Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 8

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 8 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 8 Start

Mahasiswa-mahasiswa KKN dari universitasku memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam menyikapi KKN di desa. Ada yang cuma nongkrong di basecamp dan menghabiskan waktu selama sebulan doing nothing. Tapi ada juga yang menghabiskan waktu dengan kegiatan produktif dan mengabdi pada masyarakat desa. Bervariasi alasan mereka dalam melakukan KKN, ada yang sekedar untuk memenuhi mata kuliah wajib, ada yang ikut KKN untuk cari pacar, ada juga yang melakukan KKN untuk ‘murni’ mengabdi pada masyarakat. Buatku tidak ada alasan yang salah atau benar, karena setiap orang punya kehendaknya sendiri-sendiri.

“Nanti kalau KKN nggak perlu dibikin ribet, enjoy saja. Ibaratkan anda sedang liburan di desa” begitu sabda dosen pembimbingku saat memberikan pembekalan.

Biarkan saja beliau ngomong begitu, toh aku nggak rugi apapun. Walaupun aku nggak sepenuhnya setuju dengan sabda dosen pembimbingku pada waktu itu. Karena KKN lebih dari sekedar liburan menurutku, harusnya ada proses sharing pengalaman antar anggota kelompok maupun saling berbagi pengalaman antara kelompok KKN dengan masyarakat desa. Aku selalu mengingat Tri Dharma Perguruan Tinggi yang didoktrinkan padaku pada saat mengikuti pengenalan anggota baru OMNI, “Pendidikan-Pengajaran, Penelitian-Pengembangan, dan Pengabdian pada masyarakat.”

Ya, aku paham kalau banyak yang bilang orang-orang idealis macam aku ini bullshit. Sering ngomong melangit tapi apa yang dilakukan tidak signifikan. Harus diakui banyak aktivis nasionalis-progresif yang seperti ini, ketika menjadi aktivis teriak-teriak membela rakyat tapi ketika sudah berkuasa lupa sama rakyat, bahkan korupsi. Memang, ada orang bijak yang pernah berkata, “Jika ingin menguji seseorang yang sebenarnya, maka berikan dia kekuasaan !”

Hari ini sudah seminggu kami menghabiskan waktu di Desa Plosomulyo, kami memang melakukan sesuatu yang menurut kami produktif dan signifikan. Mungkin yang belum terlaksana adalah penyuluhan pertanian dan penyelenggaraan 17 Agustusan. Singkat cerita hari sudah menginjak sore, pagi dan siang kami habiskan untuk mengajar anak SD yang ada di SD 02 Plosomulyo. Sebagaimana kebiasaan soreku di kosan, aku menyempatkan diri untuk nonton TV di ruang keluarga yang tersedia di basecamp. Basecamp ini memang nyaman menurutku, cukup luas dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

Sudah seminggu aku tidak mengikuti berita nasional, maka kuputuskan untuk memilih salah satu channel TV swasta yang up to date memberitakan perkembangan nasional maupun internasional. Program TV tersebut memberitakan perkembangan pembangunan infrastruktur yang gencar-gencarnya digalakkan oleh Presiden Jokowi. Mala melongok keluar dari kamar, kemudian berjalan menuju depan TV. Ia duduk di sebelahku, meskipun berjauhan. Kutangkap ekspresi kesal di wajahnya ketika melihat berita yang tersaji di TV tersebut.

“Alah, buat apa bangun infrastruktur kalau harga-harga sembako masih ‘mencekik’ masyarakat !” ujarnya nyinyir.

Menanggapi nyinyiran tersebut, aku bertanya pada Mala, “Mmmm…lha terus kudu gimana pak presiden menurutmu ?”

“Ya bangun budaya produktif masyarakat dong ! Masak dari dulu cuma bangun jalur distribusi ? Harusnya sih subsidi BBM dan bahan pokok masyarakat. Ngapain bangun infrastruktur kalau ujung-ujungnya utang ? Emang kita mau makan aspal apa ?” jawab Mala dengan berapi-api.

“Kalau nggak ada jalan yang layak, kira-kira mungkin nggak ada industri yang dibangun ? Mungkin nggak ada jalur distribusi barang antar wilayah ? Mungkin nggak ngebangun budaya produktif kalau nggak ditunjang jalur distribusi yang baik ? Ya nggak mungkin lah !” kataku lugas.

“Subsidi BBM ? Siapa yang disubsidi ? Orang yang punya mobil dan berpenghasilan menengah ? Itu mah salah sasaran bos ! Yang mestinya di subsidi kan kalangan bawah, bukan menengah. Katanya mau bangun budaya produktif, masak ngebangun budaya produktif di satu sisi masih bermental subsidi ? Manja bener dong. FYI ya mal, negara nggak punya fresh money dalam jumlah besar. Jadi terpaksa ngutang buat bangun infrastruktur. Buatku sih nggak masalah negara ngutang, asal uang pinjamannya dipake buat hal yang jelas. Toh, dalam prinsip kredit, orang bakal meminjamkan uang ke orang yang diperkirakan mampu membayar utangnya. Kalau dinilai mampu membayar kenapa nggak ? Toh pemerintah juga bisa memperkirakan pemasukan dari infrastruktur yang dibangun” kutimpali panjang lebar, layaknya seorang guru sedang berdebat dengan muridnya.

“Pokoknya aku nggak suka sama presiden yang sekarang. Apalagi partai yang ngusung dia, korupsi terus kerjanya.”

Ya beginilah kalau menghadapi ‘Kampret’, dijelaskan sepanjang lebar apapun pasti nembak ke arah yang nggak beraturan. Awalannya selalu “pokoknya”, walaupun sudah kalah berargumentasi.

“Ya sekarang gini aja, partai mana sih yang bener-bener nggak ada sama sekali yang korupsi ? Power Tends to Corrupt. Semakin banyak suatu partai megang jabatan yang pasti paling banyak korupsi ya dari sana. Bahkan partai seagamis kayak Partai Bulan Sabit Padi aja ada kok yang ketangkep KPK, malah ketuanya hehehe” ucapku setengah mengejek Mala, karena menduga kalau dia adalah simpatisan partai tersebut.

Mala sendiri adalah kader organisasi ekstra mahasiswa yang berideologi Tarbiyah. Kutahu banyak kadernya yang memiliki kedekatan dengan partai yang kusebut tadi. Aku mengakui kalau kader-kader seperti Mala ini militan betul. Meskipun cenderung emosional dan kurang menggunakan rasionya.

“Kamu ini nggak tau atau pura-pura nggak tau ? Ustadz LHI itu dikriminalisasi sama KPK ! Beliau dituduh korupsi, padahal dia nggak merugikan negara.”

“Betul dia nggak nyolong uang negara, tapi dia nerima uang suap dari pengusaha importir daging sapi kan ? 1,3 milliar lagi ! Menurutku kalau sudah diputus oleh hakim ya berarti udah terbukti melakukan kejahatan dong ? Mau dari partai apapun kalau udah korupsi ya salah, dan harus di penjara” aku pertegas pada Mala.

“Ngapain juga sih membela membabi buta ke satu partai ? Lagipula mereka juga nggak peduli sama kita yang ada di bawah” timpalku menggoyahkan argumentasi Mala.

“Ah, emang capek debat sama kamu jar. Ada aja pembenarannya ! Yang jelas aku tetep tenggelamkan Partai Banteng !” ujar Mala kesal dan kemudian meninggalkanku menuju dapur.

“Monggo aja” jawabku santai.

Terkadang puas aja sih bisa skak-mat kader Tarbiyah semacam Mala, walaupun aku males harus berdebat tanpa menghasilkan apa-apa. Kalau peribahasa Jawa sih gini, “Menang ora kondang, kalah ngisin-ngisini,” menang nggak menjadikan kamu terpandang, kalau kalah memalukan.

Tiba-tiba HP ku berbunyi, ada notifikasi WA.

“Mas Fajar, kapan mau main ke rumahku ?” pesan Rusmini masuk ke WA ku.

“Lagi sendiri di rumah nih mas.”

Waduh, janda kembang membukakan pintu rumahnya kepadaku. Kudu gimana nih ? Sejenak ku berpikir.

Kubalas, “Nanti malam ya mbak aku kesananya.”

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 8 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 8 – END

(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 7)Sebelumnya | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 9)