Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 10

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 10 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 10 Start

Hari Selasa pagi, sudah setengah jam terdengar desah dan hembusan nafas keenakan dari dua anak Adam dan Hawa di sebuah kamar yang ada di rumah cowok. Ya siapa lagi kalau bukan aku dan Kania yang asyik-asyiknya bersetubuh. Kania dengan ekspresi wajah kelonjotan keenakan di bawah menikmati sodokanku yang ada di atas tubuhnya, ya kami sudah berubah haluan menjadi Missionaris setelah puas WOT.

“Ohhh….Fuckkkk…..Enakkkk…” teriak Kania setelah mencapai klimaks kedua di pagi ini. Tangannya mencakar punggungku. Tubuhnya mengejang enak. Kemudian lemas, meskipun aku tak berhenti menggenjotnya.

“Uhhh…..Jar, belum keluar ?” tanyanya sembari merem melek menikmati genjotanku.

“Mmmmhhh… bentar lagi beb…” jawabku menggenjot liang surgawinya sembari meremas payudara kanannya yang tidak besar namun indah.

Kemudian kuminta Kania untuk tengkurap dan mengangkat bokongnya yang berisi agak tinggi. Aku tidak tahu posisi apa ini. Mungkin variasi dari Doggy Style. Kutindih tubuhnya yang kurus, kumasukkan kontolku pada memeknya yang sudah basah. SLEBB. Kontolku masuk dengan lancar ke dalam memeknya. Kugenjot agak kencang, ibarat motor dengan gigi empat.

Kania berteriak nikmat, “Ahhhh….Ahhhhh….Jangan kenceng-kenceng, gue keluar lagi ntar..”

Tak kupedulikan bacotannya, toh dia keenakan hehehe. Kuteruskan saja genjotanku. Sesaat kemudian ia melolong keras, “Ohhhh….Ahhhh…..” tanda bahwa Kania klimaks ketiga kalinya. Memeknya berkedut-kedut dan mengeluarkan cairan yang menyemprot kontolku. Merasa kontolku akan memuntahkan ‘lahar hangat’, aku mencabut rudalku dari memeknya. CROOOTT…Pejuhku begitu saja keluar membanjiri punggung dan bokongnya yang bulat.

“Bersihin atuh….” ucapnya manja. Sebagai lelaki yang bertanggung jawab, aku beranjak dari kasur dan mengambil beberapa lembar tisu yang kutaruh di meja. Kubersihkan punggung dan bokong Kania dari cairan hinaku ini. Tak lupa kubersihkan cairan di kontolku. Sebenarnya itu adalah konsekuensi dari permintaan dia kepadaku agar tidak keluar di dalam. Sehingga aku harus membersihkan tubuhnya. Wait, “keluar di dalam” ? Kalimat yang ambigu ya hehehe.

Agak banyak pejuhku keluar di pagi ini. Mengingat hari sebelumnya, Senin, aku tidak melakukan aktivitas seks. Terakhir kali aku melakukannya pada hari Minggu bersama Janda Kembang, Rusmini.

Baru pagi ini aku merasa sange kembali. Kutarik saja tangan Kania dan kucium bibirnya, kemudian kubawa ke kamar. Dia sendiri sudah mengenakan rukuh* untuk pergi ke musholla melaksanakan sholat subuh berjamaah. Tindakan nekat ini kulakukan ketika Kania berjalan jauh di belakang rombongan cewek. Bukannya ingin menghalangi orang beribadah yak, tapi mau gimana lagi wong dia sendiri yang mau hehehe.

*rukuh : alat sholat yang biasa dipakai perempuan untuk menutupi aurat.

Kami berbaring berduaan di ranjang, kepalanya menyender ke dadaku yang bidang. Aku membelai-belai rambutnya yang kebetulan tidak dikuncir sebagaimana biasanya. Kania mengelus-elus kontolku yang mengecil karena sudah memuntahkan isinya.

“Beb, enak nggak servisnya ?” godaku pada Kania, si ratu gosip FH.

“Not bad lah…” jawabnya agak gengsi. Ya begini lah cewek, waktu digenjot teriak-teriak keenakan, tapi sehabis ngentot ogah mengakui. Jangkrik memang hehehe. Sejujurnya aku nggak punya rasa atau nggak baper ketika main sama Kania. Ya murni nafsu aja, mumpung nggak ada Yuri hehehe.

Kunyalakan rokok dan kuhisap perlahan. Entah kenapa merokok sehabis makan, olahraga, atau ‘bertempur’ sangat enak bagiku.

“Ih asap rokok…bau…” ujar Kania sembari mengibaskan tangannya agar asap rokok yang kukeluarkan menjauh darinya.

Setelah energinya terkumpul, Kania izin kepadaku untuk kembali ke basecamp sembari mengenakan pakaian dan rukuhnya. Aku pun terlelap tidur, untuk memulihkan staminaku yang terkuras akibat pertempuran barusan.

Sekitar jam 7, aku terbangun karena dering telepon seluler yang kuletakkan di samping kepalaku. Ada telepon masuk rupanya, ternyata panggilan masuk dari Pak Sugeng Suyudhi, ayahnya Yuri.

“Assalamualaikum, sugeng enjing Pak Suyudhi, wonten nopo pak ?”* sapaku ketika menjawab panggilannya.

*Assalamualaikum, selamat pagi Pak Suyudhi, ada apa pak ?

“Waalaikumsalam, dek Fajar posisi lagi dimana ?” balasnya ramah melalui telepon.

“Saya masih ada di desa pak, tepatnya di rumah. Siap-siap untuk aktivitas.” Padahal bohong hehehe.

“Dek Fajar bisa ke Jakarta nanti malam atau besok ndak ? Saya ada hal yang perlu diomongkan.”

“Saget pak, kulo usahaakan.* Mungkin saya berangkat agak sore naik bus, mengingat ada kegiatan pagi ini sampai siang. Pripun pak ?”

*Bisa pak, saya usahaakan.

“O ya wes, mengko kabari wae ya lek wes teko ning Jakarta.* Biar dijemput supir saya.”

*O ya udah, nanti kabari saja ya kalau sudah sampai di Jakarta.

Singkat cerita aktivitas sosial kami di SD sudah selesai. Setelah makan siang dan rokokan sebatang dua batang, aku meminta Salim untuk mengantarkanku ke pemberhentian bus terdekat. Tak lupa aku minta izin untuk meninggalkan desa kepada teman-teman sekelompok. Dengan alasan ada relasiku yang menawarkan diri sebagai sponsor KKN. Meskipun ngibul, ya siapa tau ayahnya Yuri bersedia hehehe.

Ada dua alternatif sebetulnya untuk naik bus, bisa dari daerah Tomo, Sumedang atau dari daerah Losarang, Indramayu. Aku meminta Salim untuk mengantarkanku ke Tomo karena Plosomulyo relatif lebih dekat kesana ketimbang ke Losarang. Mungkin aku akan naik bus rute Sumedang-Jakarta, meskipun naik mobil Elf dulu. Atau Cirebon-Bandung nanti menyambung Bandung-Jakarta. Tapi akan lebih efisien kalau pake bus rute Sumedang-Jakarta.

Hampir satu jam perjalananku dengan Salim menggunakan motor untuk mencapai Tomo, Sumedang. Untung saja ada warung kopi yang difungsikan sebagai pemberhentian bus. Agar tidak terlalu kelamaan menungguku, Salim langsung pamit untuk kembali ke Plosomulyo. Ya aku pesan kopi hitam yang langsung kubayar, untuk menunggu bus. Siapa tau harus lama nunggu pikirku.

“M-mas, mau ke Jakarta atau Bandung ?” sapa perempuan dengan logat Sunda yang kental, yang kebetulan duduk di sampingku.

“Kebetulan saya mau ke Jakarta teh, teteh nuju kamana ?*” tanyaku balik.

*teteh mau kemana ?

“Kaleresan abdi nuju ka Jakarta a’.* Tapi abdi teh bingung soalnya baru pertama kali ka Jakarta” jawabnya dengan halus.

*Kebetulan saya mau ke Jakarta a’

Kupandang perempuan itu dengan seksama (nggak pake dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, emang proklamasi apa hehehe). Wajahnya nggak terlalu cantik, tapi nggak jelek. Standard lah. Dia menggunakan baju flanel kotak-kotak agak kebesaran. Kulirik menggunakan tanktop hitam bertipe U-Neck. Tiga kancing paling atas tidak dikaitkan, seolah memberi pemandangan ‘indah’ kepadaku. Sementara celana jeans yang dia kenakan membungkus pahanya dengan ketat. Kutaksir toketnya lebih besar dari Yuri tapi agak semok gitu hehehe.

“Kalau bareng saya mau nggak teh ? Paling nanti naik Elf dulu sampai Terminal Sumedang baru nyambung pakai bus rute Sumedang-Jakarta” tawarku pada teteh yang duduk di sampingku ini.

“Abdi mah ngiring weh jeung aa’.* Kan aa’ yang lebih tau” jawabnya dengan bahasa Sunda campur dengan bahasa Indonesia.

*Abdi mah ngikuti aja sama aa’.

Dengan niat tulus ikhlas kutolong teteh ini agar nggak bingung. Kira-kira lima menit tibalah sebuah mobil Elf yang akan mengangkut penumpang. “Caheum…Caheum…Ciakar…Ciakar…” teriak si kernet berusaha menggaet penumpang. Mendengar kata Ciakar, nama Terminal Sumedang, tentu saja aku mengajak teteh ini untuk naik. Untung Elf itu tidak terlalu penuh, jadi aku dan si teteh menumpang ini. Kemudian Elf berjalan meninggalkan warung tempatku menunggu.

“Turun timana a’ ?” tanya si kernet sambil menagih ongkos.

“Ke Ciakar” jawabku. “Lima belas rebu” jawab si kernet. Kuserahkan uang lima belas ribu kepadanya.

“Teteh ?” tanya si kernet pada teteh yang duduk di sampingku. “Ciakar oge a”* jawab si teteh. Dia mengeluarkan dompet, namun gesture nya menunjukkan bahwa uang yang ada di dompetnya kurang.

*Ciakar juga a’

“Astaghfirullah, poho euy nyokot ti ATM”* keluh si teteh.

*Astaghfirullah, lupa euy ngambil di ATM

“Teh, pakai uang saya dulu gimana ?” tawarku memberi solusi.

“Punten ya a” jawab si teteh tanda mengiyakan dengan malu-malu.

Kuberikan uang lima belas ribu yang kebetulan ada di kantongku. “Hatur nuhun a” ucap si teteh. Aku mengintip belahan payudara yang kadang terlihat jelas. Meskipun dia berusaha menutupi agar tidak terlalu terekspos. Setelah perjalanan hampir satu jam, kira-kira pukul 16.15 WIB, Elf tiba di Terminal Ciakar Sumedang.

Aku mengajak si teteh untuk turun dan menaiki bus rute Sumedang-Jakarta. Sebetulnya aku sudah konak ngelihat tampilan si teteh ini hehehe. Aku memilih tempat duduk paling belakang, eh lha kok si teteh minta untuk duduk di sampingku. Padahal banyak kursi yang kosong. Ia meminta duduk di dekat jendela. Si teteh bercerita panjang lebar kalau ia ingin menengok adiknya yang sudah kerja di Jakarta.

Bus kemudian berangkat meninggalkan terminal. Saat kondektur menagih ongkos, aku langsung menyerahkan selembar uang seratus ribuan. Untuk tiketku dan tiket si teteh. Beberapa menit setelah itu, aku tertidur. Kira-kira di daerah Cileunyi, suara tawa si teteh membangunkanku. Ibarat orang linglung aku menatap si teteh.

“A’ itunya keluar dari ‘kandang’ hihihi” kata si teteh sambil cekikikan lalu menunjuk ke arah selangkanganku. Benar saja, kontolku yang mengacung tegak sampai keluar dari celana karena resletingnya terbuka.

“Aduh maaf teh” ujarku seraya memasukkan kembali kontolku dan menutup resleting. Malu banget, ‘senjataku’ terlihat oleh orang yang tidak kukenal. Sebenernya gak apa-apa sih, toh kontolku gede juga hehehe.

“Iya a’ gak apa-apa. Da namanya juga nggak sengaja” jawabnya. Aku juga baru sadar kalau si teteh ini membuka seluruh kancing kemejanya, sehingga tanktop hitam yang membungkus toketnya terlihat jelas di mataku. Kutaksir ukuran toketnya 36B lah, gede ! Entah dia sadar atau tidak kalau tali tanktopnya sendiri melorot, dan menujukkan belahan toketnya.

Melihat pandangan mataku di dadanya, refleks si teteh menutupi dan membenahi tali tanktopnya yang melorot. Tapi saat akan menaikkan tanktopnya, bus bergoyang lumayan kuat. Sehingga badan si teteh tergoncang ke arahku. Hembusan nafasku mengenai lehernya, tanpa kurencanakan. Mata si teteh terpejam seolah menikmati sensasi yang terasa di lehernya.

“Punteun a’, busnya goyang tadi” katanya malu-malu. Tapi pahanya merapat seolah menahan sesuatu. “Iya teh gak apa-apa, namanya juga nggak sengaja” jawabku menirukan ucapannya tadi. Aku merasa kalau si teteh ini sange berat, nafasnya mendengus tak karuan.

Melihat cewek nafsu, akalku bekerja mencari cara agar dia tambah sange hehehe. Kuberanikan diri untuk memegang paha kananya, tapi pandanganku tetap lurus ke depan seolah tak terjadi apa-apa. Seperti ada tanda penolakan ketika si teteh menggeser duduknya ke pojok. Ya kubiarkan saja untuk sementara. Aku tidak menyerah, tanganku memegang bahu sebelah kiri, kemudian kugelitik tengkuknya dengan jari tangan kiriku. Kepalanya mendongak ke atas seakan bilang padaku, “Bro, aku sange nih !”

Merasa tidak mendapat penolakan, tangan kiriku makin aktif bergerilya menuju lehernya. Telapak tanganku mengusap-usap halus leher jenjangnya. Aku tidak tau apa yang si teteh pikirkan, karena ia diam saja tanpa memberi respon penolakan. Kayaknya berhasil deh usahaku hehehe ! Tanganku turun menuju belahan atas toketnya. Kuelus-elus perlahan belahan toketnya. Meskipun matanya melotot ke arahku, tapi si teteh menggigit bibir bagian bawahnya seolah menahan rasa sange. Ia sama sekali tidak berusaha untuk berteriak. Aku diuntungkan dengan kondisi bus yang sepi dan gelap.

Tangan kiriku kembali mengelus tengkuknya, titik sensitif si teteh sepertinya. Matanya merem seperti menikmati. Sepertinya dia sudah terbawa nafsu oleh rangsangan yang kuberikan. Posisinya rileks, menyandar di dadaku seolah pasrah untuk diapa-apain hehehe. Tangan kiriku menelusup menuju ke dalam tanktopnya, sedangkan tangan kananku meremas-remas toket kanannya dari luar tanktop. Kurasakan kalau si teteh tidak memakai bra. WTF ! Merasakan pentilnya mengacung, kucubit-cubit pentilnya di toket kirinya. Si teteh mendesah pelan, sepertinya tidak terdengar oleh penumpang lain karena berjarak empat seats dari tempat kami duduk.

Seperti mempersilahkan tanganku untuk meremas-remas toketnya yang besar, kedua tangannya memegang seat di depannya. Nafsuku naik, kunaikkan tanktopnya sampai toketnya terlihat. “Teh, tetenya gede ya…,” ia tetap mendengus pelan seolah mengiyakan. “Mmmhhhh..” desah pelan si teteh menikmati. Agar tidak terlihat, aku menggeser posisinya supaya bersandar di jendela, kemudian kuemut putingnya bergantian kanan kiri. Pentilnya yang lebar hitam kecoklatan, membuatku nafsu.

“Enak ?” bisikku pada si teteh. Ia mengangguk malu-malu. Kukecup lehernya, kemudian kuberikan cupangan di toketnya. “Uhh….mau diapain” desahnya pelan. Kupilin-pilin putingnya dan kutarik-tarik gemas, “Awww….” desahnya pelan agak kesakitan. “Teh, celananya dibuka ya ?” kataku meminta izin tanpa diberi izin. Dengan cepat kubuka kancing celana jeansnya, tanpa pikir lama kumasukkan tangan kananku ke memeknya. Memeknya tembem dan jembutnya tipis. Favorit banget deh. Kumasukkan jari telunjukku ke lubang memeknya yang sudah basah. Kukocok-kocok memeknya, “Hmmfff…ngghhh…nghhh…mffff…” desahnya keenakan meskipun pelan. Sekitar lima menitan kukobel-kobel memeknya, tiba-tiba bibirnya menyosor bibirku. “Mmmmhhhh….Uhhhh…”, si teteh seperti berteriak klimaks namun tertahan oleh lumatan bibirku. Kurasakan memeknya berkedut-kedut mengeluarkan cairan klimaks. Membasahi tanganku dan celana dalamnya sendiri. Kupelorotkan celana jeans sekaligus celana dalamnya sampai ke bawah bokongnya, terlihat jelas memeknya di mataku.

“Teh, ngewe yuk” ajakku pada si teteh. Badannya lemas tanpa perlawanan. Kemudian kubuka kancing celana jeansku dan resleting, sehingga kontolku yang lumayan besar ini terbebas dari sarangnya. Kuturunkan celanaku sampai lutut. Kutengok sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihat aksi kami. Tahu bahwa kondisi aman, kuposisikan si teteh di atas pangkuanku. Kontolku masuk dengan lancar di memeknya. BLESSS.

“Mmmmhhh…” desahnya sambil menggigit bibir bagian bawahnya.

Kugenjot memeknya perlahan, sambil meremas-remas toket gedenya dari belakang. Memeknya pun terasa memijat-mijat kontolku yang menggenjot maju mundur. WTF ! I did it in the bus bro ! “A’…pe-penuh bangettt…” ucap si teteh merasakan genjotanku pada memeknya. Mendengar pujian itu, aku semakin bernafsu dengan mempercepat tempo sodokanku pada memeknya. Goyangan bus yang sedang berbelok ke kanan dan ke kiri menambah sensasi per-ewe-an kami. Tak lama kemudian, si teteh menutup mulutnya menahan teriakan. Memeknya berkedut-kedut, klimaks kedua kalinya. “Mmmhhhhhh….” cairannya lumayan banyak membasahi kontolku.

“Ganti posisi atuh a’…” ajak si teteh tanpa melepaskan memeknya dari kontolku.

“Jangan teh, posisi amannya begini… teteh aja yang gantian goyang.” Kudu ganti posisi gimana lagi coba, seatnya juga nggak terlalu lebar hehehe.

Menuruti saranku, si teteh melakukan gerakan naik turun. Toketnya bergoyang-goyang indah, mirip ‘goyang dribble’ Duo Serigala hehehe. “Uhhh….enak teh goyangannya…” kataku keenakan menikmati goyangannya. Kadang ia melakukan gerakan berputar searah jarum jam. Uh, enak banget pokoknya ! Pro !

PLOKK…PLOKKK…PLOKKK… suara paha kami bertumbuk mengiringi birahi dari dua insan yang tidak saling kenal. Deru mesin bus menyamarkan suara kita berdua.

Lima belas menit kontol dan memek kami menyatu, aku merasa akan mencapai klimaks. “Teh… ke-keluarin dimana…?” tanyaku sembari merasakan keenakan goyangan si teteh.

“Hmmfff….dalem aja a’….” jawabnya menikmati kontolku di dalam memeknya.

“Barengannn….uhhhh…” timpal si teteh.

Tak lagi bisa menahan klimaks, kumuntahkan saja pejuh dari kontol kebanggaanku ini. Mungkin cuma empat kali tembakan kontolku memuncratkan isinya. CROTT… kemudian disusul dengan muncratnya cairan klimaks si teteh yang keluar untuk ketiga kalinya. Kuambil sapu tangan di kantong jaketku, kemudian kuusapkan ke memeknya yang dipenuhi cairan kami berdua. Tahu bahwa masih ada sisa cairan di kontolku, si teteh menghisap dan menjilat kontolku sampai tak tersisa. Aku masih setengah percaya kalau aku ngentot sama orang yang tidak kukenal sama sekali di kendaraan umum !

Kami merapikan celana kami masing-masing. Bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kami. Mungkin karena lemas dan lelah, si teteh tertidur. Kepalanya menyender di bahuku. Agar ia nyaman, kutaruh kepalanya di pangkuanku, jadi si teteh tidur agak nyaman. Meskipun tanganku menelusup nakal ke dalam tanktop hitamnya yang ketat meremas-remas toketnya yang besar meskipun agak kendor.

Tak terasa bus sudah sampai di Bekasi, kukabari Pak Sugeng Suyudhi bahwa bus akan tiba di Kampung Rambutan sekitar 1-1,5 jam lagi. Ya, satu setengah jam kemudian bus sampai di Pasar Rebo dengan tanganku yang meremas-remas toket dan memilin-milih pentil si teteh sepanjang perjalanan hehehe. Kubangunkan dia, kemudian si teteh menelpon saudaranya untuk dijemput di terminal. Sementara aku meninggalkannya, turun dari bus di Pasar Rebo. Toh, sudah kubayari juga kan ? Hehehe. Ponselku bergetar, ada panggilan masuk dari nomer tak dikenal.

“Halo mas, saya supirnya Pak Sugeng. Sampeyan dimana ?”

“Saya baru turun dari bus, pakai jaket abu-abu pak” jawabku.

Seolah tahu keberadaanku, mobil Fortuner putih memberi tanda sen dan mendekati tempat berdiriku.

“Mas Fajar ?” tanya si supir.

“Ya pak, supirnya Pak Sugeng ?” tanyaku balik.

“Ya, ayo masuk mas” katanya mempersilahkanku.

Mobil yang kutumpangi melaju menerabas padatnya jalanan ibukota. Kemudian aku mengabari Pak Sugeng Suyudhi bahwa aku sudah ada di mobil. “Oke” jawabnya singkat melalui pesan WA. Aku tak tahu mobil ini akan membawaku kemana, semoga saja tidak diculik atau dikarungin hehehe. I’m coming Yuri !

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 10 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 10 – END

(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 9)Sebelumnya | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 11)