Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 5

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 5 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 5 Start

Tiga hari berturut-turut aku selalu ngentotin Yuri, atas dasar suka sama suka tanpa pemerkosaan. Dia bahkan tidak mempunyai hubungan asmara denganku. Sebenarnya pacaran yang kami lakukan pada saat KKN bukan pacaran untuk jenjang pernikahan, atas dasar kebutuhan untuk ngentot aja. Ketika berkhayal ingin menikahi Yuri, aku buang jauh-jauh pikiran itu. Derajat keluarga kami tak sebanding, aku cuma Wong Cilik dari kampung. Entah lah di masa depan aku akan jadi apa, apakah dapat mengangkat derajat keluargaku atau tidak. Masih bias.

Jam sudah hampir menunjukkan waktu Sholat Jum’at, karena aku tergolong manusia yang malas Jum’atan, maka aku kembali ke rumah cowok. Aku duduk di ruang tamu. Kulihat Salim & Rahman sudah mandi dan mengenakan baju koko. Sementara aku asyik menghisap rokok yang baru kubakar.

“Nggak jum’atan lu jar ?” tanya Salim.

“Nggak bro, aku titip kalian yo. Kan kudu ada yang jagain rumah hehehe.”

“Halah, pake alesan lu. Ya udah kita berangkat ya !”

Walaupun aku jarang menjalankan ibadah sholat, tapi aku menghargai mereka yang sholat. Dalam rapat kepanitiaan aku sering menanyakan, “Ada yang mau sholat ?” di tengah-tengah rapat ketika waktu sholat tiba. Toleransi tetap menjadi prinsip yang kupegang teguh seumur hidupku.

Tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam, Yuri langsung nyelonong masuk rumah. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba Yuri ngedumel sambil lihat HP,

“Sebenernya cewek itu realistis sih, ya kali mau diajak susah. Masak realistis dibilang matre.”

Aku menjawab Yuri, “Ada orang yang beda preferensi soal milih pasangan dari kebanyakan. Ada yang berpandangan kalau pasangan ideal itu yang mau berjuang bareng-bareng dari bawah. Jujur, aku nggak terlalu suka sama cewek yang mau enaknya, baru ada ketika kita sudah mencapai segalanya. Sama halnya aku nggak suka ada cowok yang belum meraih sesuatu tapi nikahin cewek yang sudah sukses secara karir.”

Mendengar penjelasanku yang tidak bias gender, Yuri manggut-manggut. Jadi ada sahabatnya yang putus sama pacarnya gara-gara sahabatanya ini minta pacarnya ningkatin penghasilannya. Hmmmm ngapain juga aku harus mikirin orang yang nggak kukenal, skip.

“Mmmmm…. beb, kayaknya ada yang tau kita semalem deh” kata Yuri memecah keheningan.

Aku kaget, “Siapa emang yang tau ?”

“Mala” jawab Yuri.

Tadi sehabis aku balik ke rumah cowok, Mala tanya ke Yuri ada apa tadi malam teriak-teriak di ruang tamu. Terus dia ditanya juga sama Mala kenapa pintu penghubung ruang tamu sama ruang keluarga dikunci.

“Terus kamu jawab apa ?”

“Aku jawab aja gini, aku ngigau semalam. Kalau pintu di ruang tamu aku nggak tau, Fajar yang ngunci.”

“Yah, itu ngelempar bola panas ke aku dong. Emang dia bangun semalem ?”

“Katanya dia bangun sholat tahajud. Terus bilang gini dong ke aku : ‘Aku tau kamu udah pacaran sama Fajar, tapi tolong ya jangan bikin ribut’. Sebenernya sih bodo amat kalau mereka tau.”

Dia sih bodo amat, kalau aku kan koordinator kelompok. Malu sih kalau jadi koordinator yang nggak didenger teman sekelompok. Apalagi dikucilkan gara-gara tindakan amoral, amoral menurut standar mereka sih. Siang itu kita cuma ngobrol-ngobrol biasa, nggak ada aktivitas seks. Lima belas menit kemudian, Salim & Rahman pulang dari masjid. Langsung saja aku & Yuri ajak mereka berdua ke basecamp buat makan siang. Setelah makan siang bareng Mala memanggilku,

“Jar, sini deh.”

Aku berjalan menghampiri Mala di tempat jemuran baju, “Ya mal, ada apa ?”

“Aku mohon kamu jawab jujur jar, kamu ngapain sama Yuri semalem ?”

“Ngobrol-ngobrol doang kok. Itupun nggak lama sampai jam satu. Habis kejadian Fitri, Yuri dateng ke ruang tamu nebeng tidur di tempatku. Ruang tamu agak luas kan ? Dia kusuruh tidur di kasur, aku di karpet” kubuat jawabanku selogis dan setenang mungkin supaya Mala nggak curiga.

“Aku kok denger Yuri mendesah-desah kayak orang lagi ……”

“Lagi apa ? ML ? Yuri ngigau semalem, ya aku nggak tau ngimpi apa sampai mendesah-desah begitu. Coba aja tanya ke dia mimpi apa semalem. Lagipula ya mal, kecurigaan yang kuat itu harus ada saksi yang melihat. Kadang indra pendengar itu menipu !” ujarku membohongi Mala.

“Okay…aku cuma tabbayun* kok jar. Semalem habis ambil air wudhu buat sholat Tahajjud aku mau buka pintu yang ada di ruang tamu buat ngecek Yuri juga nggak bisa. Kamu kunci kan ?”

Jawaban ini membuatku harus berkelit, kalau aku salah jawab Mala bakal curiga,

“Kamu ke WC sekitar jam 02.45 kan ? Tapi kamu tau nggak pas kamu di WC ? Ada bayangan putih lewat di ruang keluarga. Karena aku takut, ya kukunci aja. Aku baru tau kamu yang ngebuka pintu, kukira setan, jadi kudiemin aja. Maaf ya, aku harusnya ngejagain kalian cewek-cewek tapi malah takut.”

Dengan ekspresi muka Mala yang bersalah, “Duh jar, maaf ya aku udah su’udzon* ke kamu. Kalau ada apa-apa di basecamp tolong kabari kami yang cewek. Jadi nggak enak sama kamu. Sekali lagi aku sama teman-teman minta maaf ya.”

“Sama-sama mal, maaf juga bikin kalian curiga semalem.”

Tabbayun = meneliti terlebih dahulu, klarifikasi.

Su’udzon = berburuk sangka

Entah sudah berapa kali aku menipu orang. Kadang aku merasa tindakan tersebut tidak sesuai dengan nuraniku. Kali ini aku terpaksa menipu Mala, ya kali aku ngaku blak-blakan ! Tapi yang jelas aku tidak akan menipu orang dalam hal bisnis, pantang bagiku makan uang haram.

Sore ini ada kegiatan kelompok yang kami jalankan seperti hari kemarin, yaitu mengontrol kehamilan ibu-ibu. Untuk mengefisienkan kegiatan, aku membagi kelompok menjadi dua tim, tim pertama kuintruksikan untuk bergerak ke dusun bagian barat sedangkan tim kedua bergerak ke dusun timur. Aku sendiri ikut bersama tim dusun timur, sedangkan Yuri kuminta untuk masuk tim dusun barat. Dalam tim tersebut terdiri dari geng yang berbeda-beda, maksudku membuat tim yang beraneka ragam agar mereka bisa berbaur satu sama lain.

Di dusun timur, ada delapan ibu yang sedang hamil. Kami menemukan ada ibu hamil yang berusia 16 tahun ! Perkawinan usia dini di desa memang hal yang lumrah. Biasanya karena alasan ekonomi maupun Married By Accident (MBA) alias “Telat Cabut” hehehe. Bahkan pak kuwu pernah mengatakan kalau angka putus sekolah pada saat SMP di desa ini sangat tinggi. Ya gimana lagi wong SMA, SMK, maupun Madrasah Aliyah tidak ada di kecamatan ini, sehingga anak desa ini yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi harus menempuh jarak yang tidak dekat. Melihat realita ini, aku bersyukur karena sebagai wong ndeso aku bisa meneruskan jenjang pendidikan tinggi atau berkuliah.

Aku menuju ke rumah terakhir ibu hamil di dusun ini bersama teman-teman. Kuketuk rumah dan mengucapkan salam, tak lama kemudian penghuni rumah membuka pintu. Untuk pertama kalinya aku mengucapkan “Subhanallah” walaupun dalam hati, melihat rupa si penghuni rumah. Wajah ayu bak seorang dewi, kulit putih, berambut pendek sebahu dan hidung mancung, seolah menutupi kenyataan kalau dia sedang mengenakan baju ibu hamil dan mengandung bayi yang berasal dari sperma laki-laki lain.

“Rusmini” ucap gadis itu memperkenalkan diri pada kami.

Ia sendiri tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah sederhana ini. Usianya baru 21 Tahun, yang mengejutkan kami adalah fakta bahwa Rusmini sudah menjanda sejak tiga bulan lalu. Mantan suaminya menceraikannya karena menuduh Rusmini berselingkuh dengan lelaki lain. Kami semua terkejut karena usia Rusmini sama dengan kami dan sudah mengandung selama empat bulan. Yaa, welcome to Indonesia ! Dimana jurang kesenjangan antara kaya dan miskin, kota dan desa masih terbentang lebar.

Kadang kondisi ini membuatku geram, kenapa sih manusia pengen kawin cepet padahal secara usia atau ekonomi belum siap. Akibatnya begini nih, janda muda makin meningkat ! Siapa yang dirugikan ? Pihak perempuan sama anak yang dilahirkan lah ! Ini kenapa aku begitu membenci perkawinan usia muda. Terserah mau bilang aku kafir, liberal, sekuler, atau apa lah !

Dengan pengetahuannya sebagai mahasiswa kedokteran, Rahman menjelaskan secara singkat mengenai upaya menjaga kesehatan kandungan dan nutrisi yang diperlukan. Sebagai standar program kerja, aku menyerahkan kartu yang berisi pengetahuan dasar mengenai kesehatan bayi dan dibaliknya tertera nomor telepon puskesmas bila sewaktu-waktu perlu menghubungi.

Tak ada angin maupun hujan, Kania memecah keheningan dengan omongannya tanpa filter,

“Mbak Rusmini, kalau pengen nikah lagi ada nih temenku yang mau. Ganteng, pinter, terus bertanggung jawab lagi. Ini nih anaknya mbak, namanya Fajar !” tangannya menunjuk ke arahku yang duduk tidak begitu jauh dengan Rusmini.

Sedangkan anak-anak yang lain malah menyemangati dan seolah membenarkan omongan tanpa filter Kania, “Ayo jar semangat, kan elu bentar lagi mau lulus !”

“Ah apaan sih kalian !” ujarku menutupi rasa malu. Padahal batinku misuh-misuh atau mengumpat, “Dasar wong-wong gendeng !”

Tak lama kemudian kami pamit dari rumah Mbak Rusmini mengingat hari sudah hampir petang. Beberapa langkah kami meninggalkan rumah, Rusmini berjalan mendekati kami.

“Masss..Mas Fajar, aku boleh minta nomer HP nya nggak ?” tanyanya kepadaku.

Nggak mungkin dong kutolak, siapa tau ngidamnya dia adalah minta nomor HP anak KKN hehehe. Kuberikan nomor HP ku dan segera dicatat Rusmini dengan HP nya. “Ciee…cieee….” sorak sorai anak-anak menontonku dan Rusmini. Setelah mendapatkan nomor HP ku, dia masuk ke rumah meninggalkan kami.

“Gara-gara kamu nih !” ujarku setengah gemas pada ‘lambe’ nya Kania sambil mengacak-acak rambutnya.

“Ihhh, lepasin jar ! Berantakan nih rambut gueee” teriaknya. Anak-anak hanya tertawa melihat kelakuan kami berdua.

Singkat cerita matahari sudah tenggelam, beberapa diantara kami melakukan aktivitas pribadi masing-masing. Ada yang memasak untuk makan malam, ada yang mandi, ada juga yang bersiap untuk berangkat sholat berjama’ah di musholla sebagaimana Salim & Rahman. Sementara aku merokok sambil mendengarkan dangdut koplo hehehe, maklum culture Jawa Timuran masih mengalir deras di urat nadiku hehe.

Saat asyik-asyiknya mendengarkan, Yuri tanpa permisi masuk rumah sambil menenteng handuk dan alat mandi.

“Aku nebeng mandi disini ya, kamar mandi basecamp antri parah.”

“Mau bareng nggak ?” goda Yuri.

“Siapa yang bisa nolak bidadari ngajakin mandi bareng ? Bentar ya aku habisin rokokku dulu” gombalku menjawab tawaran Yuri. Rokok baru habis setengah batang, sayang kalau dimatiin hehehe.

“Kalau udah selesai rokokannya nyusul ya. Ketuk aja pintunya nanti kubukain.”

Suhu Indramayu memang panas, walaupun hari sudah gelap, temperatur suhu di HP menunjukkan 31 derajat Celsius. Kontras dengan suhu Bandung kalau malam, yang rata-rata ada di bawah 25 derajat Celsius. Panasnya Indramayu memang bikin gerah dan mandi dua kali adalah keharusan, kalau nggak mau badan lengket. Beda kalau di Bandung, biasanya aku cuma mandi sekali sehari hehehe.

Karena batang rokok sudah habis, aku menyusul Yuri yang ada di kamar mandi. Kuketuk pintu kamar mandi. Tak lama kemudian ia membukakan pintu dan menarik tanganku untuk masuk. Setelah masuk dan mengunci pintu, aku membuka kaos dan celanaku. Nampak dia sedang asyik menyabuni badannya.

“Beb, mau nggak punggungnya digosokin ?” tawarku pada Yuri.

“Monggo mas e sayang…” godanya mengiyakan.

Kusabuni punggungnya yang mulus, kemudian menurun mendekati toketnya. Dengan nakalnya, aku menyabuni toketnya sambil meremas-remas pelan. Kemudian dia menoleh ke belakang dan mengecup bibirku sambil jinjit. Kemudian kuturunkan tanganku untuk menyabuni bagian belakang tubuhnya. Tak lupa kuelus-elus perutnya yang ramping. Bokongnya pun kusabuni, bahkan lubang anusnya pun jadi area yang juga kusabuni. Ia mendesah pelan, ya mungkin itu area sensitif buatnya. Sesaat kemudian, kuguyurkan air yang ada di gayung pada tubuhnya yang penuh sabun dan kugosok tubuhnya agar tidak ada bekas sabun.

“Pinter banget kamu nyabuninnya” sambil menggenggam kontolku yang sudah tegak berdiri seperti tiang bendera. Dikocoknya kontolku, MMHHHH..UHHHH, lenguhku menikmati kocokan Yuri pada kontolku. Agar tidak cepat keluar, kulepaskan genggaman tangannya pada kontolku dan kubalikkan badannya agar nungging membelakangiku. Dengan posisi berdiri kuarahkan jari tengah dan telunjuk tangan kananku untuk mengobel memeknya. Berawal dari tempo pelan, kupercepat kobelanku menjadi sedang dan tak lama kemudian menjadi cepat. AHHHH….AHHHH….ENAAKKKK.., teriaknya memecah keheningan rumah. Dua menit kemudian, tubuhnya mengejang dan memeknya memuncratkan cairan bening.

Tanpa memberikan jeda waktu pada tubuhnya yang lemas, kuarahkan kontolku pada memeknya yang sudah basah. Tiada kesulitan, kontolku masuk ke dalam memeknya. Dengan tempo cepat, kontolku menggesek lubang memeknya. Kupegangi pinggangnya yang ramping, PLOKK…PLOKKKK…PLOKKK, suara paha kami saling bertumbukan memenuhi ruang tempat kami mandi dan bersetubuh. Suara desah kenikmatan keluar dari mulut kami berdua tanpa malu, dua insan yang dimabuk cinta seolah tidak peduli kondisi rumah.

“Mmmhhhh….. gantiiiii….donggg..” ucapnya meminta ganti posisi ngentot. Kulepas kontolku dan kupepetkan tubuhnya di tembok. Kuangkat kaki kanannya untuk memudahkan kontolku masuk. SLEBBB. Kugenjot memeknya dengan tempo sedang sambil mencium bibirnya. Kemudian ia mengaitkan kaki kanannya ke bokongku, dan tak lama kemudian kaki kirinya dikaitkan oleh Yuri ke bokongku. Tak lupa ia mengalungkan tangan pada leherku tanpa melepaskan bibirnya dari ciumanku. Jadi aku harus menahan beban tubuh Yuri, seolah-olah kugendong. Posisi seks ini memberikan sensasi yang luar biasa pada kontolku, karena memeknya semakin menjepit kontolku di dalamnya.

“Ahhhhhh…..akuuu keluarrrr” teriak Yuri sambil mengejang. Kontolku kecipratan cairan orgasme darinya.

Tak lama kemudian, kontolku berdenyut-denyut ingin memuntahkan sperma. CROOTTT….CROOOTTT…CROTTTT. Kuhitung empat kali kontolku mejuhin memek Yuri. Maklum, setiap hari kami ngentot. Namun pejuhku membanjiri memeknya. Dengan tubuh lemas, Yuri membersihkan memeknya dari pejuhku dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku yang sedari tadi belum sabunan segera menyabuni tubuhku.

“Yang, aku balik basecamp dulu ya…Lemess” katanya sambil memakai baju.

“Ya” jawabku singkat sambil menyabuni tubuhku bagian bawah.

Setelah berpakaian lengkap, Yuri keluar dari kamar mandi dan balik ke basecamp. Setelah menyelesaikan aktivitas mandiku, aku menyusul anak-anak sekelompok untuk makan malam bersama di basecamp. Besok kami memulai kegiatan di SD 01 Plosomulyo untuk mengajar, hmmmm see what will happen tommorow !

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 5 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 5 – END

(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 6)