Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
Poker Online Domino QQ

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 7

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 7 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 7 Start

7. Bodoh dan pengecut

Aku berdiri dan memakai bajuku. Kulihat dari jendela kamar, Sari sedang berbincang dengan laki-laki tadi. Entah apa yang diomongkan. Satu hal yang aku tahu, aku tadi mendengar Sari memanggil namanya Ivan. Aku pernah diceritakan Sari pacarnya bernama Ivan.

Aku mengambil rokok dan menghisapnya. Baru habis setengah, kulihat Sari berjalan kembali ke kamar dan laki-laki tadi telah pergi dengan mobilnya. Kumatikan rokok, dan berdiri menunggu Sari. Aku tau yang sebenarnya telah terjadi. Aku sadar, aku merusak hubungan mereka. Namun sekilas akupun justru terbayang wajah Wulan. Dia pasti juga akan kecewa dengan apa yang aku lakukan, karena aku sangat tahu Wulan. Sekalipun kita berantem hebat, dia tidak pernah berpaling. Berkali-kali aku mengujinya, Wulan benar-benar memegang komitmennya dengan baik, Wulan benar-benar tulus mencintaiku dan bagi dia kesetiaam adalah kehormatan.

Pintu didorong, Sari masuk ke kamar.

Kulihat dia menangis. Aku mendekat dan memeluknya. Tangisan Sari semakin kencang dipelukanku. Aku usap punggungnya lembut. Aku kecup keningnya, Sari nampak sedikit tenang.

Kami masih tetap berpelukan.

Sampai 15 menit kemudian;

” Mas Adi, Sari sudah putus dengan pacar Sari. Mas Adi memang mungkin orang baru dalam hidup Sari, tapi apa yang sudah Mas Adi lakukan ke Sari, membuat Aku harus mengambil keputusan. Sari ingin mas Adi yang menjadi pendamping Sari. Tidak akan ada lagi ada laki-laki yang mau menerimaku Mas. Aku mohon mas mencoba belajar mencintaiku, harapanku hanya denganmu mas. Sari mohon sekali.

Sari janji akan belajar menyayangi mas Adi…… tulus” ucap Sari sambil terisak.

“Baik Sar, aku akan bertanggung jawab dengan apa yg sudah kulakukan. Aku yang akan mendampingimu sekarang. Aku sayang sama kamu, aku tak perlu belajar tentang itu. Jangan sedih ya” Aku mencoba menghiburnya.

“Aku mohon jangan tinggalkan Sari mas.” Sari kembali terisak.

Kuangkat mukanya, kutatap matanya tajam kemudian aku mengangguk untuk meyakinkannya.

————————————————————–

“Would you leave if I was ready to settle down?

Or would you play it safe and stay….”

Lagu Secret love song mengalun lirih dr audio mobilku. Liriknya mengiris seperti menyindirku.

Kulihat disebelahku Sari duduk sambil melamun. Sari ikut kuajak pulang kerumah setelah kejadian tadi. Aku takut dengan hatinya yang sedang kacau dan ia melakukan sesuatu yang buruk.

“Yuk masuk biar kamu bisa istirahat” kataku sesampai di rumah.

Sari masuk kerumah, dan duduk di sofa ruang tengah. Aku ambilkan minuman, kemudian Aku pergi ke mandi. Sesaat kemudian, Sari pun gantian mandi di rumahku dan berganti baju yang dibawanya.

Kumasakkan dia makanan dengan bahan yang ada di rumah, masih ada beberapa bahan makanan dikulkas yang dibelanjakan bu Slamet pagi tadi. Selesai memasak, kubawakan makanan ke Sari, kusuapi pelan-pelan sambil aku ikut makan karena memang kami belum makan sore ini. Kulihat diluar mulai gelap, hujan rintik mulai turun.

Selesai makan, aku hampiri Sari yang masih duduk di sofa. Kuambil tisue, kuusap bibirnya yang terdapat noda sisa makan. Ku tatap Sari….

“Sari, aku tau kamu saat ini sedang sedih. Tidak ada hal yang membahagiakan dari perpisahan.Aku bisa mengerti. Tapi, lihat aku…” kugenggam kedua tangannya.

“Ada aku sekarang yang akan selalu ada buat kamu. Perpisahan itu pasti Sari, tapi harapan akan selalu ada setelahnya.”

Sari tidak menjawab, hanya mengangguk dan tersenyum kecil.

“Nah gitu dong, senyum. Biar ga hilang cantiknya…” aku mencoba mengajaknya bercanda. Senyum Sari semakin lebar, dia beringsut ke arahku dan memelukku.

“Aku sayang kamu mas, aku yakin akan lebih bahagia denganmu. Jaga aku mas”

Kupeluk dia. Sari nampak manja dalam pelukku. Hujan diluar semakin deras. Kuusap lembut rambutnya, pelukan Sari semakin erat. Aku bisa merasakan betapa inginnya dia kucintai dengan sepenuh hati.

Sesasat kemudian mata kita beradu. Kucium bibir Sari lembut, Sari pun membalasnya. Kita pun akirnya saling berpagutan.

” Smochhh….smocch…smoccch…smochh”

Kugigit bibir Sari lembut, mulutnya terbuka. Ku jilat lidahnya, Sari menjulurkannya. Kuhisap lidah sari sambil ku gigit pelan. Sebentar kemudian kualihkan ciumanku ke lehernya. Sari menggelinjang. Kucium lagi bibirnya

Nafsu telah mengalahkan segalanya.

Entah bagaimana, tanpa sadar kita berdua telah telanjang bulat. Sari menindihku yang terbaring di sofa. Mulut kami masih beradu dengan liar.

” Mas adi…..ahhh…mmmmmm….ohh ahhh…..ahhhhh enak mas.”

Sari metintih saat jilatan lidahku berpindah ke putingnya. Kulihat muka Sari yang cantik, nampak semakin menggemaskan.

Kuremas toket Sari, kumainkan dan ku pilin putingnya. Sari nampak sangat menikmati kali ini.

” Ahhhh…ohhh …..argh…….ahhhh …ah”

Kontolku yang telah berdiri tegak , kubiarkan bergesekan denga paha Sari. Kulit kami yang saling beradu menimbulkan sensai yang luar biasa. Kontol ku kubimbing, pelan kumasukkan ke memek Sari

“BLESSS…”

“ahhh..ouhhh…mas”

Sari merintih.

Masih benar-benar rapat memek Sari walaupun tadi siang sudah kujebol. Kudorong pelan kontolku, hingga semua batang kontolku tenggelam di memeknya. kudiamkan terlebih dahulu.

Aku cium bibir Sari. Dia membalasnya. Sari masih dalam posisi yang sama, tengkurap diatas badanku yang sedang telentang di sofa.

Ku goyangkan kontolku pelan. Kutari ulur didalam memek Sari. Tempo sodokan kontolku makin lama makin kupercepat.

” Ahhhh……..Ahhhhhh…..Ahhhh…Ohhh…Ohh…Ah..Oh….ahhhhhhrghh……”

“Hrrrmmm….ahhh…ah….ohhh…owh…ahh”

Desahan kami bersaut-sautan menahan nikmat.

“Mas, ahhhh…geli mas….ahhh” Mulut Dari terucap.

” Gapapa sayang, jangan ditahan…ohhh…ohhh…nikmati aja…ohh.” aku membalasnya.

“Masssd…ahhh..Ohhhhh….mass…..Aaaaaaaaashhhh……Aaaahh..”

” Sari sayang…..Ohhhh……….ohhhhhj ayooo….ohhh…ohhh.Owhhh!!”

Berbarengan badan kami menegang. Kupeluk Sari kencang, bibir kami berpagutan erat. Kami orgasme bersamaan.

“Croooot…crot….crooooot…croot…crot”

Kusembur benihku ke rahim Sari.

Nikmat menjalar disekujur tubuhku. Nafas kami berdua masih terengah-engah dan masih tetap berpelukan.

Lama kami berpelukan, sampai kemudiam ku gendong Sari ke kamarku dan kurebahkan di ranjang kamarku. Aku rebah disamping Sari. Kupeluk tubuhnya, Sari membalas diusapnya pipiku lembut. Senyum cantik Sari merekah. Kucium bibirnya lembut…

“Love you mas…”

“Love you too, Sari…”

Aku tarik Selimut menutupi kita yang masih telanjang. Sari menyandarkan kepalanya didadaku, sambil terpejam. 10 menit kemudian dengkur lirih terdengar dari bibirnya.

Aku peluk dia.

Aku terdiam, merenungkan apa yang telah terjadi hari ini. Aku telah mengambil perawan Sari, aku telah membuat hubungan Sari dan pacarnya berantakan, aku telah menghianati cinta Wulan dan menjanjikan cintaku kepada Sari tanpa aku yakin bagaimana nanti menjalaninya. Saai itu juga tiba-tiba aku merindukan Wulan, kali ini benar-benar rindu. Ya rindu, bukan sekedar ingat.

Kupandangi photo Wulan denganku yang masih terpasang di dinding kamar.

“Betapa bodohnya aku jika harus melepaskannya, melepaskan Wulan…. Wanita yang begitu baik, setia dan mencintaiku tulus” batinku.

Ditengah diamku, kulihat Sari yang saat ini dipelukanku.

“Betapa pengecutnya diriku jika meninggalkan Sari setelah menghancurkan hubungannya, memerawaninya dan berbohong dengan janjiku ke dia” Hatiku berkecamuk.

Hatiku bimbang.

Lelah dan stress yang kuhadapi membuatku tak sadar hingga kemudian aku ikut terlelap sambil memeluk Sari.

————————–xxxxxxxxx——————–

BERSAMBUNG

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 7 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 7 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 6)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 8)