Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Putaran Kehidupanku Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19

Putaran Kehidupanku Part 18

Start Putaran Kehidupanku Part 18 | Putaran Kehidupanku Part 18 Start

Semakin aku berfikir, semakin aku di buat bingung dengan semua masalah yang aku hadapi. Berbagai informasi yang aku terima, justru semakin membuatku bingung. Apalagi info terakhir dari om Tirta, semakin dan semakin membuatku bingung.

Pertama, aku harus sembunyi dari orang yang mencariku karena dendam mereka dengan Ayahku. Masalah dengan Daniel sesama mahasiswa juga tidak bisa aku hindari. Di tambah aku harus belajar mempersiapkan diri untuk menggantikan jabatan kakekku. Belum lagi masalah wanita-wanita yang ada di sekitarku.

Aku harus mulai menyelesaikan masalahku satu per satu. Tapi untuk saat ini, aku tidak yakin bisa menyelesaikan sendiri semua masalahku, dan aku memang tidak perlu sendirian menyelesaikan masalah ini.

Soal orang-orang yang terus menerus mencariku, ada orang suruhan Ayah dan kakekku yang akan membantuku. Namun meski ada mereka, aku juga perlu waspada, karena sekali saja ada yang lengah, nyawaku taruhannya.

Untuk masalah Daniel, setauku ini tidak terlalu penting. Aku dan Gading sudah cukup untuk melawannya, bahkan kalau Daniel nekat menyerangku di luar kampus, ada orang-orang bang Jimmy yang masih mengawasi pergerakan Daniel dan teman-temannya.

Urusan menggantikan jabatan kakek, itu cukup urusanku dengan kakek, dan aku akan belajar langsung darinya tentang semua hal yang berhubungan dengan jabatanku nanti.

Masalah wanita di hidupku sepertinya semakin tidak aku mengerti. Hanna yang hampir membuatku jatuh cinta, dia justru memilih lelaki lain, bahkan di depan mataku mereka melakukan hal yang tidak pernah ingin aku lihat. Laras, aku sebenarnya kasihan dengannya, aku tau dia menyukaiku, namun sayang dia terjebak di dalam perjodohan keluarganya, dan itu juga yang membuatku sampai berurusan dengan Daniel. Nina dan Tasya, mereka sama-sama menarik perhatianku. Selalu baik dan membuatku nyaman saat bersama mereka, namun aku belum tau perasaan apa yang aku rasakan ke mereka, cinta atau hanya sebatas kenyamanan. Terakhir, mbak Nia dan Anisa, wanita dari masa lalu dan wanita yang pernah memberikanku sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Anisa yang dulu menghianatiku, tapi sepertinya dia punya penjelasan yang ingin dia sampaikan padaku, dan mbak Nia yang kemungkinan dia itu Tanteku.

“Haahhhhh….” dengus nafasku.

“Kenapa lo??….” tanya Gading yang duduk di sampingku. “Sejak elo kembali dari tempat pak Tirta, gue lihat elo diam mulu. Cerita, apa sebenarnya yang terjadi??….”

“Enggak ada apa-apa Ding, cuma tadi ada obrolan biasa antara om dan keponakannya….” jawabku. Belum saatnya aku cerita semua masalahku ke orang lain, meski itu temanku sendiri.

Hujan masih terus mengguyur lokasi camping, semua aktifitas mahasiswa terhenti karena hujan. Acara api unggun malam ini sepertinya juga akan tertunda, selain kayu bakar yang basah, lapangan tempat acara juga pasti penuh genangan air dan becek.

“Tasya sama Maya kemana??….” tanyaku, karena sejak aku kembali ke tempat berkumpulnya sahabatku, aku tidak melihat keberadaan Tasya dan Maya.

“Tadi mereka katanya mau ke kamar sebentar ganti baju, elo kan tau cewek tuh gak bisa kotor sedikitpun!!….”

“Nih telinga gue kenapa ya terasa panas, pasti ada yang lagi ngomongin gue, dan pastinya orang jelek!!….” ucap Tasya yang tiba-tiba datang dan muncul dari arah belakang Gading.

“Woi, siapa tuh yang jelek??….” ucap Gading.

“Lo cari kaca, terus elo ngaca, pasti ada orang jelek nongol tuh di kaca!!….” sindir Tasya ke Gading, sedangkan aku dan Maya hanya tersenyum saja melihat tingkah mereka berdua.

“Oh iya gue sampai lupa bilang ke kalian, semua kegiatan hari ini di tiadakan karena hujan. Semua kegiatan baru akan di lanjutkan besok, itupun kalau tidak hujan….” lanjut Tasya yang kini sudah duduk di sampingku, Maya pun juga ikut duduk di sebelah Gading.

“Terus kita ngapain ini??…. Masak cuma duduk-duduk gak jelas begini!!….” tutur Gading.

Dari arah belakang aku melihat Lucas, Reno, Rida dan Sandra teman satu kelasku berjalan ke arah kelompokku berkumpul. “Ada gak dari kalian berempat yang mau bantu-bantu kita keliling lihat situasi lokasi camping??…. Nih tadi kelompokku dapat tugas dari ketua BEM buat cek sekitaran lokasi camping!!….” tutur Lucas.

“Gue ikut deh, bosan duduk-duduk mulu dari tadi….” ucap Gading.

“Eh, gue juga ikut, males gue di sini, nanti cuma jadi obat nyamuk, hihihihi….. ” ucap Maya sedikit bercanda.

“Apaan sih lo tuh May!!…. Bilang saja mau berduaan sama si Gading, iya kan??…. Iya aja deh, hihihihi…. ” ucap Tasya membalas candaan Maya.

“Wah, ini nih satu kelompok ada hubungan khusus ternyata ya!!….” tutur Reno.

“Gading sama Maya, dan ketua kelas kita sama Ian, pasangan yang cocok….” ungkap Lucas.

“Tasya nyuri start deh, padahal gue kan juga suka sama Ian. Patah hati deh gue jadinya, hiks!!….” ucap Rida dengan ekspreai pura-pura menangis.

“Bukan elo aja Da, gue juga patah hati. Ian, gue rela kok jadi yang kedu, ketiga, atau keberapapun asal sama elo….” tutur Sandra dengan ekspresi yang di buat-buat seperti Rida.

“Lo berdua apaan sih, gak usah sok-sokan sedih, masih ada gue sama Lucas juga kan!!….” tutur Reno.

“Ogah, mending kalian berdua ke laut sono gih, ya kan San??….” ucap Rida.

“Hu’uh..” ucap Rida singkat.

“Segitunyakah kalian berdua tidak mau berhubungan dengan kita??….” ucap Reno dengan keputusasaan.

“Iya!!….” jawab dua wanita bersamaan.

“Hahahahaha…… ” tawa terbahak kelompokku yang sedari tadi mendengar percakapan kelompok Lucas. Lucas dan kelompoknya yang kami tertawakan juga ikut tertawa bersama.

Setelah canda dan tawa kami mereda, Lucas dan kelompoknya mulai berangkat menjalankan tugas mereka, Gading dan Maya pun ikut dengan kelompok Lucas. Tersisa aku dan Tasya yang masih duduk berdampingan.

“Lo sekarang mau ngapain??…. Masak mau diam di sini terus!!….” tanya Tasya membuka percakapan.

“Gue mau balik ke kamar saja, tiduran…..” jawabku.

“Gue ikut!!….” seru Tasya.

“Ya udah yuk barengan, lagian kamar elo kan sebelahan sama kamar gue Sya!!….”

“Siapa yang bilang gue mau ke kamar gue??…. Gue tuh maunya ikut ke kamar elo, ada yang perlu gue omongin sama elo!!….”

“Kalo mau ngomong, di sini aja Sya, gak usah ke kamar gue!!…. Bahaya kalau ada yang lihat, nanti di kiranya kita mau ngapa-ngapain….”

“Sudah, ayuk ikut!!…..” tanpa aku duga, Tasya justru menarik tanganku untuk membuat aku mengikuti kemana dia mau membawaku. Aku yang tidak ingin ada keributan, hanya bisa nurut dengan kemauan Tasya.

Banyak teman satu kampusku yang melihat ke arahku dan Tasya. Mungkin mereka aneh melihatku di tarik-tarik sama Tasya. Sebelum sampai kamar, aku dan Tasya bertemu gerombolan Gading.

“Duh, duh, woi ini masih siang, gak sabaran amat kalian berdua, tunggu malam napa!!….” sindir Gading.

Aku hanya nyengir saja mendengar sindiran Gading. Tasya, dia cuek saja dan dia justru semakin mempercepat langkahnya. Gading dan teman-teman yang bersamanya hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkahku dan Tasya. Beruntung saat sampai di depan kamar suasana sekitar kamarku begitu sepi, hanya ada Syerli yang lagi selonjoran di teras depan kamarnya, diapun hanya tersenyum melihat ke arahku.

“Cklek…Klek….” bunyi kunci pintu, dan akupun membuka pintu kamarku.

“Buruan masuk!!….” kini justru aku yang menarik Tasya supaya segera masuk ke kamarku. Saat aku menarik Tasya, sekilas aku melihat ke arah Syerli, dia hanya menggelengkan kepalanya. “Duh tuh cewek pasti mikir yang enggak-enggak tentang gue!!….” batinku.

Tasya begitu masuk langsung duduk di tepian ranjangku. Aku yang sedikit canggung dengan suasana saat ini, cuma bisa berdiri di depan pintu kamar yang baru aku tutup. “Sudah di kamar nih, tadi apa yang mau elo obrolin??….” tanyaku.

“Ehmmm, yuk hangatin badan!!….” ucap Tasya.

“Ambigu bener ucapan lo Sya, gak usah aneh-aneh deh!!…. Sudah, apasih yang mau elo obrolin Sya??….”

“Hihihihi…. Iya, iya, sini duduk dulu di sebelah gue, baru gue mau ngomong!!….” pinta Tasya, dan akupun menurutinya duduk di sampingnya.

“Menurut elo, gue tuh orangnya seperti apa??….” tanya Tasya.

“Maksut elo apa sih Sya??….”

“Ihhhh, gitu saja gak faham. Maksut gue tuh, gue tuh menurut elo orangnya gimana, tingkah gue, sikap gue, fisik gue, elo bisa nilai kan??….” tanya Tasya dengan ekspresi cemberut yang begitu menggemaskan.

“Iya gue jawab, elo tuh cantik, orangnya baik, dan bikin nyaman….” jawabku.

“Elo bilang gue cantik, baik dan bikin elo nyaman. Elo tau kan gue sayang sama elo, dan sekarang gue mau tau, seperti apa perasaan elo ke gue??….”

Wanita memang selalu pintar memanfaatkan kesempatan, lewat kata-kata saja aku bisa terjebak, dan akupun untuk saat ini belum tau mau menjawab seperti apa pertanyaan Tasya. Namun, Tasya yang semula menghadap ke depan, perlahan dia bergerak mendekat ke arahku dan menoleh melihatku.

“Eh Sya, kenapa??….”

“Salah ya gue jujur ke elo tentang semua perasaan gue, dan apa salah juga gue bertanya tentang perasaan elo ke gue??….”

Aku diam, aku seperti kehabisan kata-kata untuk menjawab semua pertanyaan Tasya.

“Sejak awal gue ngelihat elo di kampus, gue sudah suka sama elo. Meski gue sempat putus asa saat ngelihat kedekatan elo dengan Hanna, dan ma’afin gue, sejujurnya dari awal gue sudah tau kedekatan elo dengan Hanna. Saat gue minta elo temanin belanja, itu karena gue mau tunjukin ke elo siapa Hanna yang sebenarnya. Wanita seperti Hanna yang sudah mainin perasaan elo, dia tuh gak pantes buat elo!!….” tutur Tasya yang diakhiri dengan nada suaranya yang meninggi saat dia membahas Hanna.

Aku menatap Tasya, jujur aku sedikit emosi saat dia menjelekkan Hanna. Tapi akupun juga tau semua kenyataan siapa Hanna yang sebenarnya, meski aku harus membuktikannya lagi. Karena itu, tidak ada alasan buat aku marah dengan Tasya yang selalu baik denganku, dan lagi aku sangat nyaman saat bersama dia.

Saat aku melihat Tasya, tiba-tiba air mata Tasya keluar mengalir membasai kedua pipinya. “Sya kenapa elo nangis??….”

“Gue tau, gue memang gak pantes mendapat sayang elo, masih banyak yang labih baik daripada gue!!… hiks..hiks…”

Aku memegang kedua tangan Tasya yang sedari tadi di tumpuknya di atas pahanya. “Sudah ya, jangan nangis!!…. Elo mau kan dengerin jawaban gue soal pertanyaan elo tadi??….”

“Iya gue mau….”

“Tapi janji, jangan nangis lagi!!….” pintaku yang di balas Tasya dengan anggukan kepala.

“Jangan pernah kamu merasa tidak pantas Sya, elo tuh sempurna, dan sejujurnya gue juga sayang sama elo sya, tapi gue juga mau jujur, kalau gue belum bisa ngasih keputusan tentang status hubungan kita!!…”

“Itu sudah cukup Ian, setidaknya elo sudah mulai sayang ke gue…..” ucap Tasya yang kemudian menarik kedua tangannya yang aku pegang untuk menyeka air matanya.

“Cengeng!!….” sindirku dengan nada bercanda.

“Biarin, kalau gue gak begini, mana mungkin elo mau jujur ke gue seperti itu!!….”

“Dasar nyebelin….” ucapku, dan entah kenapa tanganku bergerak begitu saja memeluk tubuh Tasya.

Sedikitpun Tasya tidak memprotes apa yang aku lakukan. Dia justru memegang lenganku, seolah dia tidak mau aku melepas pelukanku di tubuhnya.

“Tadi nolak, sekarang malah meluk…..” ucap Tasya, dan tanpa aku duga dia melepas tanganku yang memeluknya, dan dengan setengah melompat yang membuat tubuhku terdorong jatuh ke tempat tidur, kini justru Tasya yang memelukku. Aku tanpa ragu, membalas pelukan Tasya.

“Jangan mikirin Hanna lagi ya, dia sudah dengan lelaki pilihannya……” bisik Tasya yang semakin erat memeluk tubuhku dan dengan nyamannya dia berbaring di atas tubuhku.

“Iya, gue gak akan mikirin Hanna. Tapi bisa kan kita bangun dulu Sya!!….”

“Hihihihi….” dengan tawa lirihnya Tasya melepas pelukannya, dan bangun duduk di tepian ranjang seperti tadi.

Aku hanya lelaki normal, dan tentu tidak baik berbaring dengan seorang wanita, apalagi wanita itu berbaring di atas tubuhku. Sekuat apapun aku menahan nafsu, yang di selangkangan pasti tetap bangun juga.

“Kalau dengan gue nangis elo mau jujur, dari kemarin-kemarin gue nangis, hihihihi…..” ucap Tasya yang duduk di sampingku dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.

“Ada-ada saja lo tuh Sya….” ucapku. “Jangan nangis lagi ya, jelek lo nangisnya….” lanjutku, dan aku mencubit pipi Tasya.

“Ihhh, lo tuh beneran nyebelin, tapi gue sayang, hihihihi….” ucap Tasya, dan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke arahku, dan entah kenapa seperti ada magnit yang menarikku, akupun mendekatkan wajahku ke arah Tasya. Tasya menutup mata, tapi aku masih menatapnya. Nafasnya yang begitu hangat, sudah terasa menerpa wajahku.

“Tok….tok….tok….” bunyi ketokan pintu yang seketika membuatku dan Tasya menjauhkan wajah kami.

“Woi kalian, jangan macem-macem dulu!!….” teriak gading dari luar kamar.

Aku yang terkejut dengan teriakan Gading segera bangkit dan berjalan ke arah pintu.

“Klek….” aku membuka pintu. “Berisik lo tuh!!…. Lagian siapa juga yang lagi macem-macem, kita cuma ngobrol!!….” ucapku.

“Mencurigakan!!….” ucap Gading yang kemudian masuk ke dalam kamar dan berlagak seperti detektif yang sedang mencari petunjuk suatu kasus.

“Lo tuh yang mencurigakan, dari tadi berduaan mulu dengan Maya. Jadian ya kalian??….” sanggah Tasya yang muncul dari belakangku.

“Yee, kan kita tadi baru tugas, ya jelas berduaan. Kalian tuh, berduaan di kamar, emang sudah resmi??….” tanya Gading.

“Siapa yang berduaan di kamar, dan apa itu yang sudah resmi??….” tanya seorang wanita, yang perlahan menaiki tangga dan berhenti tepat di depan kamarku. Hijab yang menutupi kepalanya, semakin membuatnya terlihat begitu anggun.

“Mbak Nia…..” ucapku begitu lirih.

“Eh Bu Nia, ini loh Bu mermmmmm…..,-” ucapan Gading terhenti karena aku membekap mulutnya dengan telapak tanganku.

“Tidak ada apa-apa Bu, ini kita cuma lagi bercanda….” tuturku seraya melepas dekapan tanganku di mulut Gading.

Mbak Nia memandang aneh ke arahku, sedangkan ketiga temanku hanya diam menatap mbak Nia. Tasya yang tepat berada di sampingku, terus menerus menyenggol lenganku dengan tangannya. Saat aku menoleh ke arahnya, dia dengan tanpa suara sedang menggerakkan kedua matanya ke arahku dan ke arah mbak Nia secara bergantian, dan aku begitu mengerti apa maksutnya.

“Sebelumnya saya mohon ma’af, Bu Nia ada perlu apa datang kemari??….” tanyaku memecah keheningan sesaat.

“Oh iya sampai lupa, Ian kamu bisa bantu saya sebentar??….. Ada beberapa barang di ruangan saya yang perlu di pindahkan…..” tutur mbak Nia dengan begitu santai. “Tasya, Ian saya pinjam sebentar saja boleh kan??….” lanjut mbak Nia dengan pertanyaan yang di tujukan ke Tasya.

Selesai mbak Nia berucap, aku menoleh ke arah Tasya, begitupun Tasya, dia menoleh ke arahku. Tasya kemudian tersenyum saat saling berhadapan denganku, sebuah senyuman yang tidak aku mengerti apa maksutnya.

“Iya Bu, silahkan!!….” ucap Tasya menjawab pertanyaan mbak Nia.

“Ya sudah, yuk ikut saya!!…. Tuh pacar kamu sudah ngizinin….” ucap mbak Nia.

Aku diam menatap mbak Nia setelah mendengar apa yang baru dia ucapkan. “Hihihihi….” tawa lirih dari sampingku, membuatku menoleh melihat ke arah sumber tawa. “Dasar….” ucapku lirih saat aku melihat Tasya yang sedang tertawa, serta Gading dan Maya yang senyum-senyum penuh arti.

“Kalian sudah resmi??….” tanya mbak Nia saat berjalan di sampingku menuju tempat yang di tuju mbak Nia.

“Eh, apa yang sudah resmi??….”

“Itu, kamu sama Tasya, sudah resmi kan??….”

“Ohhh itu, hampir….” jawabku dengan sedikit senyuman ke arah mbak Nia.

“Kalau kamu memang menyayanginya, jaga dia, dan jauhkan dia dari bahaya yang kamu bawa!!…..” tutur mbak Nia.

“Eh, maksut Bu Nia apa ya??….” tanyaku dalam kebingungan.

“Sebentar!!….” ucap mbak Nia datar, dan kemudian dia melihat-lihat tempat sekitaran kami seperti sedang memastikan sesuatu.

“Bu Nia kenapa??….” lagi aku bertanya.

“Panggil mbak saja, sebenarnya agak risih juga aku mendengar kamu memanggilku Bu….” ucapnya. “Sekarang kamu ikut aku, ada yang perlu kita bahas!!….” lanjut mbak Nia, dan dengan cepat dia menarik tanganku untuk melangkah mengikutinya.

“Mau kemana mbak??….”

“Sudah kamu ikut saja….” jawab mbak Nia yang masih saja menyeret lenganku.

Mbak Nia menarikku masuk ke dalam hutan, dari jalan yang aku lewati, aku sudah tidak asing dengan jalan ini, jalan ini menuju air terjun. Namun, tepat di percabangan jalan, mbak Nia tidak mengambil jalan menurun menuju air terjun, melainkan dia mengambil jalan menanjak yang aku belum tau kemana arah tujuannya.

Aku dan mbak Nia berhenti di sebuah tempat yang cukup lapang tepat di pinggir sungai yang menuju ke air terjun. Ada batu-batu yang mengelilingi tempat ini hingga membentuk sebuah lingkaran, dan hanya dari tempatku datang tadi jalan keluar masuk tempat ini. Gemuruh air terjun yang meluap karena hujan, terdengar begitu jelas dari tempat ini. Dua batu bulat yang basah karena grimis yang masih turun, menjadi tempat dudukku dan mbak Nia.

“Sebebarnya apa yang mbak mau bahas denganku??…. Bukannya mbak tadi minta tolong ke aku buat bantu mindahin barang!!….”

“Memintamu membantuku memindahkan barang, itu hanya sebuah alibi. Mana mungkin aku jujur ke teman-teman kamu tentang tujuan utamaku menemui kamu!!….” tutur mbak Nia dengan tatapan mata begitu tajam padaku.

“Terus, apa sebenarnya tujuan mbak mengajak aku ke sini??….”

Mbak nia memalingkan pandangannya dariku, kepalanya mendongak ke atas, matanya menerawang melihat awan putih yang masih menurunkan gerimisnya sedari tadi. “Ma’afin aku ya, selama ini sudah membohongi kamu!!….” ucap mbak Nia tanpa merubah arah pandangannya.

“Kebohongan!!…. Kebohongan apa maksut kamu mbak??….”

“Bukannya om kamu tadi sudah cerita semua ke kamu tentang siapa mbak ini, dan ya om kamu tuh benar, mbak ini memang adik Ayah kamu, yang artinya mbak ini Tante kamu, Ian…..” tutur mbak Nia yang begitu mengagetkanku. “Tadi mbak dengar semua obrolan kamu dan Mas Tirta, bilang tuh ke Mas Tirta, kalau ngobrol tuh pelanan sedikit suaranya, untung cuma mbak yang dengar…..” lanjut mbak Nia.

Aku masih diam, aku masih bingung dengan apa yang ingin aku ucapkan saat ini.

“Kamu bingung??…. Jangan bingung, mbak akan jelaskan semuanya ke kamu, tapi janji dulu ke aku, panggil aku mbak, jangan Tante, karena aku gak setua itu!!…..” seru mbak Nia yang aku jawab dengan menganggukan kepalaku.

“Mbak ini anak termuda dari tiga saudara, Ayah kamu dan kakak perempuan mbak selalu memanjakan mbak sejak kecil. Namun, meski manja mbak itu tidak cengeng. Sejak SD, mbak sudak belajar beladiri dari Ayah kamu, bahkan mbak pernah di ajarkan Ayah kamu bagaimana cara menjadi seorang mata-mata. Kedua orang tua mbak, yang tak lain adalah kakek dan nenek kamu, mereka sangat menyayangi mbak, menangispun sepeti tidak pernah mbak rasakan. Namun semua berubah sejak malam itu, malam yang sampai sekarang tidak pernah aku lupakan….” meski tidak menoleh ke arahku, aku tetap bisa melihat ekspresi wajah mbak Nia yang berubah menjadi begitu serius.

“Aku yang baru pulang sekolah mendapati kedua orang tuaku sudah tak bernyawa, dengan darah yang membanjiri tubuh mereka, dan dengan jelas aku melihat kepala kedua orang tuaku hampir terpisah dari badannya. Ditempat yang tak jauh dari jasad kedua orang tuaku, aku melihat kakak laki-lakiku yang kamu jelas tau dia itu Ayah kamu. Tubuhnya penuh luka, darah segar mengalir dari tubuh Ayah kamu, saat itu aku mengira Ayahmu telah mati. Perampokan, itulah yang ada di fikiranku saat itu, dan aku mengira para perampok itu telah pergi dari rumah saat aku tiba. Namun aku salah, saat aku ingin keluar rumah dan teriak minta tolong, dua orang bertopeng muncul dari arah belakangku, dan dua orang itu membawaku pergi daru rumah itu. Mereka membiarkanku hidup, dengan syarat aku tutup mulut dan tidak kembali lagi ke keluargaku….”

“Dua orang bertopen itu ternyata sepasang suami istri, yang di tugaskan menjadi orang terakhir untuk menunggu kedatanganku dan membunuhku, tapi mereka justru menjagaku dan membuat berita palsu atas kematianku. Dua tahun mereka melarangku keluar rumah, supaya tidak ada lagi yang mengenaliku. Setelah dua tahun itu, aku kembali bersekolah dan hidup normal meski rasa sedih atas kematian keluargaku masih aku rasakan. Namun aku cukup terhibur dengan hadirnya kedua orangtuaku yang selalu baik dan menjagaku sampai akhir kehidupan mereka…..” mbak Nia berhenti berucap, dia memandang ke arahku, dengan gerakan perlahan dia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan ke arahku. Tepat di hadapanku dia berdiri dan menatapku.

“E.eh….” ucapku lirih saat mbak Nia mengelus kepalaku.

“Mbak selalu mengawasi kamu dan Ibu kamu sejak pertama mbak menikah dengan suami mbak, dan kamu harus tau sesuatu!!….”

“T.tau apa mbak??….”

“Suami mbak bukanlah orang sembarangan, gelar Haji dan tempatnya bekerja itu hanya sebuah kedok untuk menutupi siapa dia yang sebenarnya, dan dari kedua istrinya cuma mbak yang tau siapa dia yang sebenarnya, karena dia adalah anak dari orang yang menyuruh komplotan kedua orangtuaku untuk menghabisi seluruh keluargaku. Suamiku seorang Kartel, dia pembuat sekaligus bandar narkoba terbesar di negri ini!!….”

“DEGH…..” aku begitu terkejut mendengar semua yang di ucapkan mbak Nia. Pak Haji yang selama ini begitu baik padaku bahkan ke semua warga di tempatku, ternyata itu hanyalah sebuah kedok untuk menutupi keburukannya.

“Jangan diam, aku tau ada banyak hal yang ingin kamu tanyakan….” ucap mbak Nia yang kini duduk di sampingku di atas batu yang sama denganku.

Ucapan mbak Nia barusan, seolah dia bisa membaca apa yang ada di fikiranku. “Kenapa mereka justru merawat kamu mbak, bukannya harusnya mereka membunuhmu??….” pertanyaan yang begitu saja keluar dari mulutku.

“Karena mereka tidak tega membunuh aku, bahkan sedikitpun mereka tidak terlibat dalam kematian kedua orangtuaku dan sedikitpun mereka juga tidak melukai kakakku….”

“Darimana kamu tau mereka tidak terlibat semua itu??….”

“Mereka hanya butuh uang, kehidupan orang miskin tanpa pekerjaan tetap, menyeret mereka ke dunia hitam, dunia dimana yang salah di benarkan. Mereka hanya korban kerasnya hidup, dan dangkalnya pendidikan….”

“Bukannya mbak tiga bersaudara, terus kemana kakak perempuan kamu mbak??….”

“Sejak hari mbak di selamatkan, mbak tidak bertemu dengannya. Kedua orang tua angkatku bilang, kakak perempuanku di ambil istri oleh salah satu petinggi, dan di bawa ke luar negri….”

Aku diam, aku masih mencerna satu persatu setiap ucapan dan jawaban mbak Nia. Sepasang suami istri menyelamatkannya dan merawatnya sampai akhir, yang tentunya kedua orang itu sudah tiada. Mbak Nia tidak kembali ke keluarganya karena itu berbahaya, lebih baik dia di kira mati daripada hidup dalam bahaya. Kakak perempuan mbak Nia sepertinya juga masih hidup, tapi tidak ada yang tau di mana dia saat ini.

“Ian dingin, peluk mbak!!….” pinta mbak Nia dengan lembut yang membuatku sedikit terkejut.

“E.eh mbak, jangan aneh-aneh deh!!…. Mbak lupa apa kalau aku ini keponakan mbak??….”

“Sekarang menolak, tapi malam itu kamu sudah menikmati tubuh Tante kamu sendiri!!… Hihihihi…..” ucapan mbak Nia yang membuatku hanya bisa tertunduk dengan perasaan bersalahku.

“Mereka semakin dekat dengan kita, mereka mulai mencium siapa mbak yang sebenarnya, dan mereka sepertinya mulai mengendus jati diri kamu yang sebenarnya. Lindungi mbak!!….” bisik mbak Nia, seraya dia memeluk pinggangku dan menyandarkan kepalanya di lenganku.

Semakin banyak aku tau, semakin aku di buat bingung. Orang yang baik, belum tentu baik. Melindungi, aku memang tidak yakin bisa, namun aku harus bisa. Menyesali apa yang dulu pernah terjadi, juga tidak ada gunanya. Sekarang aku harus melindungi, bukan satu orang, tapi aku harus melindungi semua orang yang aku sayangi. Teman, sahabat, keluarga, mereka adalah orang-orang yang aku sayangi.

“Tik…tik…tik….” gerimis yang tadinya turun, kini berganti hujan. Meski tidak deras, namun cukup bisa membuat bajuku dan baju mbak Nia basah.

“Mbak yuk balik ke tempat camping!!…” pintaku dengan lembut.

“Kamu belum menjawab permintaan mbak, pokoknya kamu harus melindungi mbak, dan mbak janji akan selalu melindungj kamu!!….” ucap mbak Nia yang semakin erat memeluk pinggangku dari samping.

Aku tersenyum melihat tingkah mbak Nia. “Tanpa kamu mintapun, aku pasti menjaga kamu mbak. Biar nyawaku taruhannya, aku pasti menjaga kamu, dan semua orang yang aku cintai….” ucapku.

Setelah mendengar ucapanku, mbak Nia melepas pelukannya. Kini dia menatapku, dan akupun menatapnya. Sebuah kecupannya mendarat di keningku, senyuman mbak Nia yang begitu manis terlihat setelah dia menciumku. Dengan cepat dia bangkit dari duduknya, dan menarikku. Dengan memeluk lengan kiriku, mbak Nia mengajakku berjalan menuju lokasi camping.

“Dasar dosen manja!!….” sindirku.

“Biarin, manja sama keponakan sendiri kan gak ada yang larang!!…” ucap mbak Nia penuh senyuman.

Bahagia, mungkin itu saat ini yang aku rasakan. Satu persatu keluargaku mulai berkumpul, meski aku juga sadar bahaya juga semakin mendekatiku.

“Mbak sudah mau sampai, kita pisah dulu di pintu masuk lokasi camping…..” ucapku ke mbak Nia, namun mbak Nia justru menggelengkan kepalanya meski dia tidak lagi menggandeng lenganku.

“Mbak temani kamu sampai depan kamar, lagian tempat mbak juga tidak begitu jauh dari kamar kamu….”

Rona wajah mbak Nia terlihat begitu cerah, mengabulkan apa yang dia inginkan juga tidak menjadi masalah bagiku.

“Jalannya jangan jauh-jauh, sini agak deketan, yang penting jangan mesra-mesraan, pacar kamu marah nanti, hihihihi…..”

“Hahhh…..” aku hanya bisa menarik nafas mendengar candaan mbak Nia.

Akhirnya aku berjalan berdampingan dengan mbak Nia, hujan yang turun membuat bajuku basah, begitupun dengan baju mbak Nia. Tepat di depan kamarku, aku berpisah dengannya. Mbak Nia segera berjalan menuju kamarnya.

“Ckleek….” bunyi pintu yang aku buka.

“Lama amat, banyak ya barang-barangnya Bu Nia??….” tanya Tasya yang ternyata ada di dalam kamarku berduaan dengan Maya.

Ingin aku menjawab jujur, namun aku sadar ini belum saatnya. “Ya lumayan, dasarnya dosen manja, bikin repot!!….” jawabku, dan aku segera mengambil baju ganti di dalam tasku.

“Basah gitu, cepat sana mandi, biar gak sakit!!… Atau mau gue mandiin, hihihihi…. ” ucap Tasya.

“Tasya!!….” seru Maya dengan mata melotot ke arah Tasya.

“Marahin tuh May teman elo, aneh-aneh mulu kerjaannya!!….”

“Hihihihi….. Kan gue bercanda, jangan marah ya May??….” tutur Tasya, dan Maya hanya menjawab dengan anggukan kepala.

“Lagian kalian berdua tuh ngapain di kamarku, nih aku mau mandi juga, dan Gading juga di mana??…..” tanyaku ke mereka berdua.

“Si Gading ada tugas jaga malam, nih kita berdua tadi nungguin elo, ini juga mau keluar dulu balik ke kamar kita….” jawab Maya.

“Ya dah, kita keluar dulu, buruan sana mandi!!….” Tasya menyuruhku.

“Iya!!….” jawabku yang sudah di dalam kamar mandi.

Tak lama setelah aku di dalam kamar mandi, aku mendengar langkah orang keluar kamarku dan menutup pintunya. “Mereka sudah keluar…” gumamku lirih.

Aku segera mandi membersihkan tubuhku, tak lupa aku keramas untuk membersihkan rambutku yang terkena air hujan. Air di tempat ini begitu dingin, apalagi saat hujan turun seperti saat ini.

Selesai mandi, aku memakai baju bersih yang tadi sudah aku ambil. Setelahnya aku tiduran di tempat tidurku. Fikiranku melayang ke kejadian yang barusan aku alami. Mbak Nia ternyata memang Tanteku, dan aku pernah melakukan hubungan terlarang dengannya. Aku menggeleng-gelengkan kepala saat ingat kejadian yang pernah aku alami dengan mbak Nia. Namun fikiranku saat ini sudah terlalu lelah untuk berfikir. Aku butuh tidur untuk menghilangkan lelahku dalam berfikir.

°

°

°

“Uhh…..hooaammmm…..mmhhhh…..” perlahan kesadaranku pulih setelah tertidur.

Aku merasa ada sesuatu yang salah dengan yang aku rasakan. Sebuah tangan memelukku dari samping, dan benda yang begitu empuk terasa menempel di lengan kiriku.

Aku membuka mataku, dan memperjelas pandanganku. Aku menoleh dan melihat ke samping tubuhku. Seorang wanita sedang memelukku dengan tubuhnya yang miring ke arahku.

Aku menatapnya, dia sepertinya sudah terbangun dari tidurnya, atau mungkin dia tidak tidur. Senyum manisnya begitu saja mengembang dari bibirnya saat aku melihatnya.

“E.ehh, Tasya!!……”

Bersambung

END – Putaran Kehidupanku Part 18 | Putaran Kehidupanku Part 18 – END

(Putaran Kehidupanku Part 17)Sebelumnya | Selanjutnya(Putaran Kehidupanku Part 19)