Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Lembaran Yang Hilang Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14END
SEASON 2
S2 Part 1S2 Part 2S2 Part 3S2 Part 4S2 Part 5S2 Part 6S2 Part 7S2 Part 8
S2 Part 9S2 Part 10

Cerita Dewasa Lembaran Yang Hilang Part 12

Cerita Dewasa Lembaran Yang Hilang Part 12

Orang Asing Di Depan Kost​

—-POV REGA—-

Aku berjalan seorang diri di keheningan malam. Lampu lampu komplek menerangi setiap langkah kakiku. Malam ini, dinginnya malam sama sekali tidak mengusikku. Aneh. Aku tidak tau apa yang saat ini sedang merasuki tubuhku. Seperti api. Seluruh tubuhku terasa seperti sedang terbakar dari dalam. Aku butuh bantuan. Hanya ada satu orang malam ini yang bisa membantuku memadamkan kobaran api di dalam tubuhku.

Dia.

Hanya dia yang bisa membantuku. Karena dia yang telah menyulut bara api di dalam tubuhku.

Dia duduk pada sebuah matras kasur di dalam sebuah ruangan kosong yang luasnya lebih kecil dari ukuran kamar kost ku. Dia yang tidak lain adalah Mamanya Mira tersenyum puas saat aku masuk ke dalam ruangan. Seorang wanita dewasa semi telanjang duduk sendirian di dalam sebuah ruangan kosong.

Damn, terlihat begitu erotis di mataku.

“aku tau kamu pasti datang” Ucapnya.

Mamanya Mira tau kalau aku akan datang, dia telah mempersiapkan segalanya. Malam ini dia hanya memakai lingerie warna hitam transparan yang seksi. Lingerie itu sangat cocok untuk tubuhnya yang luar biasa. Pencahayaan ruangan yang tidak terlalu terang serta aroma pengharum ruangan yang segar semakin membuat suasana semakin bergairah. Tetapi aku tidak bisa terlalu lama melihat dia mengenakan lingerie itu. Karena sambil berjalan menghampiriku Mamanya Mira melepaskan satu persatu lingerie yang dia kenakan. Sampai akhirnya dia sudah telanjang di hadapanku. Tubuh telanjang yang sejak tadi sore terbayang dalam kepalaku.

Wanita dewasa memang luar biasa. Seluruh tubuhnya sempurna. Mulai dari jari kakinya, betis dan pahanya, pinggul yang seksi, wajahnya yang cantik serta payudaranya yang amazing, semua kesempurnaan itu mengarah pada satu titik diantara kedua pangkal pahanya. Pusat kenikmatan yang menjadi alasanku berada disini malam ini.

Memandang tubuh telanjang Mamanya Mira membuat tubuhku semakin memanas dalam sekejap. Aku jatuh cinta pada tubuh ibu temanku.

“kenapa kamu datang?” Tanya dia.

Kenapa aku datang? Setelah terjadinya perang di kepalaku antara melakukan hal yang salah dan yang benar. Akhirnya aku harus menyerah pada dorongan gairah yang sangat kuat di dalam tubuhku. Aku datang kepadanya karena dia yang telah menyalakan api gairah di dalam tubuhku. Dan hanya dia yang bisa memadamkannya.

“Aku.. aku menginginkan petualangan yang Tante katakan tadi siang.”

Mamanya Mira tersenyum. Wajahnya merona. Dia terlihat senang dan bahagia, mungkin juga bangga karena merasa diinginkan oleh serigala sepertiku. Sebagian wanita pasti bangga menjadi pusat perhatian dan merasa diinginkan oleh pria. Tak terkecuali wanita dewasa yang sudah lama menikah seperti mamanya Mira.

Kemudian dia maju satu langkah ke arahku. Menempelkan payudaranya yang besar di dadaku dan merangkulkan lenganya di leherku. Ah, Aroma tubuhnya begitu memabukkan.

“Mulai sekarang panggil aku.. Mommy” Ucapnya.

Mommy?

Kemudian dia melakukan hal yang tak terduga. Dia mengarahkan wajahnya ke wajahku dan mengecup bibirku sebentar. Aku tidak sempat berekasi. Aku masih kaget dengan gerakannya yang tiba-tiba.

“Kamu ga akan bisa lari lagi dari Mommy” Ucapnya setelah mengecup bibirku. Kami masih saling berpadangan sambil aku masih Mencerna apa maksud dari ucapannya. Apakah ini artinya sudah tidak ada jalan lagi untukku lari dari semua ini?.

“Kamu tegang banget” Serunya“ Rileks Rega, kamu berada di tempat yang tepat. letakkan tanganmu di pantat Mommy!!” Perintahnya. Aku menurut saja apa yang dia perintahkan. Kedua tangaku memegang pantatnya yang besar dan mulus.

“Pinter!!, sekarang beri mommy ciuman” Ucapnya

Kemudian dia mengarahkan wajahnya lagi ke wajahku. Kali ini tidak hanya sebuah kecupan, dia menciumku. Kedua bibir kami saling mengunci. Aku bisa merasakan nafasnya di wajahku. Bibirnya terasa lembut dan manis. Bibirnya bergerak mengapit dan melumat bibir atas dan bawahku secara bergantian. Tentu kami berciuman sambil memejamkan mata.

Kuakui, dia seorang good kisser. Mamanya Mira mencoba menggoda gairahku dengan cara menarik bibirnya dari bibirku. Hal itu membuatku gila karena aku masih ingin merasakan bibirnya. Membuatku terpancing untuk meraih bibirnya yang imut. Semakin kudekatkan tubuhnya pada tubuhku dengan menekan dan meremas pantatnya begitu kuat.

Saat bibir kami terlepas, dia terlihat begitu tenang sambil tersenyum manis memandangku. Sedangkan aku terengah-engah mengatur nafasku seolah semakin terbakar akan gairah setelah merasakan bibirnya yang lezat. Wanita dewasa memang gila. Lalu sambil memandangku, dia membuka sedikit mulutnya dan menjulurkan lidahnya. Langsung kuhisap lidahnya itu dengan kuat, dia mengerang pelan.

“engghhh”

Erangannya semakin membuatku panas. Setelah itu kami saling melumat bibir dan lidah kami secara bergantian. Dia pasti bisa merasakan penisku yang sudah tegang di balik celanaku menyodok nyodok perutnya. Tanganku yang berada di pantatnya tak tinggal diam untuk membelai belahan pantatnya. Aku semakin kewalahan menghadapi ciumannya, sedangkan dia masih bisa terlihat tenang. Seolah ciumanku sama sekali tidak ada artinya baginya.

“Kamu menikmati bibir Mommy?” Tanya dia sambil kedua tangannya memegang kepalaku. Wajah kami masih sangat dekat.

“luar biasa tante” Ucapku masih terengah-engah.

“Mommy !! Panggil aku mommy” Ucapnya Mengingatkanku “Cukup sampai disini atau kita lanjutkan? Kayaknya Mommy gaperlu tanya. Karena Mommy tau kamu ingin merasakan bibir mommy yang lain. Sekarang lepas pakaianmu” Ucapnya lalu berjalan menuju ke arah matras.

Dari belakang, dia terlihat seperti wanita muda kebanyakan. Tubuhnya terlihat sangat seksi. tidak akan ada yang berpikir kalau dia adalah wanita berusia kepala empat. Lalu dia duduk diatas matras melonjorkan kakinya.

“Lepas pakaianmu Rega, kamu malu sama Mommy?” Tanya dia. “Kamu ga perlu malu, rileks, anggap aku ibumu” Ucapnya.

“Bukankah itu sangat….. aneh” Ucapku. Bagaimana aku bisa berpura-pura menganggapnya ibuku sedangkan dia telanjang seperti itu dihadapanku. Dan “Ibu macam apa yang mencium anak cowoknya di bibir dengan ganas seperti itu”. Ucapku. Aku tidak akan memanggilnya ‘Mommy’.

“Ssstt, kamu banyak mengeluh. Sini !! tidur di pangkuan Mommy biar kamu lebih rileks” Ucapnya sambil menepuk nepuk pahanya yang mulus.

Damn, berbaring di atas pahanya yang putih dan juga mulus di bawah kedua payudaranya yang besar. TAWARAN YANG SUSAH UNTUK DITOLAK. Aku berjalan ke arahnya tapi sebelum aku naik ke atas matras dia manahanku.

“Eits, lepas dulu pakaianmu” Serunya.

Shit. Dia menatapku dengan takjub saat aku melepaskan satu persatu pakaianku dihadapannya.

“Sudah lama Mommy tidak melihat tubuh telanjang Pria lain lagi, badanmu bagus banget Rega.” Ucapnya.

“Wait, Pria lain? Ini bukan pertama kalinya Tan….”

“Mommy !!, Susah banget sih dibilangin” Serunya sedikit kesal.

Sial. Aku masih penasaran, apakah dia tidak sengaja mengatakan kalau pernah berselingkuh dari Papanya Mira? Itu sebabnya dia terlihat sangat tenang dan terkesan biasa-biasa saja melakukan hal gila denganku. Entahlah, Kalaupun memang benar dia pernah selingkuh sebelum denganku artinya dia benar-benar wanita yang bermasalah.

Begitu juga denganku. Shit. Meskipun ini salah, aku masih tetap tidak punya kekuatan untuk menolaknya. Aku tidak tau apa yang akan terjadi besok, apa yang terjadi saat Mira tau apa yang akan aku lakukan dengan Mamanya atau saat suaminya tau istrinya selingkuh denganku. Dan aku tidak ingin mempedulikan itu. Aku sudah gelap mata.

Karena Aku menginginkan dia.

Karena Aku menginginkan malam ini.

Aku menginginkan malam ini berdua dengannya.

“Kamu punya masalah yang benar-benar BESAR Rega” Ucapnya melihat penisku yang sudah berdiri menghadapnya “Sini sayang, berbaring di pangkuan Mommy. Mommy akan mengurus masalahmu”

Tanpa berpikir panjang aku memposisikan tubuhku untuk berbaring disebelahnya dan menyandarkan kepalaku di pangkuannya, di atas pahanya yang putih mulus. Ahh nyaman banget. Apalagi dengan posisi seperti ini aku bisa melihat dengan jelas bagian bawah payudaranya. Wajahku sangat dekat dengan payudaranya. Aku ingin sekali mencium, menghisap, menggigit payudaranya itu.

Tangannya bergerak untuk membelai dadaku. Badanku langung merinding disentuh oleh tangannya yang terasa dingin di kulitku. Matanya memandang lurus ke wajahku.

“kamu punya mata yang Indah Rega.” Ucapnya.

“Emm, thanks” balasku.

Aku tidak terlalu mempedulikan ucapannya. Karena Saat ini seluruh tubuhku dan pikiranku sedang terfokus pada gerakan tangannya di tubuhku, yang kini membelai bagian dalam pahaku.

“Mommy tau, kamu suka dengan wanita yang lebih dewasa darimu, karena kamu tidak akan disini jika kamu tidak menyukainya. hahaha” Ucapnya sambil tertawa puas.

Sial dia mengejekku. Cowok normal usia berapapun akan tergiur dengan tubuhnya.

“apa ada yang salah dengan itu?” Tanyaku

“Tidak sama sekali.” Serunya “sangatlah normal ada remaja yang tertarik secara seksual kepada wanita yang lebih tua darinya” jawabnya.

Daritadi tangannya hanya mengusap-usap bagian dalam pahaku. Dia sama sekali tidak mempedulikan penisku yang sudah berdiri tegak. Daripada membelai pahaku kenapa dia tidak langsung saja meraih dan mengocok penisku?. Shit, dia pasti sedang menggodaku.

“Sudah pernah merasakan wanita yang lebih tua darimu?” Tanya dia. Aku diam saja. Kenapa dia bertanya seperti itu?. Jawabannya sering, karena benar apa yang dia katakan. Aku lebih tertarik dengan wanita yang lebih dewasa dariku. Tidak hanya tertarik dengan kepribadian wanita yang lebih dewasa dariku, tapi aku juga lebih suka bercinta dengan mereka. Rein, Alexa, Kak Neta, dan masih banyak yang lain termasuk yang sudah menikah seperti Mbak Tina, Dosen hyper, dan wanita di klub saat itu.

“Kuanggap kamu sudah pernah.” Serunya “tapi pernahkah kamu bersama dengan wanita yang benar-benar dewasa? Yang seumuran dengan ibumu?” Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak pernah membayangkan akan bertelanjang berdua bersama wanita dewasa yang usianya seperti bunda. Tapi dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang sudah tua.

“Mommy tadi siang udah bilang, kalau mommy pengen punya anak cowok yang sehat dan tampan seperti kamu. Anak cowok yang bisa menggantikan tugas Daddy-nya saat sedang berlayar. seorang anak cowok yang menginginkan tubuh Mommy-nya ” Ucapnya .

“hahh?” AKu kaget mendengar pengakuannya.

“Setiap orang punya fantasi seksual sayang” Ucapnya.

Gila. Dia punya fantasi seperti itu?. jadi itu alasannnya daritadi memintaku untuk memanggilnya Mommy’? Tapi membayangkan jika aku jadi anaknya dan tinggal bersama ibu yang seksi seperti dia. Pasti aku akan sange setiap saat. Shit, kenapa aku jadi terangsang membayangkan itu.

“kamu menginginkan Mommy?” tanya dia. Lalu kurasakan jari tangannya menyentuh dan memilin bagian bawah kepala penisku.

“ahhhhh”

Shit. Stop. Please jangan disana. Bagian itu sangat sensitif. Aku tidak bisa tahan lama jika dia terus-terusan menyentuh bagian itu. Sentuhan tangannya pada penisku sampai membuat pinggulku perlahan terangkat.

“katakan kalau kamu menginginkan Mommy !!” Ucapnya sambil mentapaku yang sedang keenakan karena tangannya yang sedang mengocok penisku. Sial. Aku tidak tahan lagi.

“Aku menginginkanmu.. Mom” Ucapku.

“hmm? Kamu menginginkan tubuh Mommy? Ahhhh sshhh Reegggaa..” . Dia tersentak kaget.

Aku sudah tidak tahan, tanganku langsung meraih payudara Mommy yang daritadi menggantung indah di samping wajahku. Kuremas dengan kuat payudara besarnya sampai Mommy merintih entah itu kesakitan atau keenakan.

“ahhh sayangg, shhh”

Rintihannya semakin membuat telingaku panas. Semakin membuatku bersemangat meremas payudaranya. Gila memang, payudaranya sangat Bulat, kencang dan lembut secara bersamaan. Aku tidak akan bosan meremas payudara sebesar ini sampai pagi.

Kemudian kuangkat sedikit kepalaku lalu meraih salah satu payudaranya dengan mulutku. Kuciumi dan kukecup kulit payudaranya dari bawah. Sumpah aku ingin melahap semua payudaranya tapi payudara Mommy terlalu besar untuk mulutku. Aku semakin menyadari kalau payudara Mommy lebih besar daripada payudara Rein yang sudah sering aku hisap setiap malam.

“nggghhhh.. ngghhh”

Mommy semakin merintih saat bibirku memainkan puting payudaranya yang besar berwarna coklat.

“Shhhh,, iya gitu,, isep tete Mommy sayang.. achh”

Jika kalian berada di ruangan ini, kalian akan melihat pemandangan yang sangat erotis. Seperti seorang ibu yang sedang menyusui anaknya yang masih kecil, aku rebahan di pangkuan Mommy sambil menghisap salah satu puting payudaranya. Jika biasanya seorang Ibu akan mengusap kepala anaknya yang sedang menyusui agar cepat tidur, tangan Mommy mengocok penisku dengan lembut. Rintihan dan desahan dari mulut Mommy bagaiakan lagu ‘nina Bobo’ yang biasa dinyanyikan seorang ibu kepada anaknya.

Seiring dengan hisapan mulutku pada putingnya, Mommy semakin intens mengocok penisku. Gerakannya tangannya di penisku semakin cepat. Dan semakin cepat gerakan tangannya, semakin nikmat rasanya.

“shhh,, sayang, kemarin.. ahh kemarin waktu Mommy tidak sengaja melihat apa yang kamu lakukan kepada Mira, Mommy sama sekali tidak marah denganmu. Sshhhh saat itu satu-satunya yang mommy pikirkan adalah, Mommy harus merasakan kontolmu ini menyodok sangat dalam di dalam meki mommy yang basah” Jelasnya.

Aku melotot mendengar penjelasannya yang terdengar erotis. Dia mengincarku sejak kemarin. Aku langsung membangkitkan tubuhku dan mencium bibir Mommy sambil tetap meremas payudaranya. Kami berciuman lagi dengan sangat panas. Kemudian sambil tetap berciuman tanganku berpindah ke bawah, menyusuri perut Mommy ke bawah lagi sampai bertemu dengan rambut-rambut halus di selangkangannya lalu memegang penuh memek Mommy. Kemudian kumasukkan Jari tengah tanganku ke dalam memek Mommy.

“engghhhh” Mommy mengerang di tengah tengah ciuman kami.

“Kalau memang itu yang mommy pengen,, aku masukin ya Mom?” tanyaku setelah ciuman kami terlepas. Mommy menghentikan kocokan tangannya pada penisku. Kali ini dia hanya menggenggamnya. Kami saling berpandangan. Gairah sudah menguasaiku. Aku ingin segera merasakan tubuh Mommy. Ingin merasakan memek Mommy yang sudah basah ini.

“Kamu pengen masukin sekarang?” Tanya dia, mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Kenapa harus buru-buru? Malam masih panjang, masih banyak yang ingin mommy lakukan padamu”

Kemudian Mommy mendorong tubuhku pelan sampai aku terbaring lagi di atas matras. Lalu Mommy merangkak di atas tubuhku. Tubuh kami saling menempel. Payudaranya tepat di dadaku dan kurasakan memeknya dia gesek gesekkkan di penisku. Lalu Mommy menghujaniku dengan ciuman.

“biarkan Mommy bersenang-senang dulu dengan tubuhmu” Ucapnya di telingaku. “malam ini biar Mommy yang mengurusmu, Kamu diem aja!!”

Kemudian lidah Mommy menjajah leherku. Aku dicumbunya secara ganas dan bersemangat. Aku hanya bisa pasrah dan memejamkan mataku, membiarkannya melakukan apapun yang dia suka. Berbagai ciuman, jilatan dan gigitan kecil dia lancarakan di leherku. Membuatku semakin tergila-gila. Aku juga merasakan payudaranya menghimpit dadaku. Begitu hangat. Jari jemarku tak tinggal diam membelai pantatnya.

“Mommy pengen menciun bibirmu tiap malam” Ucapnya di sela sela ciumannya di bibirku. Aku hanya bisa tersenyum. Kemudian dia melanjutkan cumbuannya.

“ahhh”

Aku tidak bisa menahan desahanku saat cumbuan Mommy berpindah di putingku. Sedikit menggeser tubuhnya di samping tubuhku dan salah satu Kakinya disilangkan di atas kakiku. Tangannya meraih penisku yang sudah sangat tegang dan mengocoknya. Mulut Mommy semakin bernafsu mengulum masing masing putingku seccara bergantian. Aku semakin mengerang merasakan geli di puting dan penisku.

“ahhhhh Momm sshh”

Sesekali Mommy menjilati putingku dengan lidahnya. kemudian menggigitnya lalu mengulum dan menjilatinya lagi. Sedangkan tangannya masih mengocok penisku. Mommy tau banget cara memanjakan tubuh seorang pria. Kemudian Mommy menaiki tubuhku lagi. Dia menggesek gesekkan payudaranya yang besar di dadaku. Kami saling berpandangan.

“Tetekmu gede banget Mom” Ucapku

Dia tersenyum, dia sangat tau kalau aku suka dengan payudaranya yang besar. Dia pasti tau kalau aku menyukai apa yang dia lakukan.

“Pengen tau apa yang sering diminta Daddynya Mira dengan tetek Mommy?” Tanya dia.

“Apa?”

Mommy bergerak ke bawah tubuhku lalu dia melebarkan kedua kakiku. Dia duduk melipat kakinya diantara kedua kakiku. Lalu memberi tanda agar pantaku berada di atas pahanya. Penisku yang berdiri tegak kini sudah dihadapannya. Aku tau apa yang akan dia lakukan. Sambil mengocok penisku dengan kedua tangannya, Mommy meludahi penisku.

“Sssh ahh” Aku mendesis saat Mommy melumuri penisku dengan air ludahnya. Penisku jadi mengkilap karenanya. Kemudian penisku yang sudah basah diletakkan diantara kedua payudaranya yang besar. Payudara Mommy yang gede menjepit penisku lalu kedua payudara itu ditekan satu sama lain dengan kedua tangannya. Kemudian Mommy menggerakkan payudaranya itu ke atas dan ke bawah.

“Ahhhh.. Mommm”

5 detik..​

Gilakkkk, enak banget sumpah. “Ahhhhh”. Penisku diapit payudara dengan ukuran sesesar itu. Uhhh nikmat banget.

“kamu menyukainya?” Tanya Mommy sambil tetap menggesekkan payudaranya.

10 detik..​

“Suka banget ,, ahhh”. Payudaranya terasa lembut di penisku.

Tiba-tiba Mommy menundukkan kepalanya lalu memasukkan ujung penisku di dalam mulutnya. Sambil tetap melakukan ‘titjob’, mommy mengulum ujung penisku dengan mulutnya.

20 detik..​

“ahhhh Mommyyy,, enak banget Momm” Aku semakin mengerang nikmat merasakan lidah Mommy memainkan ujung kepala penisku. Fuckkk..sensasi ini membunuhku.

“ahh ahhh ahhhhh Mommm”

Aku tidak tahan lagi, penisku semakin menegang.. Mommy sepertinya tau aku akan segera orgasme. Dia segera mengeluarkan penisku dari mulutnya. Tapi sedikit terlambat.

30 detik…​

“Acchhhhhhhhhh…” Spermaku langsung berhamburan di wajah, leher dan belahan dada Mommy. Dia menatapku tajam.

“Mm,,maaaf” Ucapku merasa bersalah. Dia terlihat heran denganku. Apakah dia marah karena aku menyemprot wajahnya. ?

“Cepet banget sih? Kamu belum pernah melakukannya?” Tanya dia sambil membersihkan spermaku di wajahnya dengan lingerienya yang tergeletak di atas matras. “belum sampai satu menit, bahkan belum dimasukin, kamu masih perawan sayang? gapapa jujur saja sama Mommy,”

Sial, seburuk itukah aku?. fuckkk, ini memalukan. Dicky pernah bilang, wanita dewasa akan bisa menilai pasangannya di atas ranjang. Tapi ini bukan pertama kalinya bagiku.

“Aku sudah sering melakukannya” jawabku

“Lalu kenapa kamu keluarnya cepet banget? Kamu lebih buruk dari Daddynya Mira.“

Shit. Sumpah malu banget dikatakan seperti itu oleh seorang cewek. Aku kesulitan menahan orgasme karena stimulasi yang dia lakukan pada penisku begitu intens. Aku tidak pernah merasakan gesekan payudara senikmat tadi, belum lagi aku sudah menahannya sejak tadi siang. Itu sebabnya daritadi aku minta untuk segera penetrasi di dalam memeknya. Tapi dia masih ingin terus melakukan foreplay.

Mommy mulai mengocok peniku lagi yang masih layu.

“Istirat bentar Mom, kasih waktu biar bisa berdiri lagi” Ucapku. Dia menatapku tajam, sial, sepertinya dia masih kesal aku crot terlalu cepat.

“Biar Mommy yang mengatasinya” Ucapnya.

Lalu Mommy menjilati penisku yang masih menciut. Menjilati sisa-sisa sperma yang masih ada di ujung penisku. Kemudian Mommy memasukkan penisku ke dalam mulutnya lagi. Dia mengulum lagi penisku. Tidak sampai satu menit penisku mulai membesar lagi di dalam mulutnya. Damn, aku tidak menyangka penisku bisa ereksi secepat itu dengan mulutnya. Mommy mulai menaik turunkan kepalanya dengan cepat. Kurasakan kenikmatan yang sama seperti saat penisku bergesekan diantara kedua payudaranya. Mommy menghisap penisku dengan kuat lalu dikeluarkannya dari mulutnya. Kemudian menjilati ujung penisku yang sudah menegang. Dia mengulangi gerakan seperti itu selama beberapa kali.

“sshh,, uhhhh” Kemudian Mommy mulai memasukkan penisku sangat dalam di dalam mulutnya. Shit, Sensasi ini.

“Mommmm”

Sensasinya paling nikmat dari oral sex. Penisku distimulasi dari setiap sisi. Mommy memaksa agar penisku masuk jauh ke dalam mulutnya. Ketika ujung penisku menyentuh bagian tenggorokannya, Aku semakin tidak tahan. Gawat, jika seperti ini terus aku bisa orgasme lagi.

“Momm, stop,,,ach”

Penisku sudah semakin menegang di dalam mulut Mommy. Tapi Mommy tetap tidak mau melepaskan mulutku dari mulutnya. Mommy tetap berusaha menghisap penisku dengan kuat.

“ahhhhh ahhhh ahh,, Momm aku mau keluarr..”

Dan pada saat aku sudah akan mencapai puncaknya Mommy mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya. Aku sempat kecewa karena hanya tinggal sebentar lagi aku bisa merasakan nikmatnya orgasme. Tapi Mommy punya maksud lain. Dia bergerak cepat kemudian memasukkan penisku di dalam memeknya dengan posisi duduk.

“aaaaaaghhhhh”

Mommy mengerang panjang saat pertama kali merasakan penisku yang sudah sangat tegang menusuk memeknya yang kurasakan masih sempit. Lalu Mommy mulai menarik turunkan pinggulnya.

“ahhh ahhh Keluarin di dalem meki Mommy sayanng” Serunya

“hahhh?” Aku begitu kaget dengan ucapanya. Tapi permintannya itu terdengar begitu menggiurkan. Mungkin dia memakai KB. Mommy saat ini menggoyangkan pinggulnya dengan cepat di atas tubuhku. Kedua tangannya menopang di dadaku. Payudara Mommy pun terlihat menggantung indah.

“ahh ahhh enak banget kontolmu sayanggg ssshhhh”

Aku yang memang sudah akan mencapai puncaknya semakin tidak tahan dengan enaknya gesekan penisku di dalam memek Mommy yang lezat. Kedua tanganku memegang pinggul Mommy, membantunya agar bergerak semakin cepat.

“ahhh ahh”

“ahhh,, ahhhh..ahhhh aku mau keluar Mommmm”

Aku menggerakkan pinggulku agar penisku menusuk sangat dalam. Membuat Mommy mengerang panjang sampai memejamkan matanya. Hingga akhirnya aku orgasme yang kedua kalinya. Spermaku menyemprot memenuhi memek Mommy.

Aku pun terkulai lemas dengan penisku masih di dalam memeknya Mommy. Nafasku tersengal setelah orgasme yang sangat nikmat. Emang paling enak kalau crot di dalem. Membuat orgasme menjadi berlipat-lipat ganda nikmatnya.

“enak sayang?” Tanya dia.

“banget” jawabku

“lagi!!” serunya

“ Hahh? Lagi??”

Mommy tersenyum lalu mulai menggerakkan lagi pinggulnya di atas tubuhku. Beberapa kali goyangan pinggulnya, membuat penisku perlahan-lahan mulai menegang untuk kesekian kalinya hari ini. Namun kali ini kurasakan sedikit ngilu. Itu pasti karena penisku dipaksa harus menegang kembali dalam waktu singkat setelah orgasme. Mommy sama sekali tidak membiarkan penisku untuk beristirahat. Dia benar-benar liar.

“achhh achhhh”

Tapi entah kenapa, memeknya Mommy itu enak banget. Sejujurnya aku juga masih belum benar-benar puas merasakan memeknya Mommy. Dan dalam waktu singkat saja penisku sudah sangat mengeras.

“Achhh Momm”

Mata kami bertemu. Matanya menyiratkan hasrat yang ingin dia lepaskan. Kupegang kedua payudaranya yang daritadi bergerak mengikuti gerakan tubuhnya. Kuremas payudara Mommy dengan kuat. Membuatnya semakin bersemangat menggoyangkan pinggulnya di atas tubuhku. Hentakan pinggulnya semakin cepat dan keras. Suara memeknya dan penisku yang menyatu terdengar begitu keras memenuhi seluruh ruangan.

“achhh achhhhh”

“Achhhhhhhhhhhhhhhhh”

Mommy mengerang panjang sambil pinggulnya ditekan begitu kuat. Sepertinya dia orgasme. Lalu tubuhnya ambruk menindih tubuhku dengan posisi penisku masih di dalam memeknya. Mommy menciumi bibirku. Kami saling melumat bibir dan lidah selamam beberapa saat. Setidaknya akhirnya penisku bisa beristirahat pikirku. Namun aku salah. Dengan posisinya yang menindih tubuhku. Mommy mulai lagi menggerakkan pinggulnya, seakan belum puas mencari kenikmatan.

Sambil tetap berciuman, pinggul Mommy bergerak naik turun memanjakan penisku dan juga memeknya. Tangan Mommy merangkul leherku. Kami saling memandang.

“Momm” Aku merintih saat kenikmatan itu mulai terasa lagi.

“iya sayang??”

“Punya Mommy enak banget ahhh”

“Punya Mommy? Apa??” tanya dia.

“Memek Mommy..” Dia tersenyum

“Mommy juga suka kontolmu sayang, gede banget,, lebih gede dari punya Daddy sshhhh”

“acchh Mommy”

“iya sayang terus,, achh, teriakin Mommy,”

“Mom Achhh Momm uhhhh”

Mommy semakin bersemangat menghentakan pinggulnya dengan keras. Menimbulkan rasa geli di penisku yang tersalurkan ke seluruh tubuhku. Keringat sudah sangat membasahi kedua tubuh kami. Tubuhnya terasa licin diatas tubuhku.

Di tengah-tengah goyangan pinggulnya, kupindahkan tubuh Mommy ke samping. Dia sedikit kaget, aku berinisiatif berganti posisi. Kali ini aku ingin memegang kendali atas tubuh Mommy. Sekarang posisi kami bertukar aku yang di atas tubuhnya. Bergantian aku yang menggerakkan pinggulku. Mommy pun tak kuasa menolak saat penisku menghujam memeknya.

Lalu kuubah posisiku. Kucabut penisku sebentar, cairan spermaku yang kusemprotkan tadi meleleh keluar dari dalam lobang memeknya. kuposisikan duduk diatas matras lalu kubuka lebar kaki Mommy. Kemudian kumasukkan lagi penisku di dalam memeknya Mommy. Dengan posisi seperti ini aku bisa melihat seluruh tubuh Mommy yang indah. Bisa melihat payudara Mommy yang bergoyang-goyang saat memeknya kuhentak. Aku juga bisa melihat dengan jelas ekpressi keenakan di wajahnya.

“Iya gitu teruss sayang,, shhh eeeenak banget kontolmu Rega ahhh”

Mommy semakin meracau dan mengeluarkan kata-kata kotor dari mulutnya saat pinggulku menghentak tubuhnya dengan cepat. Desahannya yang nyaring semakin membuatku bersemangat menghujami memek Mommy. Malam ini hanya Suara desahan kami berdua dan hentakan kelamin kami yang terdengar di telingaku.

“achhh,, achhhhhhh achhhhh”

Kupegang samping perut Mommy yang rata. Lalu kucoba mempermainkan gairahnya dengan cara mencabut pensiku, kuberi waktu beberapa saat kemudian dengan cepat kumasukkan lagi tapi kali ini menusuk sangat dalam di dalam memeknya sampai mentok. Kulakukan beberapa kali teknik itu sampai membuat bagian atas tubuh Mommy terangkat.

“Ssshh,, Mommy mau nyampek sayang,, kencengin,,”

Mendengar hal itu, aku mempercepat penisku keluar masuk. Kurasakan memek Mommy semakin menyempit. Matanya melotot menatapku sambil tetap mengerang.

“achh achhhhh achhhhh achhhhhhhhhhhhh”

Shitt, memek Mommy semakin terasa nikmat jika seperti ini. Penisku terasa dipijat di dalam sana. Lalu tubuh Mommy mengejang dan bergetar hebat, dia merasakan orgasme yang kesekian kalinya. Tubuhnya sampai terangkat lalu terhempas lagi di atas matras. Dia terkulai lemas setelah pelepasan orgasmenya.

“lanjutin sampai kamu keluar” Ucapnya pelan.

Mendapat lampu hijau, aku mulai menggerakkan penisku lagi. Memeknya Mommy sudah dipenuhi cairannya bercampur jadi satu dengan sisa-sisa sperma orgasmeku yang sebelumnya. Setelah dua kali orgasme aku bisa bertahan cukup lama untuk mencapai orgasmeku yang ketiga. Hingga sekitar sepuluh menit kemudian aku masih kuat menggenjot memek Mommy. Bahkan Mommy sudah on kembali.

Beberapa saat kemudian sepertinya aku sudah sampai di ujung batas pertahananku., begitu juga dengan Mommy. Semakin kupercepat gerakan pinggulku. Kedua tanganku meremas dan menekan kedua payudara Mommy dengan kuat.

“achhh achhh achhhhh”

Mommy menegakkan sedikit wajah cantiknya. Dia menatap bagian bawah tubuhnya, melihat bagaimana penisku menghujam memeknya yang semakin memerah. Aku semakin larut dalam gairah yang sebentar lagi akan terlepaskan untuk ketiga kalinya. Pinggulku semakin menyentak liar, sampai membuat Mommy kewalahan. Hingga sampai pada akhirnya aku tidak kuat lagi menahannya, kudorong penisku begitu dalam.

“momm,, aku mau keluarrr achh achhh”

“sshh achhh , keluarin di dalem sayang,,keluarin yang bayakkk”

Hingga akhirnya spermaku menyembur lagi di dalam memek Mommy. Sesaat aku merasa melayang begitu tinggi, merasakan nikmat yang tiada tara di seluruh tubuhku. Kemudian ambruk di atas tubuh Mommy. Jantungku rasanya seperti mau copot.

Beberapa saat kemudian aku berguling ke sisi Mommy. Kami berdua sama-sama terkulai lemas di atas matras. Sama-sama saling memandang langi-langit ruangan dengan nafas yang masih tersengal.

Gila, aku sampai orgasme tiga kali malam ini dengan dia. “Mommy pake KB Kan?” Tanyaku

“Iya sayang, jangan khawatir” Fiuhh, lega rasanya.

“kenapa.. kenapa sesuatu yang salah selalu terasa begitu menyenangkan” Ucapku sambil menatap langit-langit.

Mommy menatapku dengan senyum di wajahnya. “memang terkadang melakukan hal yang salah itu sangat nikmat” Ucapnya “kamu hebat sayang” serunya sambil merangkul tubuhku.

“lebih hebat dari suamimu?” tanyaku.

Dia mengangguk. “sudah lama Mommy tidak pernah merasakan seperti tadi. Besok malam kamu akan datang lagi kan Ga?” Tanya dia.

Besok?? Lagi? Kutatap wajahnya. Kukira ini hanyalah hubungan seksual satu malam. Dia menginginkanku datang lagi? Dia ingin aku menidurinya saat suaminya tidak ada di rumah?

“kenapa kamu melakukan ini denganku?” tanyaku.

Jika dia belum menikah, aku pasti akan kembali lagi kepadanya. Meskipun dia milik cowok lain mungkin aku masih berani melanjutkan ini. Tapi dia sudah menikah, dan mengganggu pernikahan orang lain itu adalah hal lain lagi. Apalagi dia adalah mamanya temanku. Teman yang hampir setiap hari bertemu denganku. Jika ini tidak berhenti hanya malam ini, aku akan semakin merasa bersalah pada Mira.

“jangan bicara seolah kamu tidak menyukai apa yang barusan kita lakukan” Ucapnya serius.

“tadi itu sangatlah luar biasa,, tapi,,,”

“berhenti mengeluh. Semua pria akan berebut menggantikan posisimu, semua pria akan senang melihatku seperti ini” Ucapnya memotong ucapanku.

“bukankah ini terlalu berbahaya? Apalagi untukmu?” tanyaku.

“mungkin aku menyukainya ini, karena berbahaya” serunya. “apa yang kamu takutkan sih? Mira? kamu sendiri mengatakan kalau kamu bukan cowoknya Mira. Mommy tidak akan seperti ini jika kamu pacarnya Mira.” Jelasnya.

“Mommy sudah punya Suami” seruku.

“Suami yang sudah dua tahun tidak pulang,” Serunya, “Dua tahun Daddnya Mira tidak menafkahi batin Mommy” Ucapannya terdengar serius.

Memang gaji seorang crew kapal pesiar itu gede. Apalagi seorang kapten kapal. Tapi mirisnya, mereka tidak bisa pulang ke keluarga mereka sewaktu-waktu. Sekali berlayar, mereka bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan sampai bertahun tahun di atas kapal. Aku bisa merasakan apa yang dirasakannya.

“Kamu tau kehidupan kelam seorang crew kapal?” Tanya dia “Selama terpenjara dia atas kapal, mereka melakukan seks bebas dengan crew yang lain. Meskipun Daddynya Mira tidak pernah mengatakannya, Sebagai istrinya, Mommy bisa merasakan kalau Daddynya Mira juga seperti itu. Dulu banget… Mommy sampai stress memikirkan Daddnya Mira, membayangkan dia tiap malam ditemani crew kapalnya, atau membayangkan dia bersama pelacur disetiap negara yang disinggahi kapalnya. Tapi lama kelamaan Mommy mulai mengerti dan Mommy berhenti membayangkan dan memusingkan apa yang dilakukan Daddynya Mira saat berlayar. Yang terpenting sekarang bagi Mommy adalah Mira. Selama Daddynya Mira tetap peduli dan sayang dengan Mommy dan Mira, itu sudah cukup bagi Mommy. Mommy juga mulai memahami kondisi Daddynya Mira. Dia masih pria normal yang mempunyai kebutuhan yang harus segera dipenuhi… begitu juga dengan kebutuhan Mommmy” Jelasnya.

ini gila, seperti inikah sisi lain dari sebuah pernikahan?. Mommy membelai wajahku.

“Baiklah Mommy tidak akan memaksamu untuk datang malam ini. Datanglah kapanpun kamu mau. Mommy akan selalu menunggumu di ruangan ini setiap malam.” Jelasnya “Mommy sangat kesepian sayang, Mommy sangat berharap kamu untuk datang mengunjungi Mommy, mengurus kebutuhan Mommy, sebagai imbalannya Mommy akan mengurus kebutuhanmu juga. kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Mommy akan mengatur semuanya, kamu tinggal datang kapanpun kamu mau”

“A-aku tidak bisa berjanji… aku akan memikirkannya” Ucapku.

“Kamu pernah melakukannya dengan Mira?” tanya dia.

“be-lum.” Jawabku.

“benaran??”

“Iya benaran, kemarin bersama Mira itu baru pertama kalinya, dan hanya sebatas itu”

“baguslah, karena kamu sudah merasakan tubuh Mommy, mulai sekarang Mommy melarangmu menyentuh anak Mommy, kemarin Mommy maafkan, tapi jika terulang lagi,, Beda lagi ceritanya” ancamnya terdengar serius.

“i-iya”.

Kenapa tiba-tiba dia jadi galak gini?

.

.

.

.

Pagi harinya aku terbangun kebingungan karena aku terbangun bukan di kamar kost. Shit, Aku langsung tersadar kalau semalam aku tidur disiini, di salah satu ruangan di rumahnya Mira. Semalam aku menghabiskan seperempat malam bercumbu dan bercinta dengan Mamanya Mira dan aku ketiduran setelahnya. Bahkan aku masih bugil di atas matras

Tapi aku tidak mendapati Mommy di dalam ruangan. Sinar matahari terlihat dari celah-celah gorden jendela. Astaga, jam berapa sekarang? Aku ada kuliah pagi. Tiba-tiba Pintu ruangan terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruangan.

“Kamu udah bangun sayang?” Tanya Mommy. Dia memasuki ruangan membawa sebuah gelas berisi susu putih. Lalu duduk di atas matras di sebelahku. Pagi ini Mommy memakai lingerie model daster yang sangat ketat. Tubuhnya semakin terlihat semakin sempurna dibalut lingerie itu. Sepertinya dia baru saja mandi, tubuhnya begitu harum. Gilak, Mommy selalu memancarkan sensualitas setiap saat. Dan seperti biasa, dia selalu terlihat cantik.

“Kukira Mira yang datang,, Apakah dia tau aku disini?” tanyaku.

“Mira gak akan pernah memeriksa ruangan ini” Ucapnya

“Dimana dia sekarang?”

“baru saja dia berangkat Ke kampus”

“Aku juga harus segera ke kampus” Ucapku.

“Susu sebelum pergi?” tanya dia.

“Boleh..”

Loh ?. Bukannya memberikan gelas berisi susu itu padaku, mommy malah meminum susu itu sampai habis. Aku jadi terheran-heran. Setelah dia meletakkan gelas di lantai, dia mendorong tubuhku agar terlentang di atas matras. Lalu dia menurunkan bagian depan lingerie itu, kedua payudara Mommy langsung mencuat keluar. Dia tidak memakai bra. Kemudian Mommy menjejalkan payudaranya ke wajahku.

Jadi ini yang dia maksud dengan susu sebelum pergi?. Dijejali payudaranya yang besar, Lidahku langsung memainkan puting payudara Mommy secara bergantian. Kemudian menghisapnya dengan kuat. Membuat Mommy mengerang nikmat. Tanganku memainkan puting payudaranya yang lain sambil sesekali meremas aset terindah milik Mommy itu. Sekitar sepuluh menit aku mencumbu payudara Mommy.

“mommy jadi sange, tapi Mommy gak pengen kamu terlambat ke kampus” Ucapnya “uhm, bantu Mommy sebentar ya?” Ucapnya lalu berdiri. Kemudian dia menarik ke atas lingerie daster yang dia kenakan sampai ke perutnya. Mommy juga tidak memakai celana dalam. Terlihat memeknya Mommy yang semalam aku semprot dua kali. Lalu dia berdiri tepat di atas wajahku. Kepalaku berada di antara kedua kakinya. Kulihat dengan jelas garis memeknya Mommy dari bawah. Kemudian dia menurunkan tubuhnya dan jongkok di atas wajahku. Dia menempatkan memeknya tepat di mulutku. Aroma khas memek wanita langsung merebak.

Lidahku melakukan tugasnya menjilati memek Mommy dengan lembut. Mommy melihatku melakukan oral pada memeknya. Tanpa ragu lidaku menjilati bibir memeknya Mommy sampai dengan bagian dalam memeknya. Mommy menjerit nikmat.

“Acchh iya sayang disitu,, sshhhh”

Semakin lama, Mommy semakin menekan nekan memeknya ke mulutku. Beberapa kali dia menggesekkan memeknya yang mulai basah di wajahku. Sampai akhirnya Mommy merasakan orgasme setelah beberapa menit merasakan permainan lidahku. Tubuhnya bergetar. Cairan orgasmenya yang keluar dari memeknya kuhisap habis. Lalu Mommy berdiri kemudian mencium bibirku yang masih terdapat cairan orgasmenya.

“Makasih sayang,” Ucapnya. “Mandilah dulu di dalam” Ucapnya, lalu berjalan mendekati pintu. Sebelum keluar ruangan Mommy berusaha merapikan lingerinya yang masih tersingkap ke atas. Kulihat penisku yang berdiri sangat tegak. Lalu kulihat bagian belakang tubuh Mommy. Garis pantatnya yang begitu menggoda sampai akhirnya dia sudah menutupi bagian bawah tubuhnya.

Sebelum Mommy benar-benar keluar dari dalam ruangan. Aku bangkit dan berjalan cepat ke arahnya. Kupeluk tubuhnya dari belakang.

“ehh?”

Lalu kuangkat lagi lingerinya ke atas. Lalu kumasukkan penisku ke memek Mommy dari belakang.

“Rega,, ahhhh, sshh,, kamu nanti bisa terlambat ke kampus ahhh ahhhh ahhhh” Ucapnya. Aku langsung menyodok pantat Mommy yang besar sambil berdiri dan sambil kuremas payudaranya dari belakang.

“Kalau hari ini aku bolos kuliah, apa kamu akan memarahiku Mom?”

.

.

.

Pagi sampai siang itu kami melakukannya lagi dua kali. Di ruangan itu dan satu lagi di dalam kamar mandi. Selain dia memang ganas di ranjang, Mommy memang sosok yang sangat keibuan. Dia sangat memanjakanku di rumahnya. Dia memandikanku, memasakkan makanan untukku, bahkan dia juga menyuapiku. Sampai akhirnya siang tiba, aku pun pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan ke rumah aku memikirkan permintaan Mommy tentang kebutuhannya. apakah sudah cukup sampai disini? atau Haruskah aku kembali lagi malam nanti? Atau aku memang tidak akan pernah bisa lari darinya? Bagaimana menurut kalian?

.

.

.

Ohh shit, kenapa kebetulan banget sih?. Aku sampai di rumah bersamaan dengan Angel, mobil super mewah miliknya dia parkirkan di depan rumah. Lalu dia keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekatiku yang berdiri dekat pintu pagar.

Yappp itu dia, The Ice Queen dengan tatapannya yang selalu dingin kepadaku. Aku tidak akan menyapanya. Males banget!!. Aku gak ingin berurusan dengannya, karena hal buruk selalu terjadi padaku ketika aku berurusan dengan cewek menyebalkan seperti dia. Angel masih memakai baju yang semalam dia kenakan saat pergi meninggalkan rumah. Sama denganku, sepertinya semalam dia juga tidak tidur di rumah. Dan mungkin hari ini dia juga tidak datang ke kampus. Meskipun siang ini dia terlihat pucat dan lusuh, Angel tetap terlihat cantik seperti biasanya.

Tapi siang ini aku merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dia hanya berdiri diam saja di dekatkku. Dia menatapku tapi tatapannya kosong. Aku tidak pernah melihat dia seperti ini sebelumnya. Padahal biasanya dia selalu marah saat aku memandangnya terlalu lama.

Ahhh, ngapain juga aku harus mempedulikan cewek songong seperti dia. Lagipula jika aku bertanya, dia tidak akan menjawabku. Lebih baik aku diam dan membiarakan dia. Kemudian aku membuka gembok pagar dan masuk ke dalam rumah. Dan meskipun pintu pagar sudah kubuka, Angel masih tetap terdiam di balik pagar. Dia terlihat semakin aneh.

“kamu mau masuk atau enggak?” Tanyaku dari balik pagar.

Dia menatapku, lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam halaman. Bagaikan seorang pelayan yang sedang menunggu sang Ratu masuk ke dalam istana. Aku berdiri memegangi pintu pagar sampai Angel masuk ke dalam halaman. Duh, males banget. Setelah mengunci pagar, aku mengikutinya dari belakang untuk masuk ke dalam rumah.

Kulihat Angel menghentikan langkahnya saat berada di beranda. Salah satu tangannya memegangi kepalanya. Tiba-tiba dia terlihat kehilangan keseimbangan, kemudian,, OH Shit… Aku langsung berlari cepat ke arahnya dan tubuhnya pun terhempas ke belakang tepat di dadaku. Aku begitu terkejut dengannya. Untung aku tepat waktu.

“hey.. hey ?!! kamu Kenapa?” Tanyaku.

Tapi tidak ada jawaban darinya, matanya terpejam.

“Hey !!?? Angel?” Ucapku kali ini agak keras berharap dia mendengarku sambil menggoyang-goyangkan pundaknya.

Tapi tetap saja tidak ada reaksi darinya. Melihat kondisinya, wajahnya yang pucat dan tingkahnya yang aneh, dia pingsan?. Kenapa sih dia? Mabuk? Tapi aku tidak mencium aroma alkohol dari tubuhnya. Atau mungkin dia sedang sakit? Yang pasti dia memang sedang tidak baik-baik saja. Sial, kenapa dia seperti ini saat bersamaku sih?.

Kuraih kedua kaki Angel untuk menggendongnya. Shit, Berat banget tubuhnya. Dengan payudara sebesar itu, tidak heran badanya terasa sangat berat. Sepertinya memang aku harus mulai Nge-gym lagi. Kemudian kugendong dia masuk ke dalam rumah dan membawanya ke sofa ruang tengah. Kubaringkan tubuhnya disana.

Beberapa menit kemudian Angel masih tidak sadarkan diri. Daritadi aku menunggu di sampingnya, dan sempat kubuatkan secangkir minuman hangat untuknya. Wajahnya masih terlihat pucat pasi, saat kupegang dahinya, sebenarnya tidak begitu panas. Mungkin dia sedang kelelahan, dia seperti orang yang sedang tidur. Dadanya naik turun dengan teratur.

Dari jarak sedekat ini, aku semakin bisa melihat dengan jelas tubuhnya yang semakin hari terlihat semakin sempurna. Bahkan wajahnya sangat cantik. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Tidak kalah cantik dengan Kakakku pikirku. Malahan mereka berdua terlihat begitu mirip. Tapi sayang, wajah cantiknya Angel tidak cocok dengan sifatnya yang temperamen, terlebih jika kepadaku. Angel terlihat sangat berbeda Kalau sedang seperti ini, wajahnya terlihat tenang dan damai. Rasanya seperti melihat bidadari yang sedang tertidur. Jauh beda dengan saat dia terbangun, Angel seperti iblis yang mengerikan

Aku masih memperhatikan wajahnya Angel yang terbaring di sofa. Kemudian mataku menangkap dua gundukan besar di dadanya yang daritadi bergerak naik turun seiring nafasnya yang teratur. Gila Memang, gede banget. Meskipun tidak sebesar payudara Mommy, tetap saja besar. Apalagi dia hanya memakai tanktop ketat berwarna putih. Aku bisa melihat jelas lembah diantara kedua gunung kembarnya yang begitu menggoda untuk ditelusuri. Hanya dalam keadaan seperti ini aku bisa puas memandang payudara Angel yang besar. Hihihi, bahkan mungkin aku bisa,, shit, tiba-tiba terlintas keinginan untuk menjamah payudara Angel. Tidak.. tidak,, aku bukan cowok seperti itu. Bagaimana nanti jika dia tiba-tiba terbangun?. Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya.

Saat aku menatap wajahnya lagi, aku begitu kaget dan terperanjat ke belakang ketika melihat Angel sudah membuka matanya. Dia menatapku sangat tajam.

“KENAPA AKU DISINI?” Teriaknya sambil berdiri menatapku.

Angel terlihat sangat murka. Lalu dia memegang bajuku dan memaksaku untuk berdiri kemudian mendekatkan tubuhku pada pada tubuhnya. “APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADAKU?”

“Hoi, hoi. tunggu, tunggu. Kamu tadi pingsan di depan” Seruku. Angel terlihat kaget lalu dia melihat sekeliling.

“Berapa lama aku pingsan?” tanya dia. Tangannya masih mencengkram bajuku.

“umm. Sekitar 15 menit” Jawabku “lepasin dulu bajuku bisa nggak sih”

“Pasti kamu curi curi kesempatan pegang-pegang badanku. Ya kan?” Tuduhnya. Sial. Segitu buruknya aku di matanya. Aku jadi menyesal tadi kenapa gak sekalian kupegang pegang tubuhnya.

“Emang” Jawabku kesal. Angel semakin terlihat kesal mendengar jawabanku lalu dia menarik bajuku dengan keras “Kalau aku nggak memegang badanmu, bagaiamana aku bisa memindahkanmu kesini?” Jelasku dengan cepat sebelum dia semakin marah.

“KAMU PIKIR AKU PERCAYA?” Bentak dia.

“Beneran aku ga ngapa-ngapain, kamu pikir aku cowok apaan?”

“ COWOK MESUM DENGAN OTAK CABUL, PASTI KAMU MENYENTUHKU SAAT AKU PINGSAN ” Teriaknya tepat di depan wajahku.

Sial, aku semakin kesal dituduhnya seperti itu. “KAMU BENAR. AKU MEMANG COWOK MESUM, DAN BENAR AKU EMANG PENGEN MENYENTUH TUBUH INDAHMU, TERLEBIH LAGI KAMU MEMANG CANTIK. TAPI…”

“BRENGSEK, COWOK MENJIJIKKAN..” Potongnya,

“TAPI AKU TIDAK AKAN MENYENTUH TUBUH SEORANG CEWEK TANPA PERSETUJUAN DARINYA” Ucapku dengan nada tinggi. Dia langsung terdiam. “Meskipun kuakui otakku cabul,. aku juga masih punya hati untuk tidak membiarkanmu pingsan di depan, menunggu disampingmu, mengkhawatirkanmu dan membuatkan minuman hangat untukmu, gatau terima kasih banget sih jadi orang”

Akhirnya Angel melepaskan tangannya dari bajuku, kemudian dia duduk lemas di sofa sambil memegang kepalanya. Dia merintih kesakitan.

“hey, kamu gapapa?” tanyaku “minumlah ini” Seruku sambil memberikan minuman hangat yang tadi kubuat. Dia menatapku.

“Jangan khawatir, aku tidak memasukkan apa-apa disana” Jelasku. Akhirnya dia mau menerima dan meminumnya.

Kemudian dia berdiri, lalu berjalan melewatiku tanpa berkata apapun menuju tangga.

“Kamu beneran gapapa? Kalau kamu mau, Aku bisa mengantarmu ke Klinik” Tanyaku saat dia berjalan pelan menaiki anak tangga sambil membawa cangkir minuman hangat yang tadi kubuat untuknya.

“Aku cuman butuh tidur” Ucapnya singkat.

Terima kasih? No?, mana mungkin dia mau berterima kasih kepadaku. Dasar Cewek menyebalkan.

.

.

.

BEBERAPA HARI BERIKUTNYA

Kamis Sore Sepulang dari kampus, aku sedang bermalas-malasan di atas tempat tidur sambil menatap layar handphone. Memeriksa Timeline Twitter dan Membaca satu-persatu tweet orang-orang yang aku follow.

Oiya, sebagai tanda terima kasih karena sudah membantuku membelikan barang-barang cewek sialan kamar sebelah, Malam ini aku mengajak Mira dan Winry makan malam bersama di restoran yang biasa aku datengin berdua dengan Rein. Mungkin sebentar lagi Mira akan datang. Sayangnya Luna tidak bisa ikut bergabung dengan kami karena dia sedang banyak tugas kuliah.

Sampai dengan hari ini aku belum pernah kembali ke rumahnya Mira lagi. Aku masih ragu untuk kembali kesana. Karena setiap aku bertemu Mira di kampus, aku selalu merasa bersalah karena sudah beradu kelamin dengan mamanya. Walau sebenarnya aku sangat merindukan payudara Mommy yang indah itu.

Tak lama kemudian aku keluar dari dalam kamar, turun ke lantai bawah bermaksud untuk mengambil minuman di dapur. Saat aku sudah menuruni anak tangga aku melihat sesuatu tergeletak di lantai dekat dengan sofa panjang di ruang tengah. Berbentuk segitiga berenda di setiap sisinya. Berwarna biru dengan hiasan pita kecil. Aku begitu familiar dengan barang-barang halus seperti itu. Karena barang yang tergeletak di lantai itu adalah sebuah celana dalam. Apalagi itu adalah celana dalam seorang cewek. Tak terhitung sudah berapa kali aku melepas celana dalam seperti itu dari tubuh seorang cewek.

Tapi celana dalam siapa itu? dan kenapa ada di lantai?

Penasaran, Kudekati celana dalam itu. Semakin jelas kalau celana dalam itu berukuran kecil dan gak bakalan muat untuk pantatnya Angel yang lumayan. Jadi celana dalam itu milik.., waktu aku akan mengambil celana dalam itu, Winry dari arah ruang laundry berteriak dan berlari cepat ke arahku.

“SENIORR….. JANGANNN”

Eh?

Winry terlihat begitu panik saat aku akan mengambil celana dalam yang tergeletak di lantai. Dia masih berlari cepat ke arahku. Semua terjadi begitu cepat. Saking paniknya, saat Winnry berlari untuk berusaha mendahuluiku mengambil celana dalam itu, dia tersandung kakinya sendiri. Winry menjadi kehilangan keseimbangan. Dia terjungkal ke depan dengan kedua tangannya menjulur ke depan mencoba meraih apapun yang bisa diraih. Hingga akhirnya tidak bisa dihindari lagi, dia menabrak tubuhku dengan keras tepat di dadaku. Tubuhku jadi terdorong ke belakang dan aku terjatuh terlentang di atas sofa panjang. Sementara tubuh Winry tepat berada diatas tubuhku. Akibat dorongan yang begitu keras, kacamataku sampai terlepas entah kemana.

Winry masih berada diatas tubuhku. Tubuhnya menempel erat pada tubuhku. Kedua tanganku mengelilingi pinggang mungil Winry. Terlihat seperti sedang memeluknya. Tanganku bisa merasakan langsung kulit pinggang dan punggungnya karena bagian bawah kaosnya tersingkap ke atas saat terjatuh. Kedua wajah kami begitu dekat. Tatapan kami saling mengunci. Terlebih tatapan matanya kepadaku, begitu syahdu. Tatapannya berhasil membuat jantungku berdetak tidak karuan. Beberapa detik berlalu, kami masih terdiam kaku dalam posisi seperti ini. Sampai akhirnya sebuah suara seseorang menyadarkanku.

“Ka..kalian lagi ngapain?” Tanya seseorang dari arah pintu.

Aku dan Winry tersentak kaget dan saling melepas tatapan. Dan bersama-sama memandang arah pintu.

Disana Mira berdiri membeku, kebingungan melihatku dan Winry yang sedang dalam posisi mesra di atas sofa. Winry langsung memberi jarak pada tubuhku. Dia terlihat salah tingkah dan juga kebingungan.

“A-aku mandi dulu” Ucap Winry terbata-bata lalu berjalan cepat menaiki anak tangga.

Apa itu tadi? Perasaan ini begitu kuat. Winry?. Kurasakan jantungku masih berdetak cepat. Apakah ini yang dinamakan dari mata turun ke hati?. Seperti itu yang dikatakan pepatah. Mira mendatangiku dengan tatapan tajamnya. Kemudian aku bangkit dari sofa dan menemukan kacamataku kembali.

“Emm, itu tadi Winry kepleset, ga sengaja menabrakku he he” Jelasku pada Mira setelah memakai kacamata. Lalu Mira mengambil celana dalam milik Winry yang masih tergeletak di lantai. Kemudian menatapku lagi. Shit, kenapa celana dalam itu masih disana?

“Kepleset?” Tanya Mira meminta keyakinan atas ucapanku. “Pas banget jatuhnya diatas sofa”

“He he”

Lalu Mira berjalan menyusul Winry ke kamarnya. Sebelum dia naik tangga dia menolehku lagi. “oiya, di depan ada cewek, Berdiri nyender di tiang lampu lagi ngelihatin rumah ini. siapa ya?” Jelasnya.

“Cewek?” Tanyaku

“Iya, mukanya ga keliatan karena dia pake topi item, tinggi, rambutnya panjang, pake celana dan atasan warna item juga”

Deg Deg

AL ?

Aku langsung berlari cepat menuju depan rumah setelah mendengar penjelasan dari Mira. Begitu sampai di halaman depan, aku tidak melihat siapapun diluar rumah. Aku juga tidak melihat ada orang yang berdiri di depan tiang lampu komplek seperti yang dikatakan Mira. Kemudian aku mencoba memastikannya lagi dengan keluar pagar. Melihat ke kanan dan kiri, aku tidak melihat siapapun di sepanjang blok.

Shit. Cewek itu sudah pergi.

AL ? Benarkah itu kamu?

.

.

.

.

—-POV WINRY—-

Seusai mandi aku bergegas kembali ke dalam kamar. Miranda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kedua kakinya menggantung di tepi tempat tidur. Dia sedang asik menatap layar ponselnya. Kemudian aku melepas seluruh pakaianku, kulihat wajahku di depan cermin yang menempel di lemari.

Demi apapun, aku ingin menampar wajahku sendiri karena begitu ceroboh. Di depan Kak Rega aku melakukan hal bodoh. Huft. Memalukan. Kemudian aku mengingat apa yang terjadi saat aku dan Kak Rega di sofa. Wajahku memerah dengan sendirinya mengingat itu, saat dia memelukku. Perasaan itu lagi. Perasaan aneh ini ketika Kak Rega ada di sekitarku. Perasaan itu semakin kuat setiap hari,aku hampir saja tidak bisa menahan diri. Tidak, aku tidak bisa, aku tidak boleh, aku harus menahan diri. Tapi bisa sedekat itu dengan Kak Rega membuat jantungku berdebar tak menentu, perasaan yang sama seperti yang kurasakan dulu. Aku tersenyum sendiri sambil membuka lemari. Saat itu, melalui pantulan cermin aku mendapati Mira sedang menatapku tajam. Dengan cepat kubuang pandanganku darinya. Aku harap dia tidak berpikiran macam-macam setelah melihatku dan Kak Rega di sofa tadi.

Ripped Jeans ketat dan kaos berwarna gelap yang kupilih dari dalam lemari. Kemudian Kuambil kemeja flanel oversize sebagai outwear. Malam ini Kak Rega mengajakku dan Mira makan malam bersama di luar. Saat makan malam nanti, sebisa mungkin aku akan berusaha kulupakan kejadian memalukan tadi. Semoga dia juga melupakannya agar suasana tidak semakin menjadi akward antara aku dan Kak Rega.

“Win..” Mira mendekatiku yang sedang meratakan bedak di wajahku di depan cermin. Aku menoleh ke arahnya.

“lihat ini, bagaimana menurutmu?” Tanya dia

Mira menunjukkan galeri foto di ponselnya. Begitu banyak foto Mira dalam berbagai macam pose dan ekpressi. Dalam foto-foto itu dia terlihat sangat cantik dan natural. Aku sih yakin itu foto-foto yang akan dia pakai untuk portofolio UKM Modelling.

“Bagus, ciee yang mau jadi model” Ucapku, lalu melanjutkan meratakan bedak di wajahku.

“Kalau yang ini?” Tanya dia lagi.

Aku begitu kaget saat dia menunjukkan fotonya yang lain. Di dalam foto itu Mira tampak setengah telanjang hanya mengenakan bra dan celana dalam yang dengan pose yang sangat seksi dan nakal di dalam kamarnya.

“Gilakkk, Kamu ngapain sih foto kayak gitu? Kalau ada yang lihat fotomu kayak gini gimana?” tanyaku heran. Dia hanya tersenyum.

“suka-suka aku dong, tebak siapa yang motoin?” tanya dia.

“Siapa? Pasti mamamu” Jawabku, dia menggelengkan kepalanya.

“Kak Rega” Jawabnya.

“Jangan Bercanda, pasti mamamu kan” Seruku.

“Beneran tau’ , hari minggu kemarin Kak Rega datang ke rumah, dia ga ngasih tau kamu?”

Aku masih tidak begitu percaya dengan ucapan Mira. Mana mungkin Kak Rega yang motoin Mira. Lagipula,

“Hari minggu kemarin dia bilang padaku kalau pulang ke rumahnya” Ucapku

“berarti dia bohong sama kamu, nih lihat” Ucapnya sambil menunjukkan ponselnya lagi.

Aku kembali dibuat terkejut oleh foto di ponselnya Mira. Kali ini layar ponselnya terdapat foto kak Rega berada di dalam kamarnya Mira sambil memegang kamera DSLR punya Mira. Jadi benar yang motoin Mira adalah Kak Rega? Kenapa Kak Rega berbohong kepadaku? Mira berbalik badan berjalan menuju ranjang.

“kami juga sudah melakukannya” Ucapnya.

Hah?

“Melakukan apa?” tanyaku pelan.

“Yaaa itu,, tau nggak, ternyata itunya Kak Rega gede loh Win, sampai ga muat di mulutku”

Astaga.

“MIIIIRRRRAAAA” Aku membentaknya. “Kali ini kamu udah kebangeten Mir. Kak Rega kan sudah berpacaran dengan Luna, kenapa kamu jadi seperti ini sih?” Ucapku sedikit memarahinya. Mira terlihat sangat tenang, bahkan dia masih bisa tersenyum.

“Kak Rega sendiri yang bilang kalau dia tidak berpacaran dengan Kak Luna atau dengan siapapun, jadi aku bebas dong make Kak Rega kapanpun aku mau.” Ucapnya dengan santainya “kenapa kamu mengatakan kalau mereka berpacaran?”

“Hah?? A-Aku…”

Jika dipikir-pikir lagi, aku menganggap Kak Rega dan Luna berpacaran karena saat itu Luna bermalam di kamarnya Kak Rega dan mereka bercinta. Jadi mereka tidak berpacaran? Lalu kenapa pagi itu mereka melakukannya? Atau Kak Rega yang berbohong kepada Mira hanya agar bisa melakukannya dengan Mira. Astaga, aku tidak tau lagi mana yang benar. Aku terlalu banyak mencampuri urusan Kak rega dan Mira, hal yang seharusnya dari awal tidak aku lakukan. Dan kenapa Mira memberitahukan ini kepadaku?Kenapa baru sekarang? Tunggu dulu,, jangan-jangan.

“kamu sengaja mengatakan ini kan?” Tanyaku. Dia menatapku tajam.

“kenapa? kamu marah? Kamu jeles aku ml dengan Kak Rega? Hah? Kamu suka ya dengan Kak Rega? Kamu sudah lupa dengan janjimu?” Tanya Mira terdengar emosi.

“Bicara apa sih kamu Mir? Aku gak punya perasaan apa-apa kepadanya” Jawabku gak kalah emosi dituduh seperti itu oleh sahabatku sendiri.

“KALAU KAMU GA PUNYA PERASAAN KEPADANYA, KENAPA SAMPAI SEKARANG KAMU MEMANGGILNYA ‘SENIOR’ ? KENAPA?” Bentaknya dengan nada tinggi.

Pertanyaan Mira seperti sebuah tamparan keras di wajahku. Kenapa? Kenapa aku harus memanggil Kak Rega dengan panggilan ‘senior’? satu-satunya alasan kenapa aku memanggilnya seperti itu adalah karena dia….

“kalau kamu ga suka aku dekat-dekat dengan dia, harusnya dari awal kamu tidak memaksaku tinggal disini bersamanya,” Ucapku pelan sambil menunduk “besok aku akan pergi dari sini dan mencari tempat kost yang lain”

“gak perlu” Jawabnya singkat lalu berdiri. “yang penting kamu tau kalau kamu harus menjaga jarak darinya, menjaga sikapmu saat bersamanya, jangan kegatelan”

Astaga, Mira gak pernah berkata seperti itu kepadaku. Lalu dia berjalan mendekati pintu bermaksud keluar kamar.

“apa saja yang kamu katakan kepadanya?” Tanyaku pada Mira sebelum dia keluar kamar. Dia menatapku.

“aku gak berkata apapun. haruskah kukatakan kepadanya?” tanya dia, lalu keluar kamar.

Tak kusangka, aku harus ribut dan bertengkar dengan Mira sahabatku karena seorang cowok. Apa yang harus aku lakukan? Kubenturkan kepalaku pelan di cermin. Terdengar suara Mira dari luar kamar.

“Aku dan Winry udah siap Kak, Ayuukk !! udah laper nih..”

.

.

.

.

—-POV REGA—-

Dengan diantar sopir Taxi, akhirnya kami sampai di restoran yang sering aku datengin berdua dengan Rein. Miranda tampak takjub dengan dengan restoran yang kami datangi. Sedangkan Winry tampak biasa-biasa saja.

“waaaaaa istimema banget Kak” Seru Mira “ayo masuk”

Ajaknya lalu lengannya merangkul lenganku dan memaksaku berjalan lebih cepat masuk ke dalam restoran, meninggalkan Winry di belakang.

Seorang pelayan restoran mengantarkan kami pada sebuah meja yang sudah kupesan sebelumnya. Aku dan Mira duduk saling berhadapan, Winry duduk di sebelah Mira. Musik klasik terdengar mengalun dari segala arah. Sambil menunggu hidangan datang, Mira mengamati sekeliling restoran yang malam ini cukup ramai pengunjung. Winry hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya. Winry tidak begitu bersemangat, berbeda dengan Mira yang terlihat begitu antusias kuajak kesini.

Tak lama berselang, hidangan makan malam akhirnya datang satu per satu. Kami bertiga pun hanyut dalam santapan malam yang sangat enak. Kami mengobrol ringan sambil terus menyantap masakan restoran dengan hidangan dan pelayanan bintang lima. Umm, yang aku maksud dengan ‘kami’ adalah aku dan Mira. Hanya aku dan Mira yang daritadi ngobrol dan bercanda. Sedangkan Winry hanya diam saja. Malam ini Winry seperti orang asing diantara aku dan Mira. Ada apa dengannya? Apakah dia tidak suka dengan makanannya?

“kak !! cewek kayak gimana yang kamu suka?” Tanya Mira.

“maksudnya?”

“Kak Rega suka cewek yang seperti apa? Kayak Kak Luna gitu? atau yang hot kayak Angel atau Kak Manda?”

Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu?. “umm, bagiku yang lebih penting itu kepribadiannya sih” Ucapku.

“ itu Mitos dan bohong banget !! yang dilihat pertama kali oleh cowok itu pasti fisik” Serunya. Kupandang Winry yang sedang melihat ke arah lain, dia pernah bilang kalau cowok adalah makhluk visual.

“Kak Rega harus jawab jujur, suka cewek Yang Cantik?” tanya Mira Cepat.

“hah? Apaan sih Mir? Emangnya ini acara Talkshow..” Protesku

“ihhh.. udah sih jawab aja.” Serunya. “suka cewek Yang Cantik?”

“umm, i-ya semua cowok pasti suka cewek cantik” jawabku

“Seksi?”

“Boleh juga”

“putih atau coklat?”

“Putih”

“Putih mulus ya? Hihihi.. “Tinggi?”

“umm, gak harus sih”

“Rambutnya Panjang?”

“ya, aku lebih suka cewek berambut panjang dan lurus”

“Gede?” tanya dia sambil memperagakan memegang dadanya.

“umm, kalau itu sih,,,,,”

“Semua cowok pasti suka yang gede. Hahaha” Potong Mira sambil tertawa.“make up atau polosan?”

“Muka polos tanpa make up memang lebih natural tapi aku lebih suka dengan cewek yang memakai make up karena,, umm pastinya lebih menarik dan terlihat lebih cantik yang penting gak berlebihan. cewek yang tampil dengan make up itu biasanya percaya diri, iya nggak sih?”

Mira tersenyum sambil mengangguk anggukan kepalanya. “yang pasti gak bikin malu ketika digandeng ya kak? Hahahha”

Tiba-tiba Winry berdiri dari tempat duduknya, dia memandang Mira. “aku mau ke toilet dulu” Ucapnya lalu pergi meninggalkan kami.

“Winry kenapa sih?” Tanyaku pada Mira. Dia hanya mengangkat kedua bahunya lalu melanjutkan makan.

Winry memang pendiam, tapi malam ini dia lebih banyak diam daripada sebelumnya. Dia tampak seperti tidak nyaman disini. Atau dia sedang ada masalah? Nanti di rumah aku akan mencoba bertanya padanya. Aku ingin lebih peduli dengan Winry, karena kami tinggal satu atap. Apalagi, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi masalahnya, Winry itu tertutup banget tentang kehidupan pribadinya. Aku harus mencari cara agar dia mau berbagi kepadaku.

.

.

.

Setelah makan malam selesai, kami bertiga keluar dari restoran dan berjalan menuju jalan raya depan restoran untuk mencari Taxi. Lagi-lagi Mira menggandeng lenganku berjalan membelakangi Winry. Saat berjalan, aku merasakan beberapa tetes air jatuh beruntun di atas kepalaku. Reflek aku mendongak, memandangi langit malam di atas kami. Tetesan air yang jatuh tiba-tiba berubah menjadi semakin deras. Segera kusambar tangan Mira buru-buru mengajaknya mencari tempat berteduh. Mira tidak menolak kuajak berlari agak cepat di halaman restoran.

“astaga, Winry” Celetuk Mira. Ucapnya saat kami berdua berteduh di dekat pos security. Mira melepaskan tangannya dari tanganku lalu menghadap ke belakang. Aku pun ikut memandang ke belakang. Memandang ke arah Winry.

Bukannya mencari tempat untuk berteduh. Winry hanya berdiri mematung. Tubuhnya yang sudah basah kuyup tersorot lampu jalanan. Winry menjulurkan tangannya sambil mendongak ke langit malam yang berhiaskan mendung. Dia memejamkan mata. Dia tersenyum. Wajahnya berseri seakan merasakan kebahagiaan di setiap tetesan air hujan pada tubuhnya.

Beberapa saat aku terpesona dengan apa yang kulihat. Kemudian aku tersadar. Hujan semakin deras. Aku tidak ingin Winry terus-terusan di bully oleh air hujan. Aku pun melangkah ke arahnya namun Mira menahanku. Mira menggelengkan kepalanya.

“biarkan dia sebentar lagi” Ucapnya

“tapi Mir, nanti dia bisa sakit”

“Percaya aku Kak, sudah lama dia menantikan hujan turun seperti ini.” Ucapnya padaku lalu dia memandang Winry

Apa maksudnya? Aku masih belum mengerti. Beberapa menit kemudian bersamaan dengan hujan yang semakin mereda Winry mendekap tubuhnya sendiri. Saat kulihat wajahnya. Astaga.

“Dia..?”

“Menangis” Seru Mira.

Ya Benar. Meskipun air hujan menyamarkan air matanya. Tapi Winry memang menangis mendekap tubuhnya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Winry menangis? Kenapa perasaan hatinya berubah begitu cepat? Tadi kulihat Winry begitu bahagia seperti anak kecil yang bahagia saat bermain-main di bawah guyuran air hujan. Sekarang dia menangis dan terlihat sangat sedih.

Aku tidak pernah melihat Winry serapuh itu. Di balik sikapnya yang tenang dan tegar menjalani hidup seorang diri di dunia. Winry tetaplah seorang manusia biasa yang tidak bisa menahan emosinya, perasaan di dalam hatinya. Meskipun aku tidak apa yang sebenarnya terjadi, Melihat Winry seperti itu, membuatku merasa semakin ingin menjaganya. Terlebih lagi Winry adalah seorang cewek. Sudah kodratnya, cewek adalah makhluk istimewa yang terkadang membutuhkan perhatian khusus. Mereka harus selalu dijaga, dilindungi dan dicintai. Meskipun dia bukan pacar.

“Kak Rega pulang sendiri gapapa kan? Malam ini biar Winry tidur di rumahku. Dia pasti membutuhkan teman” Ucapnya lalu berjalan mendatangi Winry.

“Oh? O-ke..” lalu aku berjalan mengikuti Mira.

“biar aku saja Kak” Seru Mira.

Aku pun menghentikan langkahku. Sebenarnya aku ingin tau apa yang terjadi kepada Winry. Tapi sepertinya memang hanya Mira yang bisa mengerti Winry. Hanya Mira yang dibutuhkan Winry saat ini. Karena mereka sudah sahabatan sejak lama. Kehadiranku mungkin akan semakin membuat Winry tidak nyaman. Mira medekati Winry dan langsung memeluknya. Winry pun menangis tersedu-sedu dipundak Mira.

.

.

.

.

.

.

Hampir satu jam kemudian Taxi yang mengantarku pulang dari restoran baru saja tiba di depan rumah. Saat turun dan akan masuk ke dalam rumah aku melihat pemandangan yang aneh dari rumah kost. Aku terheran-heran melihat keadaan rumah yang gelap gulita. Aku semakin terkejut saat menyadari kalau pintu pagar terbuka begitu lebar.

BERSAMBUNG

(Lembaran Yang Hilang Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Lembaran Yang Hilang Part 13)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game