Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 9

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 9 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 9 Start

Aku sadar kalau bertamu ke rumah janda kembang di desa akan jadi bahan omongan, setidaknya di lingkungan sekitar Rusmini tinggal. Karena aku hanya ‘tamu’ di desa ini, maka aku berusaha menghindari konflik atau gesekan dengan masyarakat Plosomulyo. Bahaya dong kalau berimbas ke penilaian mata kuliah KKN hehehe. Sehingga aku ngajak Rahman, setidaknya untuk menghindari gosip-gosip bahwa aku dan Rusmini melakukan perzinahan. Setidaknya bisa jadi alasanku untuk ngeles ke warga kalau kita melakukan konsultasi medis hehehe.

Setelah waktu maghrib aku mengajak Rahman mengendarai motor untuk ke rumah Rusmini. Motor H*nda S*pra berplat merah milik pak kuwu yang dipinjamkan untuk kelompok KKN, kunyalakan dan kupanasi. Sebelum aku & Rahman gas pol menuju rumah Rusmini, kami menyempatkan mampir ke minimarket untuk membeli susu yang khusus dikonsumsi ibu hamil. Dalam hati akan ada rasa sungkan kepada tuan rumah kalau tidak memberi sesuatu, toh memberi sesuatu ke ibu hamil adalah amal kebaikan. Selain membelikan susu, kami membelikan kepiting rebus untuk Rusmini. Karena kandungan protein yang ada dalam sea food untuk ibu hamil sangat baik. Dari mana uang untuk membeli ? Dari Om Suyudhi dong, terima kasih om hehehe.

Singkat cerita kami tiba di rumah Rusmini, kondisi sekitar memang sepi. Kuketuk pintu sambil mengucap salam. Tak lama kemudian dia membukakan pintu dari dalam dan menjawab salam yang kuucapkan. Memang bener-bener janda kembang, dengan daster longgar tanpa lengan yang Rusmini kenakan menambah pesonanya di mataku.

“Ayo Mas Fajar sama temennya, silahkan masuk” ujar Rusmini ramah tamah.

Aku dan Rahman masuk, kemudian duduk di ruang tamu bersama Rusmini. Sebagai cara untuk membalas kebaikan tuan rumah, aku memberikan susu ibu hamil dan kepiting rebus yang kami belikan sebelum datang.

“Duh mas kok repot-repot, aku jadi sungkan” ucapnya malu-malu.

“Nggak apa-apa kok rus, kami mbelikan itu semua buat dedek bayi yang kamu kandung” jawabku diplomatis.

“Iya mbak, kebetulan yang saya pelajari di kuliahan, susu punya manfaat buat anak yang Mbak Rusmini kandung. Biar nanti anaknya punya badan yang lebih tinggi. Kalau kepiting rebus harus dimakan supaya janinnya sehat” tambah Rahman dengan mantap karena dia anak kedokteran.

“Oalah baru tau saya mas, maklum saya ini baru hamil pertama. Lagipula saya ini cuma lulusan Madrasah Aliyah jadi nggak mudeng begituan hehehe.”

“Ngomong-ngomong mbak, orang tua pergi kemana ?” tanyaku pada Rusmini.

“Tadi habis maghrib pergi kondangan ke nikahan kerabat yang ada di kecamatan sebelah. Rombongan sama tetangga-tetangga sebelah naik pikep.”

Memang hal yang jamak bagi orang desa kalau pergi ramai-ramai menggunakan mobil pick up atau disebut pikep. Mobil pick up bagi orang desa memang serba guna, mulai dijadikan sebagai pengangkut hasil panen, kadang digunakan sebagai ambulans untuk warga yang harus dibawa ke RS, bahkan untuk piknik. Mereka yang ikut rombongan kadang iuran untuk memberi ‘uang terima kasih’ pada pemilik, bahkan sering juga naik mobil pikep dengan cuma-cuma. Ini membuktikan bahwa gotong royong atau kebersamaan di desa sangat kuat, beda jauh dengan kota.

“Oh ya mas, mau dibuatin apa ? Masak tamu nggak disediain apa-apa” tawar Rusmini pada kami berdua.

“Aku minta dibikinin teh tawar mbak” pinta Rahman.

“Kalau aku teh manis rus, kalau bisa semanis dirimu…eaaaa…” godaku yang membuat Rusmini tersipu malu.

“Ah Mas Fajar mah ngegombal bae. Kalau mau jajan buka aja toples yang ada di meja. Maaf ya seadanya” kemudian ia berlalu menuju dapur.

Singkat cerita Rusmini datang dari arah dapur membawa dua gelas teh dengan tatakan.

“Diminum ya mas…”

“Ya mbak…” jawab kami berdua kemudian meminum teh yang dibuat Rusmini.

Kami bertiga ngobrol biasa, mengenai kehidupan sehari-hari saja. Meskipun Rusmini beberapa kali izin ke kamar mandi. Maklum ibu hamil, kemihnya pasti tertekan sama kandungannya.

Rusmini bercerita mengenai tidak terwujudnya keinginannya untuk melanjutkan pendidikan sampai kuliah. Alasannya klasik sebetulnya, ketiadaan biaya dan keinginan orang tuanya untuk segera menikah. Sangat disayangkan di negeri ini banyak anak bangsa yang ingin melanjutkan kuliah namun terhalang oleh biaya dan mindset orang tua. Bahkan ada sebagian kecil mahasiswa yang memiliki biaya dan didukung penuh keluarga, malah malas-malasan dalam menjalankan studi. Ironis bukan ?

“Oh ya rus, kamu tadi di WA bilang mau ada perlu. Emang ada perlu apa ? Barangkali ada yang bisa kami bantu” tanyaku pada Rusmini mengalihkan topik pembicaraan. Jujur aku penasaran apa mau dia, karena baru pertama kali diundang untuk main ke rumah salah satu warga desa.

Rusmini menjawab sedikit ragu, “Mmm…gini Mas Fajar sama Mas Rahman, saya tau diri kalau saya hanya janda dan orang kampung. Tolong jangan benci sama saya.”

“Jangan sungkan gitu dong mbak, apa yang bisa kami bantu ya kami bantu. Toh ngapain membenci orang yang minta tolong ? Kan sesama manusia harus saling menolong” ucap Rahman dengan tegas.

“Bener nih mas ? Nggak kenapa-kenapa kan kalau saya minta tolong ?” tanya Rusmini.

“Emang kenapa rus kalau kenapa-kenapa ?” tanyaku balik pada Mbak Rusmini, meskipun agak absurd.

Rusmini menarik nafas dalam-dalam dan kemudian membuangnya, seolah mengucapkan sesuatu yang berat.

“Rusmini ini janda mas, yang juga mengandung bayi. Sejak seminggu lalu saya ngidam untuk disetubuhi sama mahasiswa KKN. Mungkin ngagetin Mas Fajar sama Mas Rahman, tapi ya begitu saya ngidam. Saya pengen anak saya pintar dan punya masa depan yang cerah kayak Mas Fajar sama Mas Rahman, kalau janin yang Rusmini kandung disemprot mas berdua. Lagipula Rusmini sudah nggak pernah ‘disentuh’ sama laki-laki sejak enam bulan lalu, ya begini mas kehidupan janda…. Tapi kalau Mas Fajar sama Mas Rahman nggak mau Rusmini nggak maksa, tapi tolong mas jangan benci saya apalagi diceritakan ke orang-orang.”

Jujur aku kaget mendengar permintaan Rusmini untuk dientot kami berdua, tapi ada rasa iba yang menyelimuti rasioku. Memang ngentotin orang yang belum kenal betul bertentangan dengan akal sehatku, karena aku percaya bahwa persetubuhan adalah puncak dari hubungan antar individu yang mencintai. Rasa ibaku pada Rusmini cenderung mengalahkan rasio, bahkan nafsuku ! Bagaimanapun Rusmini juga memiliki kebutuhan seksual yang harus dipenuhi, selama ada orang yang mau membantu. Tidak seperti pergumulanku dengan Yuri maupun Kania dimana nafsuku dominan. Kali ini tidak.

“Mbak yakin mau kami gituin dua orang sekaligus ?” tanyaku sedikit ragu. Sebenarnya aku juga nggak tega sih ngentotin ibu hamil.

“Gantian boleh, langsung dua juga boleh mas….”

“Bro, kamu mau nggak ?” tanyaku dengan berbisik pada Rahman.

“Wah kalau gue sih nggak dulu bro, belum siap lepas perjaka buat janda. Mending lu aja deh, secara lu udah pengalaman” bisik Rahman.

“Ya udah deh rus, kamu sama aku aja. Kita mau ‘main’ dimana ?”

“Bro, tolong pantau kondisi yak” pintaku pada Rahman. Rahman mengacungkan jempol padaku, tanda setuju.

“Mainnya di kamarku aja mas…ayo sini” ajak Rusmini sambil menggandeng tanganku. Kemudian kami masuk dan mengunci pintu kamar, agar tidak terganggu oleh siapapun.

“Rus, kamu nggak nuntut aku buat nikahin kamu kan ?” tanyaku agak gugup.

Dia tersenyum, “Nggak kok mas, mas berhak dapat perempuan yang jauh lebih baik dari saya. Justru saya bersyukur soalnya Mas Fajar mau melayani saya yang lagi ngidam.”

Aku mencium keningnya, kemudian kutatap matanya dalam-dalam. Kusosor bibirnya yang tipis, bibir kami saling melumat. CUPPP…CEEPPP… suara bibir kami beradu. Tanganku tak tinggal diam, kujamah payudaranya yang ranum meskipun masih ditutupi oleh daster dan bra yang dikenakannya. Sadar bahwa aku sedang meremas-remas toketnya, Rusmini langsung memelorotkan tali daster beserta tali bra yang dia kenakan agar tanganku dan payudaranya bersentuhan secara langsung. Kutaksir toketnya berukuran 34B, sedikit lebih kecil dari Yuri sih hehehe.

Setelah puas berciuman dan meremas-remas toketnya, aku meminta Rusmini untuk melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya hingga bugil. Tubuhnya putih dengan perut yang membuncit, dan memeknya dihiasi bulu-bulu yang cukup rapi. Sementara aku melepaskan kaos, celana jeans, serta CD yang kukenakan. Rusmini tampak kaget ketika kontolku yang lumayan besar berdiri dengan tegak. Kutuntun tangannya untuk meraba-raba kontolku. Tapi dia masih terlihat malu-malu kucing ketika memegang kontolku.

Biar nggak keburu orangtuanya datang, aku mendorong tubuhnya pelan untuk terlentang. Seolah tau apa maksudku, Rusmini melebarkan kakinya, tanda siap untuk dientot.

“Kamu udah berapa lama nggak ngewe ?” tanyaku sambil mengarahkan kontolku untuk memasuki memeknya.

“Mmhhhh… enam bulan mas….Uhhh…” jawabnya sembari merasakan gesekan kontolku di liang vaginanya.

Tanpa segan-segan dan aba-aba, aku tancapkan kontolku. SLEBBB. Rasanya sempit tapi agak licin. Relatif gampang masuk, tapi tetap menjepit kontolu. Mataku terpejam dan mendesah pelan merasakan kehangatan memeknya di kontolku. MMHHH. Menurutku memeknya jauh lebih hangat dibanding memeknya Yuri maupun Kania.

Dengan tempo pelan kumaju mundurkan kontolku di dalam liang surgawi Rusmini sampai mentok. Tubuhnya tidak bergerak, pasif, karena menikmati kontolku.

“Ahhhh…..Ahhhhh…..Ennaaaakk Mas…” desahnya menikmati genjotanku pada memeknya.

Cuma digenjot lima menit dia sudah orgasme, tubuh Rusmini mengejang hebat, dan berteriak cukup kencang. Cairan klimaksnya pun membasahi kontolku. Kuhentikan sementara genjotanku agar dia menikmati orgasmenya, lagipula tubuh Rusmini cukup lemas dan kehilangan tenaga akibat orgasme tadi. Aku pun merebahkan diri di samping tubuhnya dengan kontol yang masih tegak berdiri.

“Mas, boleh gantian di atas nggak ?” tanya Rusmini. Aku pun mengangguk. Dia kemudian mengangkangi sambil memegang kontolku dan mengarahkannya ke lubang memeknya. SLEBBB, dengan lancar kontolku memenuhi memeknya. Rusmini sendiri tidak menggenjotku dengan gerakan naik turun, lebih tepatnya bergoyang-goyang. Mungkin agak lemas. Justru pinggulku yang aktif melakukan gerakan naik turun untuk menambah sensasi persetubuhan kami.

Seperti tidak mempedulikan keberadaan Rahman di ruang tamu, kami mendesah dengan cukup kencang. Kira-kira sepuluh menit, tubuhnya mengejang tanda orgasme kedua kalinya. Kontolku yang sudah tidak tahan kehangatan memeknya pun menyemprotkan pejuh di dalam memeknya. CROOTTT CROOTT CROOTTT. Cukup banyak cairan hina yang kusemprotkan. Rusmini pun menikmati semprotanku sambil memejamkan mata.

“Banyak banget mass…” sambil beralih merebahkan tubuhnya di sampingku. Kulihat banyak spermaku yang keluar dari dalam memeknya dan membasahi sprei kasur.

Kulihat jam tanganku, ternyata sudah jam 21.30 WIB. Meskipun permainan kami relatif sebentar, tapi hari sudah terlalu malam. Aku pun segera bangkit dan memakai pakaianku.

“Terima kasih ya rus, aku mau pulang duluan” kuucapkan kemudian kucium keningnya. Mungkin karena capek dan lemas, Rusmini sudah memejamkan matanya tanpa mengenakan busana. Ada senyum yang merona di wajahnya, sepertinya ngidamnya sudah terpenuhi. Aku keluar dari kamarnya dan langsung mengajak Rahman pulang. Ya itulah malam dimana pengalamanku pertama kali ngentot janda kembang yang lagi hamil hehehe.

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 9 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 9 – END

(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 8)Sebelumnya | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 10)