aaaahhhh”

“Ohhhhb kamu kok kuat sihhh ohhhh”

“Nih jilatin susuku, ayp cepeeeet ohhhh”

Kini aku mengerjai payudaranya. Sambil tetap mengimbangi permainannya dian bawah, kutambah rangsangan di tubuh Mbak Rani. Dari tadi, aku memang hanya sebentar saja menikmati gunung kembar ini.

“Waaaang ohhhh ampun sayaaaang,” ia menjerit lagi.

“Yaaa yaaa yaaa aku maauu OHHHHHHH,”

Mbak Rani orgasme lagi. Sudah tiga kali, dan ia masih belum puas. Jeda beberapa detik, ia sudah goyang lagi. Tak pernah puas, tak pernah lelah. Spermaku rupanya juga sudah di ujung. Tapi bibirku masih tetap di payudara Mbak Rani. Kuberi isyarat, ia menegakkan tubuhnya.

“Mbaaak ohhhh aku mau keluarr,” kusampaikan niatku, ia makin menggila.

Diputar vaginanya seperti sedang mengaduk adonan. Aahhh Gila!

“MBAAAAKK OOOOOHHHHHH”

“AWAAAAAANG SIALAAAAN”

Kami orgasme bersamaan. Tubuhnya ambruk, lagi. Tubuh kami penuh keringat. Kondisi selangkangan kami juga sudah tak karuan lagi.

Aku puas. Ini orgasme terliar yang pernah kurasakan. Rasa-rasanya, petualangan ini harus diulangi.

Bersambung

END – Wanita Idaman Part 11 | Wanita Idaman Part 11 – END

(Wanita Idaman Part 10)Sebelumnya | Selanjutnya(Wanita Idaman Part 12)