Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Kehidupan Baru di Kota Besar Part 2

Part 1Part 2Part 3     

Kehidupan Baru di Kota Besar Part 2

Kehidupan Baru di Kota Besar Part 2

BAGIAN 2
DUNIA YANG TERLUPA

Semua perkataan kita,
hanyalah remah-remah yang jatuh dari pesta pikiran.
– Kahlil Gibran

Jalak Harnanto mengukur jalan dengan menggunakan motor pinjaman milik Om Darno. Dia masih hapal jalan-jalan di kota ini, liukan sudut bentangan aspal yang dulu pernah sangat akrab dengannya. Trotoar yang pernah menjadi tempatnya berkeluh-kesah dan angin jalanan yang membelai lembut wajahnya saat ia tak lagi sadar impian atau kenyataan yang sedang ia arungi, semua ini bagai reuni dengan kawan yang lama tak berjumpa.

Bagai kekasih. Bagai Bu Asty.

Bangsat. Kok jadi Bu Asty lagi? Wong gemblung! Kamu tadi yang mulai mencium Bu Asty! Woo! Munyuk! Kamu pikir kamu itu siapa?

Nanto menggelengkan kepala, mengenyahkan makian dalam hati yang hanya akan membuatnya merasa teruk – meski bentakan itu hadirnya dari dalam batinnya sendiri. Apaan sih suara hatinya ini? Biarkan saja to, hidup ini kan cuma sekali, tak ada salahnya menyatakan kekaguman dalam hatinya terhadap orang yang paling tepat dengan cara yang ia inginkan.

Caranya itu lho!

Caranya memang agak kurang ajar ya, harus ia akui. Dia mungkin sudah kelewat batas.

Memang sih, Bu Asty tadi cakepnya memang bikin pusing kepala. Gimana ga gemes pengen nyium? Apalagi toketnya, haduh itu ranum bangetSayang semua buyar gara-gara bel sekolah berbunyi.

Nanto menggelengkan kepala kembali, lupakan yang tadi. Lupakan cah gemblung! Sekarang saatnya cari peluang kerja, bukan bikin skandal yang cuma bikin kamu jalan di tempat. Dasar bodoh! Bodoh! Baru datang ke kota ini, bukannya nyari cara benahin hidup malah sudah bikin masalah baru. Entah bagaimana ia akan menyudahi apa yang tadi ia lakukan atau malah membuat semuanya tambah ambyar.

Secakep apapun Bu Asty, dia itu istri orang! Jadi orang jangan bego-bego amat, Nyuk! Pengen kena azab kuburannya ditimpa truk tanki air soda?

Motor yang dikendarai Nanto berbelok ke sebuah gang kecil, menjauhi jalan utama, lalu masuk ke gang yang lebih kecil lagi. Hanya satu hal yang dapat membuat Nanto melupakan insiden kecilnya tadi, yaitu makan enak!

Deru suara motornya berhenti saat Nanto akhirnya sampai di sebuah warteg kecil yang ada di pertengahan sebuah gang sempit, Warung Mbah Wig! Warung ini populer meski lokasinya bisa dibilang berada di tanah tak bertuan saking tersembunyinya. Untuk mencapai tempat ini ada dua cara, yang pertama harus sudah pernah mendengar kabar tentang enaknya masakan di sana dan yang kedua diantarkan oleh orang lain yang juga sudah pernah merasakannya. Tua muda kaya miskin banyak yang berkunjung kemari.

Karena lokasinya berada di tengah jalan sempit, bagi yang datang dengan mobil harus mengalah memarkirkan kendaraannya agak jauh dari lokasi dan berjalan kaki ke warung. Sedangkan yang menggunakan motor, ada ruang terbuka yang tidak begitu luas yang dipakai sebagai tempat parkir. Kalau tempat parkir ini penuh, motor-motor akan berjajar di pinggir-pinggir gang.

Warung Mbah Wig sebenarnya warung sederhana saja, khas dengan masakan Jawa. Sayur lodeh ada, sayur sop ada, ayam goreng ada, jeroan goreng ada, tahu dan tempe goreng garing ada, dan macam-macam lauk lain yang bikin perut kenyang hati senang. Namun yang paling lezat dan selalu dicari tentu saja adalah empal goreng yang sedep krenyes bikin warrior serasa princess.

Omong-omong, kesiangan ga ya? Saking laris dan ngetopnya masakan Mbah Wig, kalau siang dikit empal goreng di sini sudah habis. Lauk yang lain juga enak sih, tapi kalau ga ada empal serasa sayur sop tanpa daging. Ya iya lah ya.

Setelah parkir dengan santun, meletakkan helm di spion motor dan tersenyum pada bapak-bapak yang jaga parkiran, Nanto pun melangkah mantap masuk ke warung.

Beberapa orang menatap kedatangan Nanto sambil mengunyah makanan mereka, diamati dari atas ke bawah, bawah ke atas, kaki ke kepala, kepala ke kaki. Karena warung ini sebenarnya kecil dan sempit, siapapun yang datang seakan-akan patut dicurigai dan jadi bintang sesaat. Mereka mengamati pemuda yang baru datang itu bagai penyelidik. Tubuh tegap dan kencang, wajah tenang, rambut dipotong cepak dan rapi, kemeja putih seperti baru beli, dan celana panjang hitam yang sepertinya belum nyaman dikenakan. Sebagian pengunjung menduga: kalau bukan sales nawarin panci kredit atau tukang angkut piring di kawinan, orang ini pasti baru magang kerja.

Nanto sih cuek saja, karena yakin tebakan semua orang pasti salah.

Ah, hanya ada dua orang yang sedang berdiri menunggu Mbah Wig meladeni, ga lama lah.

Tangan-tangan keriput Mbah Wig dengan cekatan mengambil sop, sambal, tempe dan potongan empal yang sudah disiapkan. Wajahnya sudah menampakkan usianya, keriput menyiratkan hidup bersahaja, bibirnya beberapa kali bergetar mungkin karena syaraf yang sudah tak terkendali, sorot matanya tak lagi tajam, dan kepalanya selalu menunduk.

Lelah, Mbah? Entah sudah sejak kapan simbah berjualan di sini. Nanto sudah mengenal tempat ini sejak SMP dan Mbah Wig ya segitu-segitu saja sepertinya usianya. Entah awet muda ataukah waktu memang tiba-tiba terhenti di warung ini.

Satu antrian beres. Ah, tinggal menunggu seorang lagi dan perut Nanto akan terisi dengan sop empal paling lekker se-Endonesah. Orang itu pun jelas memesan sayur sop empal campur nasi. Siapa yang tidak tergiur sih dengan menu utama itu?

Tidak perlu menunggu lama dan orang itu pun selesai dengan pesanannya. Nah! Sekarang giliran Nanto!

Mase nopo? Masnya mau makan apa?”

Kulo biasa mawon, Mbah. Saya yang biasanya, sop empal nasi-ne dicampur nggih.”

Mbah Wig mengangguk dan menyiapkan nasi dan lauk Nanto.

Entah kenapa saat itu gorengan yang terletak di pinggan di atas meja tak jauh dari Mbah Wig seperti memanggil-manggil Nanto. Tangan si bengal itu mencoba meraih tempe goreng tepung yang ada di situ. Kan lumayan dijadikan lauk tambahan.

Pada saat yang bersamaan, seorang pembeli mendekati Mbah Wig sembari membawa piring. Ia tak melihat tangan Nanto yang menjulur ke depan.

“Mbah! Saya nambah empa…”

SRAG!!

“Eh, awass!”

PRAAANG!

Piring yang dipegang sang pembeli tersenggol tangan Nanto. Karena kaget, piring itu pun terlepas dari tangannya dan jatuh berkeping-keping setelah terhempas ke lantai. Nasi, empal, sayur, semuanya berserakan di bawah.

“HEH!! GIMANA SIH?!” bentak seorang gadis dengan pandangan mata galak menatap Nanto tanpa ampun.

Nanto yang juga kaget mundur beberapa langkah ke belakang, ini gimana cerita kok malah dia yang marah? Tapi ya sudah dia diam saja supaya tidak menimbulkan keributan. Ia melirik ke dalam dan orang-orang menatapnya penuh tanya. Wadidaw. s

Gadis itu pun mengambil tissue di meja dan mulai mengumpulkan piring yang jatuh dan pecah.

“Ya ampuuun, maaf ya, Mbah. Saya ga sengaja jatuhin tadi. Gara-gara masnya ini nih. Ngawur dia tangannya. Duh, jadi kotor nih lantainya, saya bersihin deh, Mbah.”

“Eeehh! Enak aja! Kok jadi nyalahin saya? Mbaknya jalan ga lihat-lihat juga, sih! Saya dari tadi berdiri di sini ga ngapa-ngapain.”

“Ya kalau ga ngapa-ngapain piring saya ga jatuh kan, Mas?”

“Gitu ya?”

Nanto sudah siap maju mendekat ke arah si cewek saat pria yang tadinya duduk di sebelah si cewek berdiri dan menutup jalur antara Nanto dan si cewek.

“Mau apa, Mas?”

Cowok itu terlihat garang dengan rambut panjang sebahu dan mata menatap tajam. Wajahnya ganteng dengan kumis dan cambang tipis yang dibiarkan tumbuh jantan serta alis tebal mirip aktor sinetron dari India. Ia mengenakan kaos hitam bertuliskan logo band metal lawas Megadeth. Jaket dan celana jeans warna biru pudar membuatnya nampak sangat… 90an?

Nanto males bikin keributan, “mau bantuin mbaknya beresin piring yang pecah, Mas. Masnya sendiri mau apa?”

“Jangan cari perkara, Mas.”

“Siapa yang cari perkara? Saya mau bantu bersihin, Mas.”

Sampuuun. Sampuuun.” Mbah Wig menggeleng kepala, “Sudah, Mas, Mbak. Tidak apa-apa. Biar cucu Mbah yang beresin. Nduuuk, Retnoooo. Sini Nduk, bantuin beresin ini. Sudah Mbak, tidak apa-apa. Awas hati-hati…”

“Ahhh!!”

Tetesan darah mengalir dari telapak tangan sang cewek, jelas terkena tajam pecahan piring. Cowok ganteng yang ceweknya menjerit kaget segera mengangkat gadisnya yang sedang membungkuk dan memperhatikan lukanya. Sebenarnya luka kecil saja, sobek sedikit. Tapi itu sepertinya sudah cukup membuat dunia ini diancam wabah Zombie, karena si cowok ganteng tiba-tiba saja mendorong Nanto keluar dari warung.

“GARA-GARA KAMU!!”

“Maaaass!!” si cewek kaget karena cowoknya tiba-tiba saja emosi.

Nanto yang didorong jelas ikut kaget, tapi sudut matanya menangkap sosok Mbah Wig yang khawatir sambil dengan bergetar membawa piring berisi nasi. Bapak parkir juga berjalan mendekat mencari muasal keributan. Ini bukan tempat untuk sok macho, sobat.

Ketika sekali lagi cowok ganteng itu mendekat dan hendak mendorong, ia hampir tersungkur ke depan karena Nanto tiba-tiba saja tidak berada di sana. Pemuda itu sudah berada di belakangnya entah sejak kapan! Ba… bagaimana bisa? Cepat sekali!!

Nanto bergegas menerima piring dari Mbah Wig, lalu meletakkannya di meja yang paling dekat dengan mereka. Kasihan kalau simbah memegang piring itu terlalu lama.

Pemuda itu pun menarik cukup banyak lembaran tissue, lalu membasahinya dengan air putih yang ada di tempat minum yang disediakan di tiap-tiap meja. Ia menarik tangan si cewek, dan dengan hati-hati sekali membersihkan luka sayat tipis terkena beling yang membuat darahnya mengalir lumayan deras.

“HEH!! NGAPAIN PEGANG-PEGANG!!” teriak si cowok ganteng protes, Nanto melanjutkan tanpa ambil peduli.

Gadis itu mengernyit sakit tapi paham apa yang dilakukan Nanto. Ia sedang membersihkan lukanya. Telapak tangan yang putih bersih dan sangat halus itu bagaikan kain putih bersih yang kini bercak bernoda merah. Semua darah yang mengotori disapu oleh olesan lembut tissue Nanto.

“Tidak apa-apa, ini luka kecil saja. Bersihkan dengan kain bersih dan air bersih, lalu kalau masih risih bisa diolesi dengan obat merah atau [email protected] Sebentar lagi juga kering.” Kata Nanto dengan lembut. Ia tidak peduli wajah sang cowok ganteng kaku dan keras bak kanebo yang sudah seminggu tidak ketemu air melihat tangan gadisnya dipegang-pegang Nanto.

Gadis itu diam saja dan mengangguk. Untuk pertama kalinya Nanto akhirnya bisa menatap wajah sang gadis dengan seksama. Rambut panjang halus yang indah bak gadis iklan shampoo, kulit putih bersih dan mulus yang membuat semut aja tergelincir, wajah cantik manis yang mempesona, dan tubuh yang aduhai bagaikan gitar Spanyol.

Bangsat, kenapa baru sadar sekarang kalau cewek ini cakep banget?

Setelah beberapa lama membersihkan luka si gadis yang diam saja, si cowok ganteng segera menarik tangan ceweknya.

“Sudah! Cukup!” ia menatap galak pada Nanto. “Tuman!

Sambil memegang pergelangan tangan sang gadis dan tak melepaskan pandangan dari Nanto, cowok ganteng itu merogoh kantong celananya dan melemparkan selembar ratusan ribu ke meja Mbah Wig. “Kembaliannya ambil saja, Mbah. Buat ganti piring.”

Pria itu kemudian menunjuk-nunjuk ke arah Nanto tanpa suara sebelum akhirnya mengeluarkan kalimat pelan, “Kamu… awas kamu!”

Nanto diam saja, ia malah lebih tertarik melirik ke arah si cewek yang kini malu-malu menatapnya. Nanto pun menganggukkan kepala dan mengatupkan kedua telapak tangannya. Yang waras ngalah.

“Saya minta maaf. Sungguh. Semoga cepat sembuh.”

“HUH!!!” sang cowok mendengus kesal dan menggandeng ceweknya pergi dari Warung Mbah Wig, mereka melangkah ke jalan besar – yang artinya keduanya menggunakan mobil. Orang-orang yang sejak tadi mengamati kejadian itu pun akhirnya membubarkan diri. Tiwas ditonton jebul ga jadi berantem. Penonton penyuka keributan itu pun kecewa.

Nanto jongkok untuk membantu mengumpulkan pecahan piring yang masih berserakan, tak lama kemudian cucu Mbah Wig datang dan ikut bergerak cepat membersihkan semua yang tumpah.

Karena sudah ditangani oleh orang yang tepat dan berhak, Nanto pun berdiri dan tersenyum pada Mbah Wig, ia mengambil piring yang tadi ia letakkan di meja. “Maaf ya Mbah, malah jadi rame. Nanti saya tambahin kalau tadi kurang yang dari masnya. Untuk ganti rugi.”

Ealah, ndak usah, Mas. Wes cukup. Sudah buruan dimakan sopnya, nanti selak anyep, keburu dingin.”

“Siyaaaap.”

Nanto duduk di kursi yang ada di dekat piringnya dan sudah siap mengunyah saat sudut matanya menatap ke arah meja yang ditinggalkan oleh si cowok ganteng dan cewek cantik yang tadi. Eh, apa itu?

Bukankah itu ponsel?

Ponselnya ketinggalan!

Pemuda itu pun mengambil ponsel itu sebelum diincar oleh orang lain. Ponsel itu dari produsen paling ternama asal Korea Selatan. Ini harganya lumayan nih, ponsel apik dan mulus begini sepertinya masih lumayan baru. Nanto kembali duduk di kursinya dan melihat-lihat ponsel itu. Saat layar terbuka, mau tak mau Nanto melihat ke arah gambar yang ada di lock screen.

Wajah cantik sang gadis terpampang di sana.

Juga namanya.

Hanna Dwi Bestari.

.::..::..::..::.

“Kenapa kamu diam saja?”

Asty menggelengkan kepalanya yang indah. “Ga kenapa-kenapa, Mas.”

“Ada yang kamu pikirkan?”

Guru muda yang cantik itu kembali menggelengkan kepala, “Ga ada.”

“Ayolah. Aku kan bukan sehari ini saja menikah sama kamu. Kamu mesti sedang memikirkan sesuatu. Kamu selalu diam seperti ini kalau sedang ada pikiran yang mengganggu.” Adrian Pratomo mengiris pizza yang ada di piring saji dan menariknya dengan menggunakan scoop ke piringnya sendiri. “Biasanya kamu selalu ada cerita setelah diam sepanjang hari. Hari ini pun demikian, aku menunggu-nunggu cerita dari kamu, Gaes.”

“Hahaha, kali ini tidak ada cerita, Gaes. ”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

“Bagaimana dengan Pak Man? Dia tidak mencoba mendekati kamu lagi? Aku agak ngeri-ngeri gimana gitu sama Kepala Sekolah baru kamu, sayang. Kemarin kan kamu cerita dia curi-curi motret kamu pakai hape.” Kata Adrian sambil mendesah. “Yakin kamu belum mau pindah kerjaan?”

Asty tertawa dan menggeleng kepala, guru BK jelita itu mengelus punggung tangan suaminya dengan lembut. Ia mencoba memberikan senyuman termanis dan berterima kasih karena ditraktir makan. Hari ini ulang tahun sang suami dan Adrian mengajaknya makan berdua. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak makan bersama sejak kehadiran sang buah hati, sehingga keduanya memutuskan makan berdua secara sederhana di resto pizza populer ini.

“Hari ini aku cuma mau santai saja sejenak, berdua sama kamu. Menikmati hari, menikmati pizza ini, mengucapkan selamat sama kamu, semoga sehat selalu, panjang umur, tambah sayang sama aku dan adek, dan tetap menjadi suami hebat seperti yang selama ini sudah kamu lakukan. Aku sayang sama Mas Adrian.”

“Terima kasih, sayang.”

Adrian tersenyum, ia balik mengelus punggung tangan Asty.

Asty bersyukur telah menikah dengan Adrian yang selalu percaya padanya, padahal ia telah melakukan hal yang tabu dilakukan oleh seorang istri dan mengkhianati kepercayaannya. Rasa bersalah itu mengungkung dirinya bagai sangkar tak terlihat yang membuatnya sangat berdosa.

Maafkan aku, Mas. Aku sudah bersalah sama kamu. Aku berjanji hal yang seperti tadi tidak akan terulang lagi. Sungguh aku merasa berdosa. Aku janji, Mas. Maafkan aku.

Asty hanya berharap suaminya tidak menemukan jejak kebohongan yang sedang ia tutupi hari ini. Suaminya memang benar, pikirannya sedang diganggu. Tapi bukan oleh Pak Man, melainkan oleh sosok pemuda gagah yang siang tadi hadir dan mencium bibirnya, menciumnya dengan penuh perasaan dan meletakkan tangannya di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Tempat yang seharusnya hanya menjadi jatah sang suami.

Tangan nakal yang menyentuh dan meremas-remas, masuk ke bajunya, menyelinap di balik beha, memilin dan membuatnya mendesah nikmat. Membuatnya ingin dipeluk, dicium, dimiliki. Untung bel sekolah tadi membuat keduanya berhenti, sebelum terjadi hal-hal yang membuatnya kehilangan semuanya.

Ia bersyukur sekali.

Huff. Tempat dingin ber-ac ini tiba-tiba saja terasa panas. Gawat kalau Asty terus menerus teringat apa yang sudah terjadi siang tadi.

“Mas…”

“Ya, sayang?”

“Temen mas ada yang buka lowongan pekerjaan?”

“Eh?”

.::..::..::..::.

Sore menjelang, langit mulai redup dengan tabir kubah bumi mulai memerah. Warung Mbah Wig sudah tutup sejak siang karena makanan yang disajikan sudah habis.

Ada sebuah kursi kayu panjang yang biasa dipakai oleh Bapak Parkir di depan tempat parkir motor dan di sanalah Nanto duduk. Ia mengguling-gulingkan ponselnya sendiri yang sudah habis baterenya dengan tangan kiri. Sementara sedari tadi ia terus menerus memandang wajah Hanna di ponsel yang ditinggalkan oleh pemiliknya dengan tangan kanannya.

Asli, ini orang cakep banget. Kok bisa-bisanya tadi dia ga sadar ya?

Terdengar suara motor menderu dan berhenti di ujung gang, ojek online. Terihat dari jaket dan helm yang berwarna hitam dan hijau. Dari belakang sang pengemudi ojek, turun seorang gadis yang mengenakan kemeja putih, celana hotpants jeans yang gagal menyembunyikan mulusnya paha sang empunya, dan sepatu Skechers berwarna abu-abu. Saat membuka helm, gadis itu menyibakkan rambut panjang dan memperlihatkan wajah cantiknya.

Hanna.

Dara jelita itu berlari menuju warung Mbah Wig sambil terengah-engah dan meletakkan tangan di kepala. “Yaaaah udah tutuuup. Duh, gimana nih.”

Sepertinya ia tidak melihat Nanto yang masih berada di sana, memang posisinya terlindung oleh pohon yang rindang dan seakan-akan terkamuflase oleh bayangan pohon dan gelapnya suasana menjelang sore. Nanto terkekeh, lagian. Kenapa juga nunggu sampai sore baru balik kesini? Malu? Kalau tadi langsung balik arah kan bisa langsung diambil ponselnya.

Atau ada alasan lain kenapa kamu baru balik ke sini sore?

“Duuuh gimana nih? Mampus! Mampus! Mampus!” sang dara kembali mengeluh.

Nanto duduk dan berjalan santai ke arah si cantik. Ia menggoyangkan ponsel yang ia temukan tadi. “Mencari ini?”

Bagai bertemu hantu, si cantik yang kemungkinan bernama Hanna itu melompat mundur karena kaget. Ia mengernyitkan dahi dan menyadari siapa yang sudah menemukan ponselnya.

“Kamuuu!?”

.::..::..::..::.

Suasana kantin kampus cukup ramai sore itu, jam dinding di tembok kantin menunjukkan masih ada waktu setengah jam sebelum jam ujian akhir semester berikutnya. Lokasi kantin di UAL cukup strategis karena berada tepat di tengah kampus dan dekat dengan taman utama, sehingga mudah diakses oleh mahasiswa dari semua fakultas. Sebetulnya kantin ini bukan satu-satunya kantin karena masih ada tempat lain yang juga bervariasi makanannya.

Lokasi pujasera – pusat jajan serba ada – ini dinamakan Kantin Tengah oleh anak-anak kampus, dan seperti biasanya Kantin Tengah selalu ramai. Sore itu anak-anak Fakultas Teknik, Sastra, Fisipol, Ekonomi, Komunikasi, Hukum, dan Teknik Informatika berkumpul menjejali meja-meja kantin.

Ada yang bercanda.

Ada yang sedang tertawa.

Ada yang sudah selesai ujian hari ini, ada yang sebentar lagi baru akan mulai.

Semua terlihat gembira di sore yang cerah.

Di samping kantin yang memiliki sekitar sembilan petak penjaja makanan, beberapa orang mahasiswa duduk mengitari sebuah taman kecil berbentuk melingkar. Di pinggir lingkaran tersebut diletakkan kursi panjang yang juga melingkar, sedangkan di tengah-tengahnya terdapat sebuah patung dengan air mancur kecil menjadi hiasan. Tentu saja air mancur kecil itu mati karena aliran air menuju patung terputus dan sampai sekarang belum pernah dinyalakan.

Dengan rambut gondrong, wajah ketus, kacamata hitam, dan jaket bomber seragam, kelompok mahasiswa yang sedang duduk-duduk di tempat tersebut adalah kelompok preman kampus yang sering menamakan diri mereka DoP atau Death of Pokoyo. Kenapa bukan Superman saja yang death? Karena takut kena tarikan royalti. Meskipun tongkrongan sangar tentu masih harus itung-itungan.

Entah sudah berapa lama anggota DoP ini tinggal di kampus, sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa lama yang enggan lulus dan sudah lupa caranya pegang pulpen. Ga diusir ribet, mau diusir kok bayar. Pihak kampus pun akhirnya membiarkan saja kaum ubur-ubur semacam ini berkeliaran, yang penting mah bayar, semua urusan beres.

“Oit. Masbro.”

Jovi Setyanto – salah satu dari anggota DoP melempar pelan sebuah kerikil ke arah adik angkatan bertubuh subur yang duduk tak jauh dari mereka. Yang ditimpuk pura-pura tak mendengar panggilan Jo ataupun kerikil yang dilempar. Ia hanya lanjut makan bakso yang sepertinya sedap sekali.

Sekali lagi Jo melemparkan kerikil kecil.

“Masbrooo!”

Mata sang adik angkatan bergerak sekilas melirik ke arah Jo dengan sudut mata, namun ia kembali makan baksonya dengan cuek, seakan tak peduli ia telah dipanggil atau sudah dua kali kena lemparan kerikil.

“Woooi!!”

Akhirnya Jo habis kesabaran, ia bangkit dan berdiri. Melangkah meninggalkan rombongan DoP ke arah si junior yang sok bolot. Ini anak memang perlu diurus, batin Joe. Pakai pakaian yang ngejreng kalau di kampus, sepatu ori warna putih yang kalau kesenggol aja jerit-jerit, becanda-canda genit dengan temen-temen cewek, ponsel terbaru dengan merk buah yang dicokot yang dipamer-pamerin. Kalau cewek kok selangkangannya njendol, kalau cowok kok jalan aja melambai zigzag.

Tanpa babibu, Jo mengambil sebutir bakso dari mangkok sang adik angkatan. Wajah galak Jo membuat si tubuh subur mulai gelisah.

“Enak ya?”

Si tubuh subur blingsatan dengan keringat yang mulai bercucuran, ia hanya tersenyum kecut dan mengangguk. Sekali lagi Jo mencomot bakso miliknya dengan santai, kali ini bakso yang ukurannya paling besar. Sepertinya berisi telur rebus.

“Ini juga enak.” ujar Jo tanpa ekspresi, “kenapa tadi dipanggil diem aja? Ga punya kuping?”

“Oooh… ehmm… tadi manggil saya, ya? Kirain manggil siapa tadi, Bang.” Si tubuh subur mencoba mengembangkan senyum, tapi dari wajahnya jelas ia gentar dan ketakutan.

Jo duduk di samping si tubuh subur sembari merangkul pundaknya dengan sok akrab. Bau rokok menyeruak tak nyaman membuat si tubuh subur mengernyit.

“Masbro, bisa ga dibagi duitnya? Ane laper.”

“Ooh… mau bakso juga? Santai aja, Bang.” Si tubuh subur menarik dompetnya yang tebal. Jo mencibir melihat deretan kartu kredit berjajar di dompet adik angkatannya itu. Si tubuh subur menarik selembar uang dua puluh ribu dan memberikannya pada Jo.

“Segini cukup, Bang?”

“Yang biru itu aja.” Kata Jo sambil menunjuk selembar uang lima puluh ribuan masih terselip manja di dompet si tubuh subur. Dengan berat hati sang adik angkatan mengeluarkan uang itu dan memberikannya pada Jo. Tapi ia masih tetap memasang senyum yang dipaksakan.

Jo mencibir.

Dasar penyu! Pengecut! Sembunyi gih masuk cangkang!

Jo menarik uang lima puluh ribuan dari tangan si tubuh subur dan melemparkan uang dua puluh ribuannya ke tanah. Si tubuh subur dengan takut-takut meraih uang itu dan memasukkannya ke dompet.

Preman kampus itupun berjalan arogan kembali ke tempat tongkrongan DoP sambil terkekeh. Ia sebenarnya tidak butuh uang tambahan, tapi hanya ingin mencoba saja mengompas yuniornya, dan ternyata berhasil. Hal itu membuat Jo tersenyum sendiri. Ada untungnya juga ia bergabung ke DoP sejak masuk kampus ini. Paling tidak itu membuatnya berasa punya power lebih.

Kembali ke tempat tongkrongan DoP, Jo duduk di samping Surya yang bersandar di papan Dilarang Merokok sembari menebarkan asap dari @-Mild. Jo menjumput satu batang dari kotak rokok Surya yang diletakkan di tanah. Ia menyalakan pemantik api dan menyalakan batang penghembus asapnya.

“Jo, sudah denger kabar terbaru belum?”

Hempasan napas Jo diboncengi oleh asap rokok yang keluar dari mulutnya. Pemuda itu menggelengkan kepala. Dia masih asyik menatap pemandangan indah di kantin, melihat Anissa, gadis yang menurut Jo cakepnya kebangetan. Sayang dia sudah punya cowok – kalau tidak salah namanya Dodit. Kenapa sih yang seperti itu sudah laku? Kenapa yang disisain buat jomblo kayak dia malah cowok bertubuh subur tadi?

“Kabarnya Nanto balik lagi ke kota ini.”

UHUG!!

Sambil terbatuk-batuk Jo melepas kacamata hitam yang ia kenakan. Mata sayunya menatap tajam ke arah Surya. Nanto? Balik ke kota? Bukan Nanto yang itu, kan?

“Nanto sek endiAkeh sek jenenge Nanto. Banyak yang namanya Nanto. Yang mana?”

“Nanto yang itu.”

“Nanto dari Cendikia Berbangsa?”

“Iya.”

“Nanto yang dulu kelas 11 kabur ke kampung?”

“Iya. Adik kelasku di CB.”

“Yakin dia balik?”

“Yakin.”

“Siapa yang bilang?”

“Si Alen, anak Sastra. Alen kan dulunya juga di SMA CB, nah kebetulan dia tetangga Tantenya Nanto. Beberapa hari yang lalu dia lihat Nanto tinggal di sana. Denger-denger kabar juga, katanya Nanto daftar masuk ke sini, tapi masuk kelas malam.”

UHUG!! UHUG!!

Sekali lagi Jo terbatuk-batuk. Kali ini ia sampai berdiri dan mencengkeram kerah Surya. “Asli, kalau kamu cuma sebar-sebar hoax soal Nanto, kepalamu aku jadikan pot kembang.”

“Yaelah, Jo. Ngapain juga bohong? Ga ada untungnya! Kampret ah! Dikasih tau malah nyolot!”

Jo melepaskan kerah baju Surya yang bersungut-sungut karena perlakuan si berandal itu. Jo terkekeh sambil melayangkan pikirannya. Senyum aneh mengembang di mulut sang preman kampus. Ah, kenapa tiba-tiba saja bibirnya terasa pahit mendengar nama Nanto?

CUH!

Jo meludah.

Bagus! Ayo datang ke sini, Nyuk. Ayo datang sekarang juga, akan kami beri sambutan yang meriah… sambutan paling mewah yang pernah kau dapatkan seumur hidupmu. Aku akan berdiri paling depan sebagai panitia penyambutan, dan akan aku membalas dendam yang sudah bertahun-tahun aku pendam.

Batin Jo sembari mengelus bekas luka memanjang di jidatnya.

[Bersambung]