Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 7

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 7 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 7 Start

“Mas Fajar lagi ngapain ? Rusmini” muncul di layar HP ku ketika aku buka notifikasi WA.

“ Lagi di basecamp rus, kamu sendiri ngapain ?” kubalas demikian.

Sejujurnya ada rasa janggal di dalam pikiranku ketika berhubungan lebih dekat dengan janda. Stigma masyarakat, termasuk keluargaku, yang seolah-olah memandang janda satu tingkat lebih rendah daripada jomblo forever. Ada dua persepsi yang membentuk masyarakat memperlakukan janda berbeda dari yang lain atau diskriminatif.

Pertama, janda dianggap sebagai (mohon maaf) ‘barang bekas’, karena sudah ‘dipakai’ lelaki lain. Adalah memalukan bagi seorang perjaka atau bujang untuk menikahi janda, begitu kata mereka. “Ya kali elu masukin titit lu ke memek yang udah dimasukin berkali-kali sama titit orang lain.” Aku selalu menggugat premis tidak masuk akal ini ! Kenapa duda tidak pernah mendapatkan stigma yang sama ? Toh titit mereka juga masuk ke memek orang lain berkali-kali. Menurutku tidak memalukan bagi seorang bujang menikahi janda, selama mereka bahagia nggak masalah kan ?

Kedua, janda selalu dipandang sebagai wanita penggoda suami orang alias pelakor, apalagi sinetron ala FTV rajin membentuk persepsi demikian. Sasarannya siapa ? Ibu-ibu yang sering nonton film dan nggosip. Padahal banyak faktor yang membentuk fenomena pelakor, dan akan panjang jika kuceritakan panjang lebar. Aku sih mikirnya sederhana aja. Kalau hubungan suami dan istri baik-baik saja, bakalan setia kok, ya nggak ?

Kita sebagai masyarakat kadang ahistoris alias lupa sama sejarah. Bagi yang muslim, tahu nggak status istri pertama Nabi Muhammad, Siti Khadijah ? Janda. Tapi beliau membantu & menguatkan Kanjeng Nabi dalam berdakwah. Atau Bung Karno, tau nggak istri yang benar-benar membantu perjuangan beliau dari nol ? Inggit Ganarsih. Status Ibu Inggit janda, tapi apa melemahkan beliau dalam menemani Bung Karno saat menghadapi penjara maupun pembuangan ? Jawabannya tidak. Kalau boleh dibilang, aku ini orang yang anti status-quo* yang bertentangan dengan kemanusiaan dan akal sehat.

*keadaan tetap sebagaimana saat ini dan sebelumnya.

Mungkin renunganku sendiri yang menjadi pengingat buatku ketika aku akan berpikiran negatif terhadap perempuan yang berstatus janda. Tapi yang jelas stigma masyarakat perlu diubah ke arah yang lebih beradab, menurutku.

Di tengah renunganku di sofa pelataran basecamp, aku dikejutkan oleh suara. BRAKKK…, pintu yang dibanting dengan keras dari arah dapur. Aku melongok penasaran, siapa yang membanting pintu begitu keras ? Ternyata Kania ! Aku melihat dia duduk di lantai dan tangannya menutupi wajahnya.

“Kan, kamu kenapa ?” tanyaku.

“Huuuu…..Jarrrr….” tangis Kania pecah.

Kuraih pundaknya agar berdiri dan kubawa menuju sofa yang ada di pelataran. Tangisnya tak berhenti walaupun ku elus pundak dan rambutnya untuk menenangkan Kania.

“Udah….cup….cup. Coba cerita ke aku dong kan.”

“Indra jarrr….Indra….” jawab Kania terbata-bata karena tangisnya. Indra ini pacarnya Kania, teman sekelasku di kampus.

“Indra kenapa emang ?”

“Dia…..kegep jalan sama cewek lain…huu…huuu” jawab Kania.

What the… ada angin apa si Indra ? Setauku Indra nggak punya masalah apapun sama Kania. Ya tapi namanya juga pacaran, ada area tertentu yang sifatnya private, jadi nggak jamin juga aku tau keseluruhan. Kuserahkan sapu tangan yang kukantongi agar dia bisa menyeka air matanya.

“Pasti dia udah bosen sama gue ya ? Emang gue ini kurang apa ? Tiap jalan gue yang bayarin, dia sakit gue yang bawa ke RS…” katanya sambil mengelap air matanya.

Kania ini memang anak hedon di kampusku. Ngeluarin duit seratus ribu kayaknya nggak mikir, nggak kerasa kayak mahasiswa deh. IG nya selalu dipenuhi foto/snap lagi nongkrong, shopping, atau travelling. Dia sendiri sunda bingits, fasih ngomong Bahasa Sunda meskipun besar di Bekasi. Kania ini sebenernya nggak cantik menurutku, tapi masuk definisi manis. Badannya pun kurus, toketnya juga nggak besar. Kalau kataku bodynya mirip Cinta Laura. Rambutnya panjang lurus dan sering dikucir. Tapi jangan salah, bokongnya lumayan berisi sih hehehe.

“Kalau aku tanya Indra gimana kan ? Ya siapa tau salah paham” tawarku membantu Kania.

“Geus lah*, nggak usah tanya-tanya dia segala. Maling mah mana ada yang mau ngaku !” bantahnya mementahkan itikad baikku.

*Sudah lah.

“Ya udah, kalau begitu kamu tenangin diri kamu dulu deh.”

Memang susah menghadapi cewek yang lagi emosi. Mau dibantu ditolak, kalau dicuekin tambah salah. Makanya kukasih waktu sendiri buat dia. Siapa tau dia bisa merenung dengan suasana yang lebih adem. Kadang perempuan butuh ruang sendiri untuk bisa berpikir jernih.

Aku duduk di ruang tamu basecamp yang kini sudah disulap hampir seperti kamar. Kemarin malam Yuri menitipkan laptopnya padaku karena males bawa laptop ke Jakarta. Daripada laptopnya nggak kepake mending kumainin game “The Sims 4”. Mainin Sims menurutku kayak simulasi hidup. Karakter yang dimainin bisa makan, mandi, nonton TV, kerja, bahkan ngentot atau Woohoo. Yang mengejutkanku adalah si Yuri ternyata install “Wicked Woohoo”, ini Mod yang bisa nampakin karakter Sims lagi ngentot. Kalau Sims 4 yang standar kan ada sensor kalau karakter Sims lagi ngentot. Pikirku liar juga si Yuri, eh tapi emang liar sih wong kita ngentot terus hehehe.

Di tengah asyiknya main Sims, Kania berjalan ke ruang tamu dan tiba-tiba duduk di sampingku.

“Ihhhh….Fajarrr…..pornooo tauu !!!” ketika melihat layar laptop yang menampilkan adegan ngentot karakter Sims.

“Ya gimana lagi kan, cowok kalau main Sims ya begini. Salahin si Yuri tuh kan dia yang install game ini.”

“Emang lalaki* teh gitu ya ? Pikiranana* ngewe weh* !”

*lelaki, pikirannya, ngentot doang !

“Belum tentu kan, cewek yang pikirannya ngewe weh juga ada. Namanya juga manusia yang diberi nafsu sama Tuhan. Asal makenya dengan cara yang nggak ngelanggar hukum ndak masalah” ceramahku pada Kania.

“Iya juga sih…Eh karakter yang lu mainin lama banget ‘mainnya’ sama ceweknya !” omongan Kania menjurus pada hal-hal mesum.

“Emang pernah tau main yang lama atau nggak lama ?” tanyaku memancing Kania.

“Ya tau lah !”

Kemudian Kania cerita kehidupan seks nya sama Indra, mereka berdua tidak pernah bermain dalam durasi yang cukup lama. Durasi ngentot sama Indra paling cuma 10-15 menit. Bahkan selama ‘main’ sama Indra, Kania belum pernah merasakan orgasme. Aku menduga kalau pacarnya Kania ini langsung main genjot tanpa foreplay.

“Si Indra mah gitu, habis keluar geus weh sare*. Padahal gue kan belum klimaks, ya terpaksa deh…” terang Kania blak-blakan.

*udah aja tidur

“Terpaksa apa kan ?” pancingku lagi. Sedikit ragu Kania menjawab, “Mmmm….Masturbasi.”

“Ya….emang gitu sih kan. Kalau pengalamanku atau artikel-artikel yang pernah kubaca, tahap klimaksnya cewek selalu lebih lama dibandingin cowok. Cowok kalau udah klimaks duluan, butuh setengah jam lagi buat ngaceng lagi. Kan kasihan ceweknya. Ujung-ujungnya kayak ceritamu barusan, cowoknya tidur duluan. Makanya penting buat cowok ngerangsang ceweknya agak lama.”

Kania menyimakku dengan antusias, seolah dapat mentor seks hehehe. Merasakan nafas Kania yang berbeda dari biasanya, aku punya ide menarik. Kupelorotkan celana pendek sekaligus CD yang kupakai, sehingga terbebaslah kontolku yang sudah mengacung tegak.

“Kan, coba lihat bawah deh !”

Merasa kaget dengan kelakuanku, Kania hanya bilang, “Ihhh….Fajarrr…era atuh*..”

*Malu atuh.

Meskipun kaget tapi aku melihat sorot mata lain dari Kania, yakni nafsu. Memperlihatkan kontolmu ke cewek yang bukan pacarmu ada dua kemungkinan reaksi cewek : Pertama, si cewek ilfeel dan jaga jarak atau Kedua, si cewek semakin bernafsu hehehe. Sepertinya reaksi Kania yang kedua.

“Besar mana sama punya Indra ?” godaku pada Kania. “Hmmmm….jawab nggak ya ? Besar punya lu jar” jawab Kania.

Kemudian ruang ini pun hening. Dua insan yang tidak punya hubungan romansa seolah bergelut dengan nafsunya masing-masing. Antara berpegang teguh dengan komitmen maupun hubungan atau membiarkan hasrat mengalir, meskipun tidak terikat pada hubungan percintaan.

“Jar, aku boleh megang-megang ‘itu’ mu nggak ?” tanya Kania sedikit ragu. “Sok mangga, teh” ujarku mempersilahkan Kania.

Seperti anak kecil yang punya mainan baru, Kania fokus mengelus-elus kontolku yang cukup panjang dan gemuk ini. Tangannya yang pada awalnya cuma mengelus-elus tiba-tiba berubah menjadi kocokan, meski dengan tempo pelan. Aku pun tidak hanya diam menerima service Kania, bibirku kudekatkan pada lehernya. Kucium lehernya secara perlahan, ia terangsang. “Uhhhh…Mmmhhhh…” begitulah lenguhan nafsu Kania ketika bibirku mendarat di lehernya. Tangan kirinya pun menjamah otot perut dan dadaku, seolah-olah gemas.

Tak lama kemudian kudengar derap langkah dan suara teman-teman sekelompok di pekarangan. Mereka baru kembali dari jalan-jalan pagi mereka. Dengan cepat aku kembali memasukkan kontolku ke dalam celana yang kukenakan. Sementara Kania masuk ke dalam ruang keluarga tak lama kemudian. Kentang sih hehehe.

Singkat cerita aku kembali ke rumah cowok untuk mandi, sambil bayangin kejadian bareng Kania tadi. Ingin aku ngocok untuk menuntaskan kekentangan ini, tapi aku juga berpikir gimana nanti kalau Kania ngajak ‘main’ ?

POV Kania

Aduh……kenapa sih gue tadi ??? Kok bisa-bisanya gue ngelakuin hal ‘itu’ ama Fajar ?? Padahal dia kan bukan cowok gue, lagian gue kan masih punya pacar. Gue juga main serong dong ? Padahal gue ngambek ama Indra gara-gara dia jalan ama cewek lain. Nggak lucu gue ngambek ama orang yang main serong padahal gue juga main serong. Ibarat maling teriak maling dong !

Tapi mau gimana lagi, gue ngerasa tanggung aja gitu. Udah nafsu tapi tiba-tiba kudu berhenti. WTF ! Jujur apa yang gue rasain, Fajar emang gentlemen dan dewasa kalau dibandingin ama pacar gue sendiri. Apalagi ‘itu’ nya tadi lho…gede banget !!! Gue kan jadi penasaran. Apalagi roti sobeknya tuh, Uhhhhh….jadi gemesss. Jadi sia-sia gue baru kenal deket ama dia, padahal udah enam semester gue sekampus bareng Fajar.

HP ku tiba-tiba berbunyi, kulihat ada pesan WA dari Fajar. Deg.

“Kania, kentang nih.”

“Tuntasin rasa penasaranmu. Kutunggu di rumah cowok.”

Tuh kan, godaan Fajar melanda. Satu sisi gue ngerasa takut, takut kalo hubungan gue mesti kandas. Sementara di sisi lain gue marah, marah gegara pacar yang gue sayang jalan sama cewek lain tanpa sepengetahuan gue. Kan ANYIIING ! Tapi rasa penasaran & marah gue lebih besar dibandingin rasa takut yang gue bayangin.

Rasa itu seolah mengendalikan otakku. Pesannya kubalas, “Ok, tunggu ya J”

“Yeayyy” teriakku riang menyambut balasan Kania. Aku sendiri sudah usai mandi barusan, ya kali ‘main’ sama cewek badan masih bau. Mendingan aku nggak pakai bajuku aja ah, hanya celana pendek tanpa CD yang kupakai. Toh nanti juga ditelanjangin, pikirku, hehehe. Tak lama kemudian pintu rumah diketuk, pasti Kania, kubukakan pintunya.

“Masuk yuk,” perintahku pada Kania, kemudian kugandeng pergelangan tangannya.

Aku menggandengnya menuju kamarku. Kukunci pintu supaya tidak ada gangguan dari penghuni rumah lainnya (Salim atau Fajar). Kami duduk di pinggir ranjang. Kulepaskan celana yang kukenakan dan aku langsung bugil. Melihat tubuh dan kontolku yang ngaceng, Kania terperanjat, tapi ada raut muka takut yang kutangkap.

“Jar, gue takut…. takut kalau keterusan…”

“Bisa nggak sih kita melakukan tanpa rasa atau ngelihat hubungan asmara sama orang lain” jawabku lugas pada Kania.

“Mmmm…no love just sex. Deal ?” tantang Kania. “Deal,” jawabku tegas.

Dalam tempo singkat aku langsung menyerbu bibirnya. Kulumat bibirnya perlahan, Kania pun merespon lumatanku. CUPP…CEPPP… lidahku pun memasuki mulutnya. Kemudian dia merespon lidahku dengan lidahnya. She was a good kisser, nggak kalah dari Yuri. Setelah lima menit kami berciuman, aku menurunkan ciumanku pada lehernya.

“Jarr…Mmmhhh…jangan dicupang….Uhhhhh….” lenguhnya menikmati ciumanku.

Puas memberikan rangsangan pada lehernya, aku berusaha membuka kaosnya. Gesture tubuhnya seolah mempersilahkan aku untuk membukanya. Terpampanglah tubuhnya dengan bra berwarna abu-abu, toketnya tidak besar memang, tapi toket tetaplah toket. Kurebahkan tubuhnya di atas kasur, sedangkan aku ada di atasnya.

Kucium dadanya perlahan, lalu kubuka kaitan bra nya. Jengg…jengg… terpampanglah toketnya yang bulat walaupun tidak besar. Kemudian kuhisap pentil sebelah kirinya yang kecoklatan seperti bayi menetek pada ibunya.

“Umhhhh….terusss….enakkk….”

Tangan kiriku tak hanya diam, kuremas perlahan toketnya sebelah kanan. Puas menghisap dengan toket sebelah kirinya, aku menghisap pentil kanannya dan kuremas toket sebelah kanannya. Kania cuma melengguh keenakan merespon rangsanganku pada toketnya. Kulakukan itu kira-kira lima menit. Puas dengan toketnya, aku ingin menambah rangsangan pada bagian bawah tubuhnya.

“Kania, aku buka celanamu ya ?” aku meminta izin padanya. Dan dijawabnya permintaanku dengan anggukan.

Kubuka celana training yang ia kenakan perlahan, lalu terlihatlah bagian bawah tubuhnya yang masih tertutup CD berwarna putih. Kulepas CD yang Kania kenakan, dan bulu memeknya menyembul di balik CD yang sedang kulepas. Ya, Kania masih mempertahankan bulu-bulu lebat untuk menutupi memeknya.

Kumasukkan jariku pada memeknya. Terasa di jariku, memeknya sudah sedikit basah. “Ahhhhh…..Ahhhhh…” desah Kania ketika aku mengocok memeknya dengan tempo pelan. Kupercepat kocokanku pada memeknya, dan desahannya semakin kencang. Butuh waktu sepuluh menit untuk orgasme, kemudian ia berteriak, “Ahhhhhhhh….Fuckkkkk….Enaaakkkkk.” Memeknya berkedut-kedut dan mengeluarkan cairan, SERRRR…..SERRR.

Tak berselang lama, aku mengarahkan kontolku pada memeknya. Kugesekkan palkonku pada klitorisnya, seolah menggodanya.

“Ihhhh…..lamaa bangett….geura asupkeun atuh.”

Kania memegang kontolku dan memasukkannya ke dalam memeknya. Hehehe dia nggak sabar sepertinya. Kudorong kontolku perlahan, sebagai cara agar memeknya bisa beradaptasi.

“Uhhhhh…..sakitttt…Mmmhhhh.”

Baru setengah bagian kontolku yang masuk, kudiamkan sesaat supaya dia tidak kesakitan. Kudorong kembali kontolku dan kemudian seluruh bagian kontolku ‘tertelah’ oleh memeknya. Kumaju mundurkan kontolku dengan tempo pelan, duh nikmat banget, memeknya seolah mencengkramku erat sekali. Merasa sudah enakan, aku menambah tempo permainan. AHHHH….AHHHH….AHHHHH, desah kami berdua menikmati bersatunya memek dan kontol kami. Kupercepat kontolku yang maju mundur, tak lama kemudian memek Kania berkedut-kedut dan menyemprotkan cairan bening pada kontolku.

Disusul oleh teriakan panjang Kania, “Ohhhhhhh……Ahhhhhh….Keluaarrrr.”

Setelah orgasme kedua kalinya, aku menggeser badannya menghadap samping kemudian aku merebahkan diri di belakang tubuh Kania. Kumasukkan kontolku pada memeknya dengan posisi Spooning, sembari memeluk tubuhnya dari belakang. Kumaju mundurkan kontolku dalam tempo sedang, tangan kananku aktif meremas-remas toketnya.

“Ahhhhh….Ahhhhh….Terussss…Kencengiiiinnn…” erang Kania menikmati kontolku dan remasan pada toketnya. Kami melakukannya selama sepuluh menit.

Bosan dengan posisi Spooning, Kania memintaku untuk berganti posisi Woman On Top. Aku merebahkan diri sementara ia mulai mengangkangi tubuhku. Dengan perlahan, ia memegang kontolku dan memasukkannya pada memeknya. SLEBBBBB…. kontolku masuk dengan lancar karena sudah terbiasa dengan memeknya.

“Uhhhhh….” lenguhku pelan saat kontolku dijepit memeknya dengan posisi WOT.

“Mmmhhhh….bilang ya kalau lu mau keluar.”

Tubuhnya naik turun di atas kontolku. Walaupun aku merasa keenakan, tapi aku merasa goyangan Kania kalah hot dibanding Yuri. Goyangannya makin cepat, memeknya pun kurasakan semakin membanjir. Tak lama kemudian Kania berteriak, “Ahhhhhh…keluaaarrr….” Kania sudah mendapat orgasme ketiganya.

Tak memberi kesempatan padanya untuk istirahat, aku menyodokkan kontolku pada memeknya. Dengan tempo cepat.

“Kaaannnn….aku mauuuu….keluarrr…” teriak kenikmatanku pada Kania.

Dengan sigap, Kania melepaskan kontolku dari memeknya dan kemudian ia menghisap kontolku. CROOOTTTT…CROOOTTTT….CROOOOTTTTTT, kumuntahkan spermaku di dalam mulutnya. Tak ada rasa jijik, Kania menelan pejuh yang kutumpahkan. Kemudian kami berdua lemas dan terlelap dengan kondisi bugil pada siang itu.

Sore hari, aku bangun dan Kania sudah tidak ada di sampingku. Mungkin ia sudah balik ke basecamp. Kania ternyata ngehek juga ya, soalnya dia ngambek gara-gara cowoknya main serong, eh dia nya sendiri main serong. Tapi bodo amatlah, toh tetep enak buatku hehehe.

Aku melihat pesan di WA yang masuk saat aku tertidur siang barusan, kubuka pesan dari Yuri.

“Beb, aku sudah sampai Jakarta. Kamu lagi ngapain ?”

Syukurlah, batinku.

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 7 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 7 – END

(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 6)Sebelumnya | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 8)